Cerpen Tiga Paragraf (Pentigraf) (27) ‘Sebatang Lidi”

oleh -1.037 views
tsi taura

Sejak Sekolah Menengah Pertama Tora hidup dalam lingkar broken home. Saat ibunya mengandung sembilan bulan, ayahnya menikah lagi dengan sepupu ibunya. Jiwa Tora tertekan, saat itu dia akan ujian akhir Sekolah Menengah Pertama, nyaris dia gagal ikut ujian. Ibunya yang penyabar, gadis desa yang sederhana menyabarinya. “Nak, jika kau sayang ibu, lupakan kelakuan ayahmu, berfokuslah pada pelajaran, biar nanti kau bisa mengganti air mata ibu”, ujar sang ibu sambil memeluk Tora dengan curahan air mata. Semangat Tora bangkit, seorang perempuan, Leni Hasan, tetangganya turut membangkit semangatnya. Tetangga-tetangga Tora banyak yang mencibir Leni, yang selalu pulang lewat tengah malam. Ibu Tora tak mau ikut-ikutan menggosip Leni. Hubungan mereka seperti dua luka, yang saling membantu untuk menyembuhkan. Leni sangat perhatian dengan Tora terutama membantu biaya pendidikannya yang lumpuh sejak ayahnya menikah lagi. Ayahnya jarang menjenguk Tora dan adik-adiknya. Hati Tora perih, dia harus membantu ekonomi ibunya, agar adik-adik bisa bersekolah. Sepulang sekolah, dia gabung di terminal dengan preman-preman pasar.

Ketika ujian akhir SMA akan dilaksanakan, Tora memberanikan diri menemui ayahnya. Si ayah keluar kota. Tora memohon bantuan pada istri muda ayahnya. Bukan memberi tetapi dia diusir secara kasar, “pergi kau, minta tolonglah kau pada Tuhanmu”, kata istri muda ayahnya itu. Dengan hati yang luka, Tora kembali ke Terminal. Duduk termenung, bayangan kegagalan melanjutkan pendidikan gelap. Dia melangkah pulang ingin memohon pertolongan pada Leni tetangganya itu. Tiba-tiba terminal heboh, seorang perempuan muda, tergeletak dengan luka tusukan. Tora menjauh, dengan angkot dia pulang ke rumahnya. Dia menemui Leni. Leni kaget tak pernah melihat Tora semurung hari ini, mukanya pucat. Tora menceritakan kesulitannya. Dengan ikhlas Leni membantu.

Esoknya, beredar berita, perempuan yang ditusuk belati di terminal kemarin, istri muda ayahnya.
pelakunya melarikan diri. Nyawanya tertolong setelah dirawat beberapa hari di rumah sakit.
Ayah Tora semakin tak memperdulikan anak-anak dan istri tuanya. Dia mulai main pukul pada istri tuanya, juga pada Tora jika meminta biaya hidup dan pendidikan. Seolah-olah dia bertangan besi. Hal itu selalu terbersit di hati Tora ingin melawan ayahnya.
“Nak, tangan besi jangan lawan dengan tangan besi, lawanlah dengan sepotong lidi”, ibu itu menasihati Tora. Tora mengangguk dan kembali ke terminal. Dari situ nasib baik membawanya ke puncak karir di instansi penegak hukum. “Doa ibulah membawaku menggapai mahligai, maaf bu, aku tak bisa mudik, covid-19 masih mengganas”, Tora bergumam.

Bdg, 070520
Tsi Taura