Menelusuri Jejak Peradaban Gua Purbakala Liangkabori

oleh -76 views

Oleh: Dedi Aman Syarfa Naba*

DI USIA 107 tahun purbakala, jejak yang dimulai 14 Juni 1913 hingga 14 Juni 2020, tentu saja bukanlah perjalanan yang mudah dalam sejarah perjalanan panjang kepurbakalaan di Indonesia.

Dibutuhkan refleksi dan tentu saja apresiasi yang mendalam atas dedikasih kerja kepurbakalaan yang bertujuan menggali dan melihat secara jernih nilai-nilai penting bangsa ini di masa lalu dan dapat memberi manfaat untuk masa depan.

Dalam Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1992 Tentang Benda Cagar Budaya, tentunya selalu memberikan semangat dan menjadi benteng yang kuat bagi lembaga kepurbakalaan dalam menjalankan tugasnya.

Pemahaman itu diharapkan dapat membangkitkan kesadaran, sikap, dan tindakan partisipasi dalam upaya pelestarian cagar budaya bangsa secara dinamis sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang RI No. 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya dan Undang- Undang No. 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Di pulau Muna salah satunya terdapat tempat bersejarah yang memiliki kawasan situs peninggalan gua purbakala, yaitu kawasan situs Gua Liangkabori yang terletak di Desa Liangkabori, Dusun 2, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara.

Dan perlu diketahui, situs prasejarah Liangkabori ini telah masuk dalam kawasan perlindungan Kementrian Pendidikan Dan Kebudayaan Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Selatan (Wilayah kerja Provinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat).

Kawasan situs Gua Liangkabori menjadi bukti sejarah kehidupan peradaban suku Muna pada zaman prasejarah. Sejumlah ornamen berupa lukisan stalaktit dan stalakmit membentuk tiang batu menghiasi ruang tamu gua seakan menyajikan petualangan lorong waktu ke zaman purba.

Sebelum melangkah memasuki situs gua Liangkabori kita akan menemui gua pertama yaitu gua Metanduno, dinamakan gua Metanduno sebab didalam gua terdapat banyak lukisan hewan bertanduk. Setelah menikmati keindahan gua Metanduno kita dapat melangkah melewati anak tangga yang jaraknya tak jauh untuk menuju ke gua berikutnya yaitu gua Liangkabori.

Liangkabori memiliki arti yaitu gua bertulis, dikatakan gua bertulis sebab didalam dinding gua terdapat banyak lukisan hewan bertanduk dan lukisan orang yang sedang berlayar.

Lukisan-lukisan yang terdapat didalam kawasan situs gua liangkabori tahan lama dan usia lukisan sudah sangat tua. Goresan lukisan terbuat dari tanah liat, darah hewan, lemak hewan dan getah pohon. Dari sumber lukisan ini menggambarkan kreatifitas kehidupan penghuni gua tersebut.

Gua ini pertama kali diteliti oleh seorang sejarawan bernama Kosasih S.A. pada tahun 1977. Kemudian dikembangkan oleh La Hada pada tahun 1984. Seiring berjalannya waktu, gua-gua tersebut menjadi sumber belajar kepurbakalaan beberapa kampus di Indonesia salah satunya Mahasiswa Jurusan Arkeologi Universitas Halu Oleo Kendari dan Mahasiswa Jurusan arkeologi UI Jakarta, mereka melakukan penelitian soal lukisan-lukisan di dinding gua.

Dari berbagai aneka lukisan tersebut tergambar cara hidup masyarakat suku Muna pada masa lalu, mulai dari cara bercocok tanam, berternak, berburu, beradaptasi dengan lingkungan, dan berperang untuk mempertahankan diri dari serangan musuh.

Sejak tahun 1977 hingga saat ini sudah banyak peneliti lokal maupun mancanegara yang telah berkunjung dikawasan situs purbakala Liangkabori.

Di kawasan situs prasejarah liangkabori terdapat pula gua Sugi Patani yang dimana didalam gua tersebut terdapat lukisan layang-layang yang menjadi bukti bahwa layang-layang tertua terdapat di pulau Muna, layang-layang ini dikenal dalam bahasa daerah Muna dengan sebutan “Kaghati Kolope” yang memiliki arti layangan yang terbuat dari daun kolope/ubi hutan.

Lukisan layang-layang digua Sugi Patani diteliti oleh peneliti asal Jerman, bernama Wolfgang Bieck, seorang pencinta layang-layang, berkunjung ke Indonesia pada tahun 1997. Ia mendapatkan info bahwa terdapat lukisan di sebuah gua di Pulau Muna. Setelah bertahun-tahun penelitian, dipercaya bahwa lukisan layang-layang di Muna tersebut telah ada sejak era Epi-paleolitik (periode Mesolitikum), atau sekitar 9.000-9.500 SM. Wolfgang kemudian mendeklarasikan bahwa layang-layang di gua yang ada di Muna merupakan layang-layang pertama yang pernah diterbangkan oleh manusia. Kemudian ia merilis sebuah artikel berjudul ”The First Kiteman” di sebuah majalah Jerman tahun 2003.

Berkat jejak peningggalan prasejarah ini Liangkabori berhasil meraih penghargaan sebagai situs sejarah terpopuler dalam ajang Anugrah Pesona Indonesia. (***)

*(Ketua Forum Pemuda Pemerhati Kebudayaan Wuna/FPPKW)