Cerpen Tiga Paragraf (Pentigraf) (50) ‘Meretas Jalan Sunyi’

oleh -1.170 views

HAMPIR seminggu Tan Tualang berada di rumah Wak Lela. Bayangan Habibah mengembara panjang. Dia berkurung seharian di kamar. Meratap sunyi. Dia menyesal meninggalkan istri yang dia nikahinya atas perembukan keluarga. Kawin dijodohkan. Tan Tualang anak yang patuh pada orang. Tak pernah dia membantah ayah-emaknya. Begitu pula almh Habibah, istrinya. Adat yang begitu keras tak mampu mereka lawan. Pada adat melayu berlaku filosofi : “Membantah orang tua, hidup kemudian hari kalau tak patah jingkat.” Biar begitu mereka cepat beradaptasi, terpancar cinta kasih keduanya. Pesta pernikahan mereka sangat meriah, dihiasi adat-adat melayu yang mulai memudar. Antara lain dilakukan mandi berdimbar, salah satu prosesi perkawinan yang dilakukan di halaman rumah. Biasanya diiringi pantun-pantun berisikan nasihat untuk dua pengantin.

Tak lama mereka menikah, Tan Tualang menerima tawaran temannya, Andi Bone bekerja di laut. Sejak itulah dia menjadi anggota Andi Bone melakukan perompakan di laut. Sebulan sekali dia kembali ke Stabat, Langkat menemui istri dan Sri Kemala yang masih merah. Tan Tualang menggantikan Andi Bone yang mati tertembak di laut Kepulauan Riau, menjadi pimpinan bajak laut Singa Lapar. Belakangan hampir lima tahun tak pulang. Lebaran bulan lalu, dia berniat pulang. Covid-19 mewabah dunia. Larangan pulang mudik menghalangi langkahnya. Saat mulai diterapkan Pembatasan Sosil Berskala Besar (PSBB) Transisi, dia menyelinap pulang.
Lamunan Tan Tualang buyar saat Wak Alang menggedor pintu kamarnya mengajak makan siang.

Matahari belum setinggi penggalah, langit mendung, hujan pun merintik. Dalam suasana demikian, Tan Tualang mohon ijin pada Wak Alang berangkat ke Jakarta. “Wak, ijinkan patik mencari Sri Kemala, buah hati kami satu-satunya.” Wak Alang tak mencegahnya. Dia sangat tahu karakter Tan Tualang, kalau sudah dikatakannya, dia takkan pernah surut ke belakang. Kecuali yang bercakap itu ayah dan emaknya. Tualang menitip uang yang begitu banyak untuk biaya hidup Wak Alang dan merenovasi rumahnya bernuansa melayu. Seorang anak perempuan bertaucang dua berlari-lari di ruang tunggu keberangkatan Bandara Kualanamu, menubruk tubuhnya dan terjatuh. Tan Tualang mengangkat tubuh anak manis tersebut. Seorang perempuan muda datang memohon maaf pada Tualang. Sepertinya perempuan itu kehilangan anak kecil tersebut. Tualang tersenyum dan berlalu ke ruangan area smoking. “Lala kemana saja?, ibu ke sana kemari mencarimu”, kata ibu Lala bernama Chairunisa. Lala hanya tersenyum, dia mengajak ibunya mencari lelaki yang menubruknya tadi. Gagal, pesawat boarding, bergerak mundur meninggalkan landasan. Di pesawat Tualang tertidur pulas. Bermimpi di pagi hari, Lala itu, Sri Kemala. “Benarkah itu putriku?”, Tualang bergumam. Dia Lupa meminta foto terakhir Sri Kemala pada Wak Alang. Dia hanya berharap Chadijah menyerahkan Sri Kemala padanya.
Jam 13.05 pesawat Batik Air yang ditumpanginya mendarat di Cengkareng. Di pintu keluar Tualang bermata liar, mencari perempuan kecil bernama Lala. Putih matanya, yang dicari tak terlihat.
Dia pun berputar kota Jakarta, mencari rumah Chadijah. (***)


Binjai, Juni 2020
Tsi taura