Cerpen Mini (Cermin), (84) ‘Putri Warisan Tanah Melayu’

oleh -2.045 views

TAN TUALANG membawa putri yang bersamanya dari Batavia ke Limau Sundai, kota rambutan, Binjai. Di Limau Sundai itulah, Tengku Jurung, ayah Tan Tualang bertempat tinggal. Rumah panggung berbahan meranti mengkilap seperti berminyak. Satu-satunya sejarah yang tersisa adalah titi gantung, untuk menuju kota.

Tengku Jurung terkejut saat Tualang memberi salam bergandeng putri nan jelita.
Salam bersambut, Tengku jurung menyambut gembira kedatangan mereka. Mereka duduk di ruang tengah. Emak Tualang menyongsong, lugas Tualang berdiri, memeluk emaknya penuh kerinduan. Sang putri mencium tangan emak Tualang. Lalu mereka duduk berempat, mata emak Tualang mencuri-curi pandang. Putri kikuk, tempat duduk terasa panas. Angin berembus lewat pohon-pohon rambutan di halaman rumah. Ini membantu kegerahan sang putri.

“Engkau dari Batavia atau Tanjung Pinang”, tanya Ayah Tualang. Emaknya bergegas ke dapur menyiap makan siang. Si putri ikut ke dapur membantu emak Tualang. “Usah ke dapur, engkau duduk ajalah di depan”, kata emak Tualang. Si putri tetap saja bersama emak Tualang. Lama sudah ia kehilangan emak, usia 7 tahun emaknya pulang.

“Siapa namamu nak”, tanya si emak.
“Maaf mak, kanda Tualang melarang ananda memberi tahu nama asli ananda. Panggil saja Putri, mak.”
Si emak mengangguk sambil menatap wajah si putri dengan penuh tanya.
“Asal dan orang tua putri siapa”, tanya si emak lagi.
Putri menunduk, dia tak inğin melanggar amanah Tan Tualang. Dengan senyum bak delima merekah, ia menjawab, “Belum tiba masanya, belum tiba waktunya emak. Nanti pada waktu yang tepat, putri akan ceritakan selengkapnya.”

Si emak mulai paham, “ada rahasia yang dalam disimpan anaknya dan si Putri”, si emak bergumam.
,,Mak, semua masakan sudah selesai. Putri angkat ke meja makan ya?.”
“Biar emak angkat, pergilah temui mereka.”
Tak tega si putri membiarkan si emak yang sudah rentà mengangkat hidangan.

Di ruang tengah, Tualang diinterogasi ayahnya tentang keberadaan si Putri.
“Mohon ayah tak menanya nama dan asal usulnya. Dia harus sembuhkan, menghalau ilmu tak sesuai di raganya.
Tengku Jurung mengangguk.

Seusai makan siang, Tualang melesat ke rumah Datuk Panglima Hitam.
Di sana sudah ada Tengku Tora bercakap tentang mimpinya dan mimpi Marissa.

Tualang memberi salam disaut serentak Tora dan Datuk Panglima Hitam. Dengan membungkuk badan dia menyalami keduanya.
Tualang mengambil posisi duduk di tingkap yang terbuka tak bergorden. Angin berembus lembut. Wak Limah tetangga Datuk Panglima menghidang kopi panas dan sepiring goreng pisang raja.

Tiba-tiba Tora bercakap, “kemana engkau titipkan perempuan yang bersamamu tadi. Kulihat sekilas saat kau berada di simpang tugu?”.

Tualang memandang tajam Tora. Mukanya merah padam. “Kau memang intel sejati “, kata Tualang meredam amarahnya, sahabatnya yang selalu menyelamatkannya dari peristiwa yang nyaris mencelakakannya.

Dan ia pun berpantun :
Dari pantai labu ke kebun lada
Singgah sekejap di simpang tugu
Kalau tuan bijaksana
Tak usah kasih tahu aku di sana

Burung dara di bubungan bambu
Bukan hamba cemburu
Sekedar bertanya siapa putri itu
Cantik jelita mempesona kalbu

Akhirnya ketiga lelaki di rumah pangggung itu tergelak.
Teringat masa remaja memadu kasih
Gayung bersambut kata berjawab.

Tora memulai bicara, ” malam ini purnama penuh. Lima purnama Tengku Sita hilang, inilah saatnya kita mencarinya.
Tualang tak bereaksi. Mata Panglima Hitam tajam memandang Tora.
Tualang tertunduk dalam.

Senja sudah ke peraduan. Tiga lelaki itu menuju makam Tengku Ulung Alas. Ketiganya menyimpan rahasia yang sangat dalam. Tualang, Tora tak mengetahui apa yang tersembunyi dari misteri hilangnya Sita.
Tapi Tora mencium apa yang dirahasiakan Tualang dan Panglima hitam.

Ia memainkan siasat hingga mereka berdua terkecoh dengan kecerdikannya, menyingkap Putri Warisan Tanah Melayu (***)

Jkt, 010920,

tsi taura.