Cerpen Tiga Paragraf (Pentigraf) (42) ‘Tan Husein’

oleh -1.123 views

LELAKI itu selalu mangkal di seputar Asia Afrika dan Braga, kota seni tanah Pasundan, Bandung. Dia mencintai seni, khususnya sastra sejak di Sekolah Menengah Pertama, kota kelahirannya Medan. Beberapa antologi puisi telah menetas dari imajinasinya. Buku-buku tersebut dijualnya dengan harga seikhlas hati peminatnya. Ada saja yang membantu untuk mencetak dan menerbitkan buku-bukunya. Namanya Tan Husein, konon itu nama Raja kecil yang mendirikan Kejuruan Bohorok di Kabupaten Langkat. Untuk mengenang pendiri Kejuruan tersebut, ayahnya memberikan nama Tan Husein untuk putera keduanya. Biasanya tiap bulan minimal dua kali dia pulang ke kampungnya, Simpang Kramat, Tanah Seribu Kota Madya Binjai, menetas hobbinya membaca puisi. Tapi sejak Covid-19 meradang dia tak pulang-pulang dan tak kelihatan nongkrong di Asia Afrika sekitarnya. Dia memilih mematuhi ajakan pemerintah untuk tak keluar rumah, kecuali ada keperluan penting mengharuskan dia keluar rumah.

Covid-19 memang menakutkan, memakan korban dari semua lapisan masyarakat, tak peduli apakah dia pejabat atau penarik ojek online. Dia tidak saja merusak kesehatan tapi juga memporak-perandakan perekonomian negara-negara adikuasa, melumpuhkan negara-negara berkembang. PHK terjadi hampir di semua sektor swasta. Usaha-usaha kecil gulung tikar. Perintah berkurung di rumah menambah penderitaan rakyat kecil yang kesehariannya bergantung nasib di pasar. Para seniman terpuruk karena giat mereka tergantung di pentas. Larangan berkumpul lebih dari lima orang membuat seniman mati gairah. Tan Husein terpanggil hatinya membantu sekedarnya para seniman dan masyarakat tak mampu di kampung. Salah satu penerima bantuan itu seorang mahasiswi yang harus bercerai dengan suaminya yang selalu melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Dengan seorang anak balita dia membanting tulang, menjadi pencuci piring di sebuah rumah makan. Kuliahnya tersendat, itu informasi yang diterima Tan Husein. Dengan ikhlas Tan Husein membantu Rukiyah, simahasiswi itu. Ternyata, Rukiah berbohong, uang bantuan kuliah tersebut tak digunakan sebagaimana mestinya. Tan Husein Husein sempat emosi ingin mencari perempuan itu. Dia bersabar dengan istigfar. “Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya”, Tan Husein bicara pada dirinya sendiri. “Aku tidak sedih kau menipuku, tapi aku sedih tak percaya lagi padamu”, kata Tan Husein pada orang yang memberikan rekomendasi untuk membantu Rukiyah.

Tak lama berselang Tan Husein mendapat informasi, Rukiyah bekerja di Salon kecantikan di seputar Asia Afrika, Bandung. Tan Husein menghubungi Tora untuk membantunya mencari Rukiyah. Tora mencoba menyabari Tan Husein, “belum teruji kesabaran seseorang jika dalam hidupnya belum pernah ditipu oleh orang yang dipercayainya. Tan Husein mengangguk, mereka berpelukan dan tertawa di pinggir selokan yang kering. Dan mereka menelusuri lorong-lorong kerinduan, tempat dulu mengembara, menemukan cinta kasih.
“Memaafkan lebih mulia dari dimaafkan”, Tan Husein bergumam.
Matahari pun terbenam bersama suara azan yang meneduh sukma. (***)


Bandung, April 2020
Tsi Taura