Cerpen Mini (Cermin), (83) ‘Putri Waris Tanah Melayu’

oleh -3.258 views

TIGA hari menjelang purnama tiba, Tora sangat gelisah ia dibayangi alm Tengku Ulung Alas. Hal serupa dialami juga oleh Marissa. Sebuah pesan dalam mimpi yang singkat, “Tora diminta hadir di tepi makàm alm Ulung Alas.” Ada rasa khawatir Marissa untuk menyampaikan hal tersebut pada suaminya. Sedang Tora mendapat pesan, “selamatkan Tengku Sita. Lepaskan dia dari belenggu ilmu yang belum mampu masuk ke raganya.”

“Tora tak yakin, orang yang sudah mati beramanah pada orang yang masih hidup.” Dia tak mau terjebak dalam kesyirikan. Tapi ada logika yang mengganggu pikiranya, “selamatkan Sita Maharani.” Hingga kini Sita tak berkabar, jejaknya tak menguap. Orang sesakti Datuk Panglima Hitam pun belum mampu menemukannya.

Marissa akhirnya menceritakan mimpinya pada Tora.
“Apa saran dinda?”, tanya Tora pada istrinya.
“Dinda tak paham kanda, coba sebelum purnama tiba konsultasi dengan datuk Panglima Hitam.
Tora mengangguk dan berkemas menuju simpang kramat, tempat Panglima Hitam menjalani sisa hidupnya.

Sebelum melangkah, Tora teringat warkat-warkat yang ia temukan dalam peti besi kamar semedi alm Tengku Ulung Alas.

Sehelai warkat ia temukan sebuah pesan, “jalan buntu terkuak bulan purnama.”
Warkat itu ia masuk ke tas sandangnya.
Pada Marissa ia berpesan, “bila kanda tak berkabar dalam seminggu, dinda susuli kanda ke Sukaraja.
Marissa mengangguk tapi kecemasan menggayut pikirannya.

Di ruang tunggu pesawat Garuda tujuan Kualanamu, Tan Tualang melihat Tora duduk sambil membaca majalah. Ia segera menyuruh perempuan yang mendampinginya berpencar, “saat boarding upayakan dinda naik pesawat lebih dulu. Lakukan penyamaran hingga tak ada mengenal dinda.”
Perempuan cantik jelita itu mengangguk.

Tan Tualang mendekati Tora dan menyapa ramah, “Hei Tora, hendak ke mana engkau?”
Tora terkejut, setelah tahu, Tora berdiri dan mereka berpelukkan.”
Dan mereka duduk berdampingan.
“Aku hendak bertemu Panglima Hitam. Dan kau?”.
“Sama, aku ingin taubat, membuang segala ilmu kebatinanku. Kita sudah tua, inilah saatnya kembali ke jalan Allah.”

“Aku senang kau bertaubat.”
Pesawat boarding. Duduk mereka berjauhan.
Dan Tora tertidur lelap di sheat dekat jenďela.

“Aku mengenal lelaki itu tapi aku lupa di mana”, kata perempuan yang mendampingi Tualang.
“Oh ya, lupakanlah tentang hal tersebut”, kata Tan Tualang.

Ketika keluar dari pesawat dan berjalan menuju pintu keluar, Tora kehilangan Tualang.
“Kemana dia? Tak pernah dia bersikap begitu padaku, seperti ada yang dirahasiakannya.

(***)

Jkt, 300820,

tsi taura.