Cerpen Tiga Paragraf (Pentigraf) (49)’Jalan Sunyi Seorang Petualang’

oleh -1.227 views

COVID-19 semakin menunjukkan taringnya. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi belum seminggu diterapkan. Dunia malam mulai bergeliat. Pelacur-pelacur menampang dalam aquarium yang kering. Mal-mal membuka pintu dengan menerapkan protokol kesehatan . Wisma atlet belum juga sunyi, korban-korban yang terjangkit Covid-19 belum jua melandai. Tan Tualang seperti elang patah sayap. Dia pulang dari laut yang ganas. Dia merupakan pimpinan perompak laut yang sangat disegani kawan dan lawan. Lewat pelabuhan Kuala Langsa, Aceh, dia menuju kampung halamannya, Stabat- Langkat. Lewat tengah malam di bawah curahan hujan dia tiba di rumahnya, Rumah yang tak berlampu, seperti tak berpenghuni. Dia mengetuk pintu berkali-kali yang terdengar hanya suara ketukan. Di dobraknya pintu belakang, menerobos masuk dengan menghidup lampu listrik yang tersisa di ruang tengah. Pikirannya berkecamuk, “apa yang terjadi pada keluargaku?”, Tan Tualang bergumam.

Hampir lima kali lebaran Tan Tualang tak pulang ke rumah kayu berarsitektur melayu tersebut tapi kabar tak pernah lupa dia embuskan. Kabar yang tak pernah direspon oleh Halimah, istrinya. Malam itu dia bermaksud membuat kejutan, pulang tak memberi kabar Halimah. Rumah itu penuh debu, berjanggut jaring laba-laba. Rumah kosong melompong, tersisa sebuah katil tua di sudut jendela ruang tengah. Dia keluar menuju mesjid di tepian sungai kecil. Dia meletakkan raganya di situ. Azan subuh dia tersentak. Dia bertanya pada setiap orang yang tiba untuk melaksanakan shalat subuh berjemaah. Tak seorangpun yang tahu keberadaan istri dan putri tunggalnya, Sri Kemala. Dia tak menyentuh sajadah, melangkah ke arah rumahnya lagi. Tan Tualang bertampang bengis, berjambang, berjanggut berkumis tebal, mengetuk pintu rumah Wak Lela, tetangganya. Wak Lela masih hafal wajah Tan Tualang. “Kapan kau datang Alang”, tanya Wak Lela. Tan Tualang menutur urutan perjalanannya.
Sebelum Tan Tualang bertanya tentang keluarganya, wak Lela meratap menyampaikan berita tentang keluarganya.
“Si Halimah dah pulang, Lang. Kata dokter dia kena virus yang lagi mengganas itu. Anakmu dibawa seorang perempuan tanah seberang, dia berjanji merawat anakmu. Katanya, dia mengenalmu. Dia mengaku bernama Chadijah. Sekejap wak ambilkan fotonya. Terkesiap Tan Tualang. Perempuan itu sangat dikenalnya secara mendalam.

Tan Tualang bergegas ke makam istrinya. Wak Lela mendampinginya. Keharuannya tak terbendung. Lama sekali dia tak menangis. Hujan menguyup raganya. “Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna”, Tan Tualang teringat petuah atoknya.
“Alang, ayok kita pulang, hujan semakin lebat, nanti kau sakit. Tan Tualang mengikuti Wak Lela ke rumahnya. Wak Lela menyiapkan sarapan pagi. Tualang terlelap di katil Kayu. Dia mengingau panjang menyebut-nyebut Halimah. Wak Lela mengguncang-guncang tubuhnya. Tualang terbangun. Wak Lela menyuruhnya shalat zuhur. Itulah pertama kali dia menyentuh sajadah, setelah sekian belasan tahu raganya tak tersentuh air wudu.
Wak Lela tersenyum memeluk haru tetangganya itu.
“Alang mulailah hidup baru, Allah masih sayang padamu. Allah pasti akan menguji umatnya sebatas kemampuan kita.”
Tan Tualang mengangguk, bayangan Sri Kemala, putri tunggalnya mulai menyapanya. Jalan semakin sunyi.
“Sabarlah, nak, ayah akan menjemputmu sebelum senja terakhir tiba”, Tualang bergumam berbalut rindu yang tak terbendung dalam kilas balik ingatan terakhir dia menggendong Sri Kemala. (***)


Binjai, Juni 2020
Tsi taura