Cerpen Tiga Paragraf (Pentigraf) (38) ‘Duka Kampung Nestapa Kota’

oleh -2.288 views

Farouk Rimba meragukan keterangan Lydia hanya mengaku meletakkan bayi di teras mesjid. Dan membantah, bayi itu bukan bayinya. Farouk melacak mantan suami Lidya. Dari seorang kawan, Farouk menemukan, Amir mantan suami Lidya berjualan buku-buku bekas di depan stasiun besar kereta api. Di areal lapangan merdeka Medan. Dengan membeli beberapa buku bekas, Farouk memperoleh informasi dari Amir.
Tidak benar Lidya menemukan bayi di depan rumahnya. Amir menikahi Lidya karena dibayar orang tua Lidya, saat itu Lidya hamil tua. Setelah melahirkan mereka menikah menutup aib keluarga Lidya. Dan ketika usia bayi itu dua bulan Lidya berkata bayi itu diserahkannya pada teman SMA nya. Farouk tertegun. Semua pembicaraannya dengan Amir dia rekam.

Farouk mantan preman blok M Jakarta Selatan itu mencari lelaki yang menghamili Lidya. Informasi A1 lelaki tersebut bernama Ruslan, anak Siantar tewas diberondong peluru karena melakukan perampokan toko emas di kampung keling Medan. Sasaran berikutnya Farouk berniat menjebak Lidya. Farouk gagal lagi, Lidya sudah tak bisa dihubungi lewat telepon selularnya. Farouk bicara pada dirinya sendiri, “Sungguh malang nasibmu Zahra Sofia, duka di kampung nestapa di kota. Demi kebahagiaanmu, aku akan mencari ibumu sampai nyawaku terhenti.

Farouk menuju Bandara Kualanamu, ke Jakarta menguber Lidya. Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Bandara sepi, tak ada pesawat yang beroperasi ke Jakarta. Larangan mudik diterapkan secara tegas untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di ibu kota diberlakukan secara ketat pula. Farouk kembali ke penginapannya, Hotel Aston. Di lobi hotel dia bertemu sahabat lamanya, dokter Iskandar. Dokter itu duduk dengan pandangan kosong, muka kusut. “Hey, Iskandar apa kabar? Kok muram begitu mukamu”, sapa Farouk. Mereka bersalaman menuju restoran hotel. Di situ mereka melepas kangen, lama tak bertemu. Iskandar menutur istrinya kemarin meninggal mendadak. Sebelumnya dia beramanah agar aku turut membantunya menemukan seorang perempuan. 17 tahun yang lalu perempuan itu masih bayi dititipkan di mesjid tempat kita mengaji dulu. Farouk nanar. Seakan batu besar menghantam kepalanya. Dia semakin pusing saat Iskandar menyebut nama Lidya dan menunjukkan fotonya. Pelan-pelan dia beristigfar hingga dia tenang kembali. Dia lalu pamit istirahat dan menyalami Iskandar, “dalam hitungan detikpun kita tak tahu apa yang bakal terjadi”, kata Farouk. Iskandar tertegun mencerna ucapan sahabatnya itu.

Bdg, 180520
Tsi taura