Cerpen Tiga Paragraf (Pentigraf) (25) ‘Kamar 61’

oleh -992 views
tsi taura

Nopember, 1982, malam di bawah bulan yang cerah, Tora tiba di Stasiun Kereta Api Besar, depan lapangan Merdeka Medan. Dia yang baru lulus S1 jurusan Hukum bersama teman sekampusnya anak Pertanian, Zul Petak, berangkat ke Tanjung Balai Asahan. Tora diterima bekerja di Instansi Penegak Hukum. “Zul, ini pertama kali dalam hidupku naik kereta api, hati-hati barangmu, aku lihat banyak copet di kereta ini.” Zul Petak mengangguk, membenarkan ucapan Tora. Dia tahu pergaulan Tora di Medan, berkawan dengan preman-preman pasar. Dan dia mengenal kelompok copet di Medan. Lewat tengah malam yang sangat gelap, Tora mendengar jeritan perempuan kecopetan. Dia bangkit menuju teriakan tersebut, setelah dia tahu masalahnya dia menyabari korban copet tersebut, dia akan cari pelakunya. Penumpang yang tertidur terbangun, Zul Petak mencari Tora yang sudah tak ada lagi di sampingnya. Tora melangkah ke sebuah bangku yang dihuni lelaki yang berpura-pura tidur. Tora langsung membogem lelaki itu, hingga dia berdiri terhuyung, Tora memukul bertubu-tubi. Kawan lelaki itu bangkit dan menusuk Tora berkal-kali dengan belati. Tora tersenyum, lelaki itu seperti menikam besi, Tora balik mengajar lelaki tersebut, hingga diamankan petugas kereta api.

Sekitar jam 04.00 pagi kereta tiba di stasiun, beberapa Polisi naik ke kereta menggiring dua orang copet yang sudah babak belur dihajar Tora.
Tora dan Zul Petak menuju Lorong Spirok, Pulau Simardan, kediaman Zul Petak. Sekitar jam 08.00 pagi seusai sarapan Zul Petak mengantarkan Tora ke instansi penegak hukum, tempat dia bekerja. Itulah hari pertama Tora bekerja menggunakan seragam coklat. Tora seorang yang ulet, rajin dan cekatan, karirnya cepat melejit. Tapi dalam asmara dia berkali-kali gagal, difitnah, dia dituduh mantan penjahat, sudah menikah dan punya anak. Dia nyaris frustasi, surat undangan sudah beredar, tiba-tiba pihak perempuan membatalkan perkawinannya. Mereka menunjukkan foto Tora memberikan uang pada seorang perempuan di sebuah rumah makan. Tora sangat terpukul karena perempuan itu adalah ibu tirinya yang membutuhkan pertolongan.

Malam ini belum lagi berganti hari, Tora duduk di ruang perpustakaannya, membaca ulang perjalanan hidupnya. Lamunan jauh seakan terekam lengkap dalam benaknya, dia lalu tersenyum sendiri. Dan sekejap lagi, dia akan menghentikan tawanya sejenak karena dia akan digiring ke Kamar 61. Dia berdialog dengan Tuhannya, mengucapkan syukur masih diberi kesempatan bersujud malam dalam amuk covid-19.
Dan hari pun bergeser, ketika jarum jam miring ke kanan, Tora memasuki kamar 61, menikmati hidup berikutnya yang tak terdeteksi nalar. Sayup-sayup kendengaran suara istrinya, Marissa dan putra-putrinya, seeellllllaammaaaat ulang tahun Jenderal kami….Kepodang bertasbihlah…biar
kami teduh dalam terik matahari……

Bdg, 050520
Tsi taura