Cerpen Tiga Paragraf (Pentigraf) (51) ‘Tragedi Pelaut’

oleh -1.147 views

JAKARTA kembali menggeliat setelah sekian lama terlelap dilantak covid-19. Penerapan status Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi, new normal mulai diberlakukan. Jalan-jalan mulai macet. Ojek online mulai menyemut, diijinkan membawa penumpang dengan syarat mematuhi protokol kesehatan. Tan Tualang dengan menumpang taksi langsung menuju Kemang Timur, rumah kediaman Chadijah. Hampir dua jam di perjalanan, dengan curahan hujan yang lebat, menjelang waktu ashar Tan Tualang tiba di depan mesjid bersebelahan jalan lokasi rumah Chadijah. Dia memasuki mesjid menunaikan shalat fardu ashar. Kehilangan dan terkucil dari masyarakat adat merubah jalan hidup Tan Tualang. Suntikan lembut wak Lela untuk kembali ke jalan yang lurus membuat Tan Tualang berubah total. Wak Lela, yang biasa disapa dengan nama kekerabatan melayu, namanya lebih kesohor dengan sebutan wak Alang, anak ketiga dari sembilan orang bersaudara. Begitu pula dia menyapa Tan Tualang dengan sebutan Alang, singkatan dari Tualang. Tualang anak tertua dalam keluarganya. Orang tuanya menyebutnya Sulong. Sulong itu sebutan untuk anak yang tertua. Seusai shalat ashar Tora menuju rumah Chadijah, Tiba di depan rumah, Tan Tualang berteriak memanggil Chadijah. Pagar rumahnya tertutup rapat. Suara teriakan Tualang mengganggu telinga tetangga sebelahnya, Haji Ulok. Dengan ramah Haji Ulok menjelaskan rumah itu sudah sebulan kosong. Tualang spaning. Pak Haji Ulok tak tahu kemana perginya si pemilik rumah. “Mungkin ada hal lain yang bisa saya bantu?”, kata Haji Ulok. Tualang mengangguk. Pak Haji mengajak Tualang singgah ke rumahnya. Tualang berterima kasih atas kemurahan hati pak Haji Ulok.

BACA JUGA BOS:   Cerita Mini (Cermin), (19) 'Eksekutor Dari Tanah Melayu'

Haji Ulok bertutur, Chadijah orangnya tertutup. Di rumah dia hanya bersama seorang gadis kecil bernama Lala. Berdesir jantung Tualang mendengar nama Lala keluar dari mulut Haji Ulok. “Berarti yang menubrukku tadi pagi di Kualanamu adalah Sri Kemala, putri kami bersama Halimah. Halimah semula bernama Habibah karena sakit-sakit namanya diganti menjadi Halimah, berwajah teduh, bola mata yang berbinar dan berlesung pipit”, Tualang bicara pada dirinya sendiri. Haji Ulok menyambung cakap yang terputus. Setahun yang lalu, Lala gadis kecil yang bijak, manis dan ramah saya lihat dibawa seorang perempuan yang tak saya kenal. Sejak itu Lala tak pernah kelihatan lagi hingga Chadijah menghilang. Seminggu yang lalu, Chadijah menelpon Haji Ulok untuk mencari pembeli rumahnya.
Tualang cepat memotong cakap Haji Ulok, “bisa saya tahu nomor telepon Chadijah, pak Haji?”
Haji Ulok memandang penuh selidik siapa sebenarnya lelaki ini?. Tualang menangkap sinyal kecurigaan Haji Ulok.

Tualang dengan tenang bercerita tentang Lala, tentang istrinya yang meninggal dunia akbat virus covid-19, Haji Ulok terharu, berjanji membantu Tualang. Dia menyarankan Tualang jangan menghubungi Chadijah. “Biar saya nanti menjebaknya untuk datang kemari. Akan saya katakan sudah ada yang berminat membeli rumahnya. Si calon pembeli ingin jumpa dengan pemiliknya”, kata Haji Ulok menggurui Tualang. Tualang seperti Kerbau dicucuk hidung, menurut saja apa yang disiasati Haji Ulok. Tualang ditawari untuk sementara menginap di rumahnya. Besok kita mulai permainan, dik Tualang. Jangan menolak tawaran saya kata Haji Ulok selanjutnya,
Tualang bergumam, “di kota yang kejam ini masih ditemukan Nurani yang bening. (***)

BACA JUGA BOS:   Mesin Jahit Ibu

Binjai, Juni 2020
Tsi taura