New Normal: Gaya Hidup Daring

oleh -142 views
Riri Satria

Oleh. Riri Satria

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk menghambat peyebaran COVID-19 di berbagai wilayah di Indonesia telah membawa masyarakat Indonesia ke situasi yang disebut new normal. Salah satunya memanfaatkan media daring (online) untuk tetap menjaga kesinambungan berbagai aktivitas bisnis dan ekonomi, pendidikan, birokrasi, bahkan sampai kebudayaan dan kesenian.

Bagaimanakah pemanfaatan media daring ini dalam menunjang berbagai aktivitas kita? Seberapa efektifkah? Berikut ini wawancana dengan seorang pengamat ekonomi digital dan ekonomi kreatif, Riri Satria. Selain itu, pria yang baru saja berulang tahun ke-50 ini juga memiliki aktivitas lain, yaitu sebagai dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, komisaris PT. Jakarta International Container Terminal, CEO Value Alignment Innovation and Technology Advisory (VITech), serta Ketua Dewan Pengawas Yayasan Dapur Sastra Jakarta.

Bisa dijelaskan apakah yang dimaksud dengan new normal?

New normal atau situasi normal baru adalah situasi yang tadinya bukan merupakan suatu kebiasaan atau bagian dari gaya hidup, tiba-tiba karena sesuatu hal, menjadi kebiasaan serta bagian dari gaya hidup. Sesuatu yang tadinya tidak lazim atau tidak banyak yang melakukan, sekarang jadi lazim, dan sebagian besar masyarakat melakukannya.

Misalnya, kalau kemarin ini belanja daring belum terlalu umum, walaupun sudah banyak yang melakukan, sekarang menjadi sangat umum, bahkan perusahaan pengantar barang menjadi kewalahan. Saat ini banyak rumah tangga yang berjualan secara daring, terutama makanan, dan alat-alat kebutuhan sehari-hari. Ini menjadi fenomena baru, dan ini contohnya new normal.

Kemudian banyak rapat, seminar, serta forum diskusi dilakukan secara daring. Apakah ini juga termasuk new normal tadi?

Betul sekali. Ini juga suatu bentuk new normal. Saya sendiri juga baru menyadari bagaimana saya menghemat banyak hal dengan fenomena ini. Biasanya saya menghabiskan sekitar 30%-40% dari aktivitas saya sehari-sehari untuk perjalanan dari satu tempat ke tempat yang lain, hanya untuk rapat, seminar, serta mengajar. Saat ini, saya bisa melakukan semua itu 3 sampai 4 kali sehari, cukup dari rumah saya, tanpa perlu berpindah-pindah.

Semua memanfaatkan fasilitas media daring. Ini sangat menghemat waktu, tenaga, dan biaya. Tentu saja pengecualian untuk hal-hal yang membutuhkan kehadiran secara fisik, tetapi itu sedikit sekali. Semua aktivitas rapat, bicara di seminar atau forum diskusi, mengajar, bimbingan skripsi dan tesis, bahkan sampai dengan aktivitas saya di dunia sastra juga bisa dilakukan secara daring.

Apakah masyarakat kita siap untuk new normal daring seperti ini?

Saya yakin masyarakat kita siap kok. Persoalan terbesar cuma satu, yaitu sinyal internet! Beberapa wilayah di Indonesia ini masih memiliki sinyal internet yang kurang bagus, sehingga menyulitkan kawan-kawan untuk terhubung ke Zoom. Ada beberapa kawan yang serung putus nyambung, ya itu itu juga orangnya. Berarti sinyal internet di tempatnya memang kurang bagus. Mengenai kemampuan menggunakan media daring, kelihatannya tidak ada masalah. Mungkin pada awalnya agak bingung, tetapi setelah beberapa kali, kawan-kawan mampu menggunakannya dengan baik. Menurut saya tidak ada masalah terkait kemampuan menggunakan media daring. Mudah kok dipelajari.

Generasi sekarang sudah akrab dengan teknologi, apalagi mereka yang termasuk generasi Y dan Z atau generasi milenial. Untuk generasi saat ini, digital technology is part of the lifestyle. Mereka yang masih kagok itu generasi tua, generasi baby boomers atau generasi X angkatan awal. Generasi tua ini memang tidak mudah untuk berdampingan dengan teknologi. Mungkin menurut mereka teknologi itu dianggap musuh yang mengancam eksistensi. Entahlah. Tetapi walaupun demikian, banyak juga mereka yang mampu melakukannya dengan baik. Saya banyak mengenal sahabat yang sudah berusia di atas 60 tahun, semua akrab dengan teknologi media daring dan media sosial, tidak ada masalah kok.

Bisa dijelaskan apakah yang menyebabkan terjadinya new normal?

Kondisi new normal biasanya terbentuk karena kondisi VUCA, yaitu volatile atau situasi yang mudah berubah, uncertainty atau penuh ketidakpastian, complexity atau penuh dengan kompleksitas tinggi, serta ambiguity atau banyak yang membingungkan. Situasi pandemic COVID-19 dan penerapan PSBB telah menyebabkan situasi VUCA pada masyarakat di Indonesia. Kita tak tahu persis kapan pandemik ini berakhir. Situasi ini tidak hanya menjadi masalah kesehatan, melainkan juga berdampak kepada sosial ekonomi masyarakat. Di sisi lain, aktivitas ekonom harus terus berjalan. Maka terciptalah berbagai inovasi oleh masyarakat untuk tetap mempertahankan roda ekonomi, salah satunya dengan menggunakan media daring untuk berbagai keperluan.

Sekarang banyak yang menggunakan Zoom untuk rapat, seminar, dan sebagainya. Apakah hanya Zoom?

Tidak! Ada aplikasi lain, misalnya Skype, Google Meet dan Google Hangout, Cisco WebEx, dan sebagainya. Atau untuk aktivitas yang lebih terbatas bisa menggunakan siaran langsung Instagram atau Facebook, atau streaming melalui YouTube. Banyak kok pilihan, dan menggunakannya tidak susah.

Apakah aman?

Tidak ada yang 100% aman di dunia internet atau siber. Ini mirip dengan menggunakan WhatsApp dan sejenisnya, serta media sosial lainnya, tidak 100% aman, toh kita gunakan juga. Apa bedanya? Tetapi WA memiliki teknologi enkripsi yang menbuat orang sulit untuk menembusnya, sehingga relatif aman. Kita tidak mengenal istilah 100% secure dalam dunia internet atau siber. Tetapi kita mengenal istilah level of security, atau tingkat keamanan. Untuk keperluan yang sangat vital seperti pembayaran transaksi yang melibatkan perbankan, tentu saja harus memiliki level of security yang tinggi.

Bagaimana prediksi Anda ke depan mengenai fenomena ini?

Saya membayangkan suatu saat, kita bisa mengikuti kuliah, forum diskusi atau seminar yang menampilkan pembicara kelas dunia dari luar sana, sehingga kita bisa menembus batas sekat negara tanpa harus berpergian jauh. Ini tentu sangat bermanfaat untuk perkembangan sastra serta sastrawan di Indonesia. Misalnya, UNESCO menyelenggarakan forum diskusi daring tentang kebudayaan langsung dari Paris, dengan narasumber yang memiliki reputasi dunia. Lalu kita di Indonesia bisa menjadi peserta dalam forum diskusi tersebut dari rumah kita, tanpa harus terbang ke Paris. Kita bisa berdiskusi dengan para narasumber serta peserta lainnya. Asyik bukan?

Sekarang sudah bermunculan banyak seminar singkat bahkan pelatihan melalui media daring. Kita bisa menambah pengetahuan sambil duduk santai di rumah atau sambil menikmati pantai, sementara pembicaranya berada entah di mana. Kita bisa memilihnya sesuai dengan kebutuhan kita.

Demikian pula dengan transaksi bisnis antar penduduk, akan semakin marak melalui daring. Ada rumah tangga yang menjual makanan khas, atau produk-produk tertentu, bisa kita pesan secara daring. Sekarang sudah banyak sih, namun ke depannya akan semakin marak. Ini akan menjadi gaya hidup yang umum atau normal, disebut new normal. (***)