Saatnya KB Tidak Hanya Tanggung Jawab Wanita

oleh -129 views
Kepala BKKBN dr. Hasto Wardoyo, SP.OG (K)

JAKARTA – Dimasa pandemik Covid-19, Pemerintah menghimbau supaya seluruh masyarakat menerapkan physical distancing dan melaksanakan Work From Home (WFH).

Kepala BKKBN dr. Hasto Wardoyo, SP.OG (K) selalu menegaskan bahwa, dalam situasi tersebut Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Banggakencana) tetap dapat dijalankan dan tidak mengurangi kinerja rekan-rekan di pusat dan daerah.

Isu strategis terkait Program Banggakencana yang berkembang di Indonesia saat ini perlu segera mendapat perhatian khusus dengan strategi dan berbagai kegiatan prioritas yang harus dilaksanakan pada tahun 2020.

Oleh karena itu, sinergitas dan komitmen para pemangku kepentingan dan mitra kerja dalam implementasi Program Banggakencana di seluruh tingkatan wilayah harus segera ditingkatkan, imbuh Hasto pada Kegiatan Webinar Penguatan Tim Vasektomi Provider KB Pria bersama Mitra Kerja melalui Cisco Webex Meetings.

Kegiatan ini diikuti oleh Ketua dan Pengurus Ikatan Ahli Urologi Indonesia (IAUI), Ketua dan Pengurus Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI), Ketua dan Pengurus Perkumpulan Kontrasepsi Mantap Indonesia (PKMI), Plt. Deputi Bidang KB dan Kesehatan Reproduksi, Para Direktur di lingkungan Kedeputian KB dan Kesehatan Reproduksi, Kepala Bidang Keluarga Berencana Perwakilan BKKBN Provinsi Seluruh Indonesia, Para Dokter Terlatih Vasektomi (4/05/2020).

Kegiatan ini bertujuan untuk dapat (1) Melakukan pelatihan penyegaran keterampilan klinis VTP bagi dokter umum yang telah mendapatkan pelatihan klinis VTP; (2) Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dokter umum untuk memberikan pelayanan vasektomi; (3) Meningkatkan komitmen mitra kerja dalam meningkatkan akses dan kualitas pelayanan KB Pria melalui penyediaan 1 (satu) provider vasektomi di setiap kabupaten/kota.

“Selain itu, upaya yang telah dilakukan akan dimonitoring dan dievaluasi pelaksanaannya untuk mengetahui sejauh mana program dapat dilaksanakan dan kendala dalam pelaksanaan serta untuk mencari solusi atau rekomendasi terhadap tantangan maupun kendala yang dihadapi,” tutur Hasto.

Salah satu faktor penyebab kesertaan KB Pria masih rendah yaitu keterbatasan penerimaan dan aksesibilitas terhadap pelayanan KB dan KR untuk pria karena persebaran dan distribusi dokter yang mampu dan dapat melakukan pelayanan vasektomi tidak merata di Indonesia. Selain itu, dokter yang telah dilatih masih memerlukan pembinaan pasca pelatihan untuk meningkatkan kualitas pelayanan vasektomi.

Pendekatan program KB saat ini tidak hanya fokus pada pengendalian populasi dan penurunan fertilitas saja tetapi juga diarahkan pada pemenuhan hak-hak reproduksi. Partisipasi pria menjadi penting dalam KB dan KR karena pria adalah “partner” dari wanita dalam reproduksi dan seksual, sehingga pria dan wanita harus berbagi tanggung jawab.

Namun berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017 menunjukkan bahwa kesertaan pria dalam ber-KB masih rendah yaitu kondom sebesar 2,5% dan vasektomi sebesar 0,2% (SDKI 2017). Upaya untuk meningkatkan partisipasi pria dalam pemakaian kontrasepsi dilakukan secara intensif dan terus menerus, namun data menunjukkan tren peningkatan belum mencapai hasil yang diharapkan.

“Beberapa alasan mengapa partisipasi KB Pria masih rendah pertama adalah mindset (di dalam satu) keluarga pada umumnya masih pada posisi KB adalah tangung jawab perempuan, berikutnya ketika ada keraguan suami melakukan vasektomi banyak pendapat nanti akan terjadi pengurangan vitalitas. 80% diskusi publik yang kami lakukan tentang vasektomi pertanyaannya adalah tentang vitalitasnya,” katanya.

“Kemudian mindset atau bentuk reaksi kekhawatiran contohnya keluarga tidak semua harmonis, kecurigaan bila vasketomi suami akan selingkuh lebih tinggi maka tidak sedikit perempuan memilih lebih baik dia sendiri saja yang KB,” ucap Hasto. (rizal)