Cermin (Cerpen Mini), (95) ‘Tarombo Yang Hilang – 03’

oleh -2.047 views

TENGKU Sita dan Sonya terus mengapit Marissa hingga ke pemakaman.
Jenazah alm ayah Marissa dari Bandara langsung dibawa ke pemakaman karena hanya fardu kifayah terakhir yang belum dilaksanakan keluarga, yaitu pemakaman.

Jalan bertanah yang kering kerontang, kiri kan jalan berdiri gagah pohon-pohon tua yang berdaun lebat. Di belakang pohon-pohon tersebut mengalir sungai yang keruh dan kotor. Bau limbah menyengat hidung. Memasuki area pemakaman, berderet pohon-pohon kenanga dan melati yang menyegar hidung. Teduh, damai dan bersih. Makam-makan berbatu tersusun rapi, tak kelihat sebercak lumut pun.

Raka Perdana lebih dahulu berdiri di dalam lubang lahat, disusul Mat Kilau, Mat Litak, Tan Bima, dan seorang penduduk kampung yang biasa melakukannya.

Jenazah sudah di timbun tanah. Tak ada yang meratap, keluarganya pasrah atas ketentuan Allah. Dari Allah kembali kepada Allah. Pembacaan talkin dimulai, dilakukan oleh Tengku Jurung, ayahanda Tan Tualang.

Saat para pengantar kubur mulai berbalik kanan, Tengku Sita mengitari areal makam. Ia berziarah pada nama-nama yang tertulis di nisan yang ia kenal.

Tengku Sita terperanjat, kaget yang luar biasa, saat ia membaca salah satu batu nisan, makam yang kelihatan baru. Kagetnya meninggi, jeritan spontan meluncur dari mulutnya. Jeritan itu terdengar banyak orang yang belum beranjak pulang.

Tan Tualang, Tora, Mat Kilau, datuk Panglima Hitam saling berpandangan, seakan mereka tahu apa yang menyebabkan Sita menjerit.

“Apa yang harus kita lakukan Datuk”, tanya Mat Kilau pada Panglima Hitam.
Ia diam sejenak dan bertutur, gawat Sita pingsan.”

Baru sedetik Panglima Hitam bertutur, beberapa anggota masyarakat membopong Sita ke Mobil. Tualang menyusul, memindahkan bopongan ke tangannya. Tersebar kabar, Sita keteguran arwah. Berita ini menenangkan batin Mat Kilau.

“Datuk, atasi dulu Sita jangan sempat kerasukkan makhlus halus”, kata Kilau pada Datuk Panglima Hitam.
Panglima Hitam tersenyum tipis dan berkata, “Kilau, usah gaduh kali hatimu, Tualang mampu mengatasinya.”

Sekarang ajak semua yang masih ada di sini kembali ke rumah masing-masing, kita ngumpul di rumah Tora.”
Kilau segera melaksanakan perintah Panglima hitam.
Sekejap saja makam sunyi, kecuali juru kunci dan penggali kubur.
Tora menghampiri juru kunci dan penggali kubur, menyerahkan uang lelah mereka. Mereka sangat terkejut, belasan tahun mengawal areal makam ini tak pernah mendapat imbalan sebesar petang ini.

Juru kunci berbisik pada penggali kubur, “siapa orang itu?”
“Ia putra almarhum tengku Idris yang royal itu, menurun kepada anaknya. “
Juru kunci mengejar Tora yang lagi berjalan ke luar makam, “Tengku maafkan saya, lupa pada Tengku. Usahlah kami dibagi uang begini banyak, ayah tengku dulu selalu membantu kami”.

Tora tersenyum sambil mencium tangan juru kunci
“Jangan menolak rejeki yah”, Tora pun melangkah jauh.
Juru kunci terpelongo memandang Tora hilang di tikungan jalan.

Di ruang tengah, kamar tamu rumah Tora, Sita dibaringkan. Ia meracau-meracau yang sukar didengar jelas apa yang dikatakannya bagi orang awam.

Datuk Panglima Hitam didampingi Sonya masuk ke kamar itu. Panglima Hitam menyemburkan air yang sudah didoakan ke muka Sita.

Sita membuka mata pelan-pelan, keringatnya mencucur di dahi. Bajunya basah keringat. Dia seperti terjaga dari tudur yang panjang.
Dia bangkit perlahan-lahan. Ketika ingatannya pulih, ia merangkul erat datuk Panglima Hitam.

Haru sekali pemandangan itu. Sonya menetes air mata.
Sita menutur lembut, datuk ijinkan ananda bertanya satu hal untuk menguak banyak hal.”

Azan pun berkumandang, datuk Panglima membelai rambutnya dan menghibur, “simpanlah tanya nanda sampai esok. Mari kita shalat dulu.” (***)

Binjai, 130920,

tsi taura.