Cermin (Cerpen Mini), (94) ‘Tarombo Yang Hilang – 02’

oleh -3.030 views

TORA ketinggalan pesawat ke Tanjung Pinang via Batam. Jalanan macet menuju Bandara akibat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan lagi secara ketat di Jakarta.

Tora nginap di hotel dekat Bandara, Novotel Tangerang. Hotel itu terletak di jalan Jendral Sudirman Tangerang, sekitar tujuh kilo meter dari Bandara Soekarno Hatta. Hotel tersebut menawarkan kolam renang outdoor, restoran dan akses Wi-Fi gratis di seluruh area. Tora memilih rehat di kamar Superior. Semalaman ia tak bisa tidur, gelisah menelangkup raganya. Ia ingin segera mencecahkan kaki ke tanah gurindam.

Ia sangat menyesal turun dari pesawat dari Kualanamu di Bandara tujuan ia lupa mengaktifkan telepone selulernya. Marissa berkali-kali menghubunginya ingin memberitahu bahwa ia dadakan ke Tanjung Pinang.
Berita itu baru diketahui Tora ketika tiba di rumahnya, Bandung. Si teteh asisten rumah tangganya memberitahu keberadaan Marissa.

Bukan hanya Tora saja yang gelisah tapi juga Sri Maharani, Jaksa wanita kelahiran Bohorok yang bertugas di Kejaksaan Tinggi Kepulauan Riau. Sejak sore dia menunggu kabar Tora semua membisu. Ia memutuskan menginap di Novotel Tangerang. Berkali-kali ia menghubungi Tora hanya mesin penjawab panggilan tak terjawab yang ia terima, “nomor yang anda tuju tidak aktif, di luar jangkauan.”

Pukul tiga dinihari Tora memilih shalat tahajud. Ketenangan menjalar batinnya. Dia buka hand-phone-nya. Bermunculan panggilan-panggilan tak berjawab, WhatsApp, satu di antaranya dari Sri Maharani. Selebihnya didominir Marissa.

“Langkah, pertemuan, rejeki dan maut hanya Allah yang tahu kapan tibanya.
“Bang, beberapa menit yang lalu, ayah pergi, sejak kemarin ayah kepingin jumpa abang. Pesannya terakhir, ia ingin dimakamkan di samping makam ayah abang, di kampung simpang kramat”, pesan WA untuk Tora dari Marissa.

Bumi berputar keras yang dirasakan Tora. Ia segera menghubungi istrinya, “Rissa, maafkan abang, abang ketinggalan pesawat, sekarang masih di Jakarta, rencana pagi ini terbang ke Tanjung Pinang.”
Marissa dengan terisak menutur, “semua ketentuan takdir bang, abang tak usah menghukum diri sendiri, nanti abang sakit. Staf-staf abang dulu berdatangan ke rumah duka. Mereka telah membantu kita untuk keberangkatan jenazah ke Kualanamu.”

“Jika demikian, abang langsung terbang ke Medan mengurus pemakaman dan jika cepat selesai abang menunggu di Kualanamu”, kata Tora dengan suara yang serak.

“Ya, bang, dinda nanti ditemani mantan staf-staf abang perempuan dan beberapa laki-laki yang dulu sangat dekat dengan kita.”

Seusai shalat subuh, Tora cabut dari hotel menuju Bandara, mengejar pesawat pagi. Ia menghubungi Tantualang, ternyata Tan Tualang sudah tahu, ia sudah di Bandara Sorkarno Hatta bersama Tengku Sita.
Begitu juga Sri Maharani, ia sudah di ruang tunggu bandara.

Segala sesuatunya, Tan Tualang sudah diurusnya. Mereka, Tora, Tualang, Sita dan Sri berangkat barengan ke Kualanamu.

Pemakaman juga sudah dibereskan Tualang dengan menggerakkan teman-temannya di kampung Simpang Kramat.
Tora terharu, begitu hebatnya tali-temali persahabatan mereka. Kearifan lokal yang kental masih melekat di diri mereka masing-masing.
Mat Kilau yang kebetulan masih di Medan turut bahu-membahu. Tan Bima dan Sonya bersama ibunya di Tanjung Pinang.

Bahkan Raka Perdana turut tangan mengurus pemakaman. Semula dia ragu, takut kalau-kalau Tualang mengamuk.
Tapi ia kemudian ia berbaik sangka, ia turut menggali makam dan mengurus tenda-tenda di rumah orang tua Tora. Mempersiapkan segala sesuatu menunai fardu kifayah.

Personil-personil dari Kejaksaan di Sumut juga tahu dan mereka juga turun tangan memberikan bantuan yang bisa diberikan untuk pengurusan jenazah di bandara Kualanamu.

Pukul 11.30 Wib, jenazah tiba di Bandara Kualanamu. Marissa menuruni anak tangga pesawat bergaun duka putih-putih bersama Sonya. Mereka bagai pinang dibelah dua. Diikuti perempuan-perempuan mantan staf Tora ketika bertugas di Tanjung Pinang, juga bergaun putih-putih dengan hijab hitam.

Tora, Tualang, Mat Kilau dan beberapa orang keluarga lainnya menyambut Marissa dan Rombongan.
Sita mengejar Marissa, memeluk erat menumpah air mata. Ia mendamping sebelah kiri Marissa dan Sonya sebelah kanan. Keharuan Marissa disambut sanak keluarga membuat ia lemas dan pingsan. Tualang segera turun tangan, sekali sembur dengan mantra yang ia miliki, Marissa siuman.

Jenazah diangkut ke mobil ambulans dengan protokol kesehatan.
“Tarombo yang hilang”, Tengku Sita bergumam. (***)

Medan, 120920,

tsi taura.