Film Animasi “Si Warik”, Praktik Baik Matching Fund Vokasi di Perguruan Tinggi

Si Warik The Movie Ladang Terakhir

JAKARTA – Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim menonton penayangan perdana film animasi karya anak bangsa, “Si Warik The Movie: Ladang Terakhir”. Film Si Warik diproduksi dengan dukungan dana padanan atau matching fund dan menjadi salah satu praktik baik dari program Kampus Merdeka Vokasi. Usai menonton bersama film Si Warik, Mendikbudristek memberikan apresiasinya atas karya kolaborasi mahasiswa, dosen, dan mitra pendidikan vokasi itu. Si Warik merupakan film animasi karya mahasiswa dan dosen Program Studi D-4 Animasi, Universitas Dian Nuswantoro (Udinus), Semarang, dengan Manimonki Studio sebagai mitra industri.

“Cerita back story-nya keren banget. Jadi, ide dan kreativitas mahasiswanya jelas. Ini makanya kita support program Matching Fund dan Kedaireka, yaitu untuk menciptakan karya seperti ini. Ada 20-an mahasiswa di Udinus dan 4 dosen yang terlibat dalam pembuatan film ini. Sebenarnya bujetnya nggak besar, tapi bisa menciptakan film dengan kualitas animasi yang sangat baik. Ini menurut saya adalah suatu pencapaian yang luar biasa,” ujar Mendikbudristek usai menonton Si Warik di sebuah bioskop di Jakarta, Senin (13-2-2023).

Bacaan Lainnya

Mendikbudristek mengatakan, program Kedaireka bertujuan mencetuskan ribuan proyek yang melibatkan mahasiswa perguruan tinggi vokasi. Platform Kedaireka membuka wadah kolaborasi agar proses invensi dan inovasi dapat bergerak lebih cepat ke sebuah produk yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat luas. Dalam merealisasikan sebuah proyek bersama, mahasiswa tidak hanya belajar, melainkan juga mengerjakan suatu karya nyata dan memiliki pengalaman yang menantang, seperti produksi film animasi Si Warik. “Saya berterima kasih kepada Dirjen Pendidikan Vokasi, Kedaireka, Udinus, serta mahasiswa dan dosen yang terlibat. Semuanya luar biasa,” katanya.

Film “Si Warik The Movie: Ladang Terakhir” merupakan film animasi pendek 3D berdurasi 20 menit yang menceritakan tentang kisah petualangan dua sahabat, Warik dan Dian, yang berusaha menyelamatkan ladang terakhir dari gangguan makhluk asap hitam. Film ini diadaptasi dari ikon budaya Semarang, yaitu Warak Ngendog, dan menghadirkan kekayaan budaya lokal khas Semarangan.

Film animasi Si Warik menjadi salah satu praktik baik kolaborasi antara mahasiswa Program Studi (Prodi) D-4 Animasi Udinus dengan Manimonki Studio sebagai mitra industri. Hingga saat ini sudah ada enam episode film animasi yang dihasilkan dengan total dana sebesar Rp359.800.000,00 dari program Matching Fund Vokasi 2022. Film bermuatan lokal yang dikemas dengan format Dolby 5.1 surround sound ini akan ditayangkan di bioskop-bioskop XXI di sejumlah daerah di Indonesia. Film ini sendiri akan dirilis untuk umum pada 15 Februari 2023 di Semarang, Jawa Tengah.

Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Kiki Yuliati, mengatakan bahwa Kemendikbduristek melalui Ditjen Pendidikan Vokasi mendukung transformasi pendidikan vokasi dengan berbagai kebijakan, salah satunya dengan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Vokasi. “Jadi, kami mendorong mahasiswa bersama dosen untuk mengeksplorasi sumber-sumber belajar di luar kampus. Karena dibutuhkan pendanaan, maka kami mendanai dari program Matching Fund untuk mendanai proyek-proyek yang didesain oleh industri bersama perguruan tinggi dan harus melibatkan mahasiswa, salah satunya seperti film animasi Si Warik ini,” ujarnya.

Tidak hanya dukungan pendanaan, lanjut Kiki, Ditjen Pendidikan Vokasi juga meminta perguruan tinggi untuk memberikan 20 SKS kepada mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan Matching Fund dan Kedaireka selama satu semester. Ia berharap seluruh mahasiswa vokasi semakin berani untuk mencoba dan mengekplorasi bakatnya serta berkarya secara produktif. “Tidak masalah berbuat kesalahan atau hasilnya belum sempurna, dengan begitu kita bisa memperbaiki dan menyempurnakan. Saya senang dan bangga dengan keberanian mereka berkarya,” tutur Kiki.

Rektor Udinus, Edi Noersasongko, mengatakan bahwa produksi film animasi “Si Warik” melibatkan 21 mahasiswa Prodi D-4 Animasi Udinus, enam alumni, dan dosen Prodi Animasi sebagai supervisor. Para mahasiswa dilibatkan dalam keseluruhan proses produksi yang meliputi pre-production and 2D animation, production and 3D animation, dan post production. Selain mahasiswa, produksi film animasi ini juga melibatkan tiga orang dari Manimonki Studio sebagai mitra industri. Peran Manimonki Studio adalah melakukan transfer pengetahuan, baik secara teknik maupun pada manajemen produksi yang berstandar industri dan quality control untuk menentukan kelayakan film secara visual.

Sebagai bagian dari program Matching Fund Vokasi, menurut Edi, produksi film animasi ini sangat dirasakan dampaknya terhadap soft skills dan hard skills mahasiswa Udinus yang meningkat signifikan. Mahasiswa mendapatkan pengalaman secara langsung dalam pengembangan intellectual property (IP) dan terlibat dalam produk animasi dengan standar industri. “Studio animasi kami berkembang menjadi bengkel animasi sekaligus sebagai kawah candradimuka dalam mengasah soft skills dan hard skills,” kata Edi. (gardo)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *