Cerpen Tiga Paragraf (Pentigraf) (16) ‘Bumi Terpasung’

oleh -948 views

Covid-19, virus baru yang bermula di Wuhan dengan cepat menyebar melakukan serangan membabi-buta ke seluruh penjuru dunia. Dia bagaikan penjahat perang membom-bardir siapa saja, dokter-dokter, tenaga medis lainnya, hingga melepas napas terakhir. Jutaan anak manusia terinfeksi covid-19. Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk meretas penularannya. Mulai dari physical distancing, pembatasan sosial berskala besar (PSBB) hingga larangan mudik. Pengangguran akibat di-PHK tak terelakan semakin menunjukkan grafik yang menaik. Perintah untuk berkurung di rumah, seakan bumi terpasung. Penderitaan rakyat yang bekerja serabutan di luar rumah semakin memilukan.

Salah seorang dari yang terimbas dampak covid-19 tersebut adalah Hang Kilau, pencari nafkah di terminal Kampung Rambutan. Terminal sepi, angkutan terduduk dengan bahan bakar yang minim. Kampung tempat anak istrinya bernaung, seluruh terinfeksi positif covid-19. Di isolasi tepian sungai yang tak berair. Sampah-sampah menumpuk. Lalat dan serangga lain berkembang biak. “Rumah Sakit penuh, ini satu-satunya yang ditawarkan untuk isolasi sementara”, kata Ketua RT menenangkan warganya yang protes.

Hang Kilau stres berat, meracau seorang diri di tepi sungai. “Seperti mimpi buruk yang berkepanjangan, kemarau menyerak hama wereng melantak tanaman padi yang menghijau”, kata Hang Kilau di sepanjang tepian sungai itu. Hal tersebut cepat diatasi seorang Kiay Udin Siguntang yang sangat disegani di kampung itu. Hang Kilau disembur air mantra langit. Sadar di pangkuan sang kiay, dia langsung berlari ke ruang isolasi anak dan istrinya. Dia terpaku di situ, anak dan istrinya dan warga lain sudah dipindahkan tempat isolasi, di sebuah rumah sakit, di ujung kota Kabupaten. Dengan istigfar berulang-ulang, batin Hang Kilau tenang. Dia bersama Kiay Udin Siguntang berboncengan sepeda motor berangkat ke tempat isolasi tersebut. Kilau tersenyum semua warga kampungnya dinyatakan negatip dari serangan covid-19. Dia membathin dengan air mata yang deras, “Ya Allah aku bersyukur seperti mereka yang menyukuri nikmatMu.”

Bdg, 250420
Tsi Taura.