Cerpen Tiga Paragraf (Pentigraf) (33) ‘Bunga Di Tengah Belukar’

oleh -1.161 views
tsi taura

JAKARTA – Ningsih, berlereng di jalan berdebu memasuki areal tembakau perkebunan Tanjung Hulu. Dia bermaksud menemui saudaranya di kampung ujung bangsal. Di tengah jalan dia diberhentikan oleh seorang mandor kebun. Dia diintrogasi diseret ke semak-semak belukar. Dia nyaris digagahi lelaki tersebut. Ningsih melawan sekuat tenaga. Menjerit minta tolong sekuat-kuatnya. Suasana begitu sunyi akibat dampak covid-19. Lelaki mandor itu semakin kesetanan. Tiba-tiba lelaki itu tersungkur berlumuran darah. Ningsih dibawa oleh lelaki yang membantunya dengan sepeda motor Yamaha R-15.
“Kita buang lerengmu ya, kamu ikut dengan saya.”
Ningsih mengangguk, pasrah pada nasibnya.

Mandor yang bernama Karto itu konon sering melakukan hal tak senonoh pada buruh-buruh perempuan. Sejak peristiwa tersebut hubungan Ningsih dengan lelaki penolongnya semakin akrab. Berkali-kali Ningsih menanya identitas lelaki tersebut, laki-laki itu selalu mengelak. “Sudahlah dik, tak usah tanya tentang siapa saya. Kau cukup memanggilku abang. Bila kesulitan hubungi saya, ini nomor HP saya. Lelaki itu sangat menyayangi ibu Ningsih. Pada sang ibu lelaki itu bercerita, sejak kecil dia ditinggal sang ibu, hingga kini tak tahu rimbanya. Sang ayah meninggal dunia terdampak virus baru corona. Dia hidup sebatang kara setelah istrinya yang perawat juga tewas di ruang isolasi. Calon istri pertamanya menghilang ketika dia belayar ke eropa.
Mereka pernah melakukan hubungan di luar nikah. Keluarga pacarnya itu tak setuju menikah dengannya. Hubungan terlarang tersebut membuahkan seorang putri. Bayi yang masih berusia dua bulan tersebut suatu hari diletakkan ibunya ke sebuah gubuk petani yang tak dikenalnya, begitu kabar yang dia terima terakhir kali dari pacarnya tersebut.

Ibu Ningsih menangis mendengar penuturan lelaki itu.
“Kenapa ibu menangis?”, tanya lelaki tersebut. Ibu Ningsih hanya bisa menggeleng. Dia teringat perjalanan hidup Ningsih, persis yang diceritakan lelaki tersebut. Lelaki itu bercermin, dipanggilnya Ningsih ikut bercermin. Jantungnya berdegup kencang, wajah Ningsih membuat dia tak tenang. Dia tak gegabah. Dibiarkannya waktu yang berbicara. Di saat ibu Ningsih menembang lagu melayu “dodoi si dodoi”, lelaki itu muncul lagi ingin menyampaikan niatnya melamar Ningsih. Lamaran itu semata keingintahuannya, siapa Ningsih yang sebenarnya. Si ibu kaget dan menutur, Ningsih hanya bunga di tengah belukar.
Lelaki itu memandang tajam siibu dan bergumam, “inikah takdirku? Test DNA adalah takdir berikutnya?”

Bdg, 130520
Tsi Taura