Cerpen Tiga Paragraf (Pentigraf) (23) ‘Esok Jangan Rindu-Rinduan’

oleh -927 views
tsi taura

Hampir lima tahun sudah Sarah menunggu kekasihnya, Roni dengan setia, berharap tahun ini bisa kembali menemuinya, menyunting ke pelaminan. Roni memberi tahu, dia belum bisa pulang karena Pimpinan Perusahaan tambang emas Papua, tempat dia bekerja melarangnya pulang. Dia harus menyelesaikan masalahnya di perusahaan tersebut. Dia dianggap teledor membuat laporan pajak perusahaan. Kini ditambah lagi larangan mudik akibat dampak pandemi Covid-19. Sarah mulai gusar, usianya terus bertambah, kekasih yang ditunggu janji-janji melulu. Akhir tahun kemarin, Sarah yang berprofesi sebagai pengajar di sekolah swasta diajak kakaknya pindah ke Tanah Pasundan. Untuk menghibur kekecewaannya dia mengikuti ajakan kakaknya tersebut, meninggalkan tanah Deli. Sarah mulai hambar berkomunikasi dengan Roni, firasatnya kekasihnya tersebut berbohong. Akhirnya dia memutuskan hubungan mereka. Sebuah kalimat pendek dia kirimkan kepada Roni, “esok jangan rindu-rinduan.”

Hari-hari berikutnya, Sarah diteror secara kasar oleh Roni. Roni tak rela diputusin Sarah. Dia mengancam akan memposting foto-foto mesra mereka ke dunia maya. Sarah yang berwajah lembut tapi keras pendirian dan jujur, dengan dingin menanggapi ancaman mantan kekasihnya itu. “Katakan apa yang tak dapat kau katakan. Lakukan apa yang tak dapat kau lakukan”, begitu Sarah membalas ancaman Roni. Sedikitpun dia tak gentar ancaman klise itu. Apa lagi setelah dia berhubungan dengan Dermawan Husni, dokter yang menangani kakaknya operasi amandel di sebuah rumah sakit swasta di kota Bandung, percaya dirinya memuncak. Dan apalagi kekasih barunya itu menenangkan perasaan tertekan Sarah. Dia menyebut nama seseorang, Hang Kilau yang akan mengajar mantan kekasih itu bila bertindak macam-macam terhadap Sarah. Dokter Dermawan menceritakan siapa Hang Kilau, preman tanah melayu berdarah dingin. Jaringannya dari Sabang sampai Papua. Dia adalah kakak sepupu dr Dermawan.

Sarah tak lama kemudian menerima tawaran dr Dermawan menjadi tenaga medis di sebuah rumah sakit Jakarta yang menangani korban Covid-19. Dia mau jadi relawan karena dr Dermawan ditugaskan di rumah sakit tersebut. Cinta pun bersemi indah di sini. Satu saat dr Dermawan memberitahu Sarah bahwa mantan kekasihnya bukan berada di Papua tetapi menjalani hukuman di Lapas Banceuy Bandung. Roni baru saja bebas seminggu yang lalu. Dan sudah diamankan oleh Geng Hang Kilau. Hotel tempat mereka istirahat seakan menjadi saksi kedua sejoli itu sangat berbahagia. Malam penuh bintang, bulan bersinar indah di atas kota Jakarta, Dermawan dengan setulus hati melamar Sarah. Sarah berguyon, “resepsinya menunggu covid-19 berlalukah?. Dermawan tergelak, Sarah tersenyum. Dermawan menutur kata,”Rumi bilang,kita dilahirkan punya sayap, lalu kenapa kita hidup merangkak”. Azan subuh pun menggema, Allah jua penentu takdir”, Sarah bergumam.

Bdg, 030420
Tsi taura