Cerpen Tiga Paragraf (Pentigraf) (43) ‘Bunga Di Tepi Jalan’

oleh -1.286 views

JAKARTA telah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Transisi. Lalu lintas mulai semrawut, mal-mal dibuka, Spa dan panti pijat mulai menjalani kehidupan yang telah lama terkubur. Dan yang terpapar covid-19 belum juga melandai, tiap hari bertambah ribuan orang. Turun sekejap, melonjak lagi. Seperti melihat papan pertandingan, posisi klasemen sementara. Atok yang mengumumkan setiap hari statistik covid-19 semakin ringkih. Dia mulai jenuh menyiar cara mengatasi covid-19. Hanya mampu dengan suara parau berbicara, “pakai masker dan cuci tangan”. Harusnya atok itu disuruh rehat dengan menampilkan
gadis belia seperti di arena tinju, ronde per ronde tak lepas mata memandang.
Seusai magrib si Bedogol mengelilingi Monas. Diperli bunga di tepi jalan. Hatinya berdegup.
“Alaaamaak cantiknya bunga itu”, dia bergumam. Diajaknya ngobrol cewek bernama Rosa. Mereka berkeliling Monas, berjalan rapat. Rosa memakai masker berwarna pink, bergaun pas dengan postur tubuh. Makin mempesona mata si Bedogol. Renjananya mulai tak terkontrol. Sayangnya Rosa tak bicara, hanya menggeleng dan mengangguk. Dia memberi isyarat dia seorang tunawicara.

Bedogol tak kehilangan akal, Bedogol dengan bahasa isyarat berhasil membujuk Rosa berkeliling Jakarta. Mereka dengan taksi check-in hotel di seputar Jakarta Selatan. Hotel yang lumayan bagus menambah gairah Bedogol. Sepertinya dia sudah tak sabar lagi bulan di atas katil. Rosa matanya berbinar tak melepas maskernya. Hati Bedogol berbunga-bunga ketika naik lift menuju kamar yang dibooking-nya.
Rosa bukan gampangan, dia mengulur-ulur waktu untuk kencan. Bedogol semakin penasaran. Rosa mengambil kertas dan menulis, “sabar ya bang, aku lagi bulan merah. Besok juga bulan padam, bang. Bedogol seperti lampu teplok kehabisan minyak. Untuk tidak mengecewakan Bedegol, Rosa mendekap Bedogol, mencumbuinya hingga Bedogol tertidur lelap.

Mata hari sudah tinggi, waktu Bedogol terbangun. Dia terkejut Rosa sudah tak di sisinya lagi. Tas sandangnya tak kelihatan. Bedogol kalut, uang puluhan juta di tasnya itu. Kemarin dia mendapat kirim dari ayahnya di kampung. Uang itu untuk uang muka membeli mobil buat kenderaan Bedogol di Jakarta.
Di meja, dia menemukan secarik kertas bertuliskan, “Terima kasih ya bang, maaf aku tak sempat pamit pada abang. Semoga kita tak bertemu lagi. Tapi aku tetap mengingat abang. Abang tak usah terkejut, kita hanya berbagi rejeki.”
Dari : Rosa, kalau malam hari. Rosakim, kalau siang hari.
Bedogol tertunduk lemas, apa mau dikata, nasi telah menjadi bubur.
“Loyang, bukanlah emas. Cilakak aku tertipu Waria”, Bedogol bicara pada dirinya sendiri.
Bedogol dihimpit penyesalan yang dalam, “sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna”, Bedogol bergumam. Di luar, hujan turun dengan deras. Petir memekik. Bedogol berjalan di emperan toko mengayun langkah yang ragu. (***)
Bdg, Juni 2020
Tsi taura