Cerpen Mini (Cermin), (92) ‘Asmara Tanah Melayu – 6’

oleh -3.091 views

PUKUL 11 Wib, pesawat Batik Air yang ditumpangi Tora, Tan Tualang dan Sita mendarat mulus di landasan bandara Soekarno Hatta. Tora menawarkan pada dua sahabatnya itu untuk menginap di Bandung. Rumah sederhana di bawah bukit menghijau, tempat tinggal Tora dan keluarganya. Tualang memandang Sita dengan senyuman yang tak pernah ia berikan pada perempuan lain selain emaknya.

Sita memahami pandangan itu, ia lalu menutur, “jangan kecewakan tawaran yang tulus dari sahabat sendiri kecuali tawar lari.”
Tora tergelak, ia merasa lucu Sita tahu istilah dagang kereta (sepeda motor) atau mobil dari agen dunia di hokkian Medan. Pura-pura menawar pemilik kenderaan dan begitu tahu harga jual si agen menghilang.

Dalam kisah ini Tan Tualang pura-pura menanya calon istrinya terhadap tawaran Tora menginap di rumahnya. Tualang ke Jakarta sebenarnya untuk menemui gurunya di Rangkasbitung, Banten. Begitu Sita setuju, Tualang berkata, “kami ke Rangkas dulu dari sana kami ke Bandung”, kata Tualang pada Tora.

“Tualang, Tualang banyak kali taik minyakmu. Sita tabu kau bawa ke Rangkas. Dia belum istrimu. Sumbang dilihat orang beradat”, kata Tora sambil berjalan ke seberang terminal kedatangan mencari taksi.
“Aku titip Sita padamu, jagalah dia seperti kau menjaga Marissa.
Macam-macam kupatahkan batang lehermu Tora, kata Tualang bercanda.
“Siap bos”, kata Tora memegang tangan Sita menuju mobil rental Innova menuju Bandung.
Tualang menuju Rangkas dengan hati yang tenang.

Semula Sita merasa gembira ikut Tora ke Bandung, “pucuk dicinta ulam tiba. Inilah saat yang tepat menggali informasi tentang abang kembarku yang sebenarnya”, Sita bicara pada dirinya sendiri.

Angan-angan Sita buyar seketika.
Sepanjang jalan hingga tol Cipularang Tora terpulas. Sita menutup kekecewaannya dengan memandang kiri kanan jalan, pohon-pohon kering kerontang. Kembang-kembang layu terkulai dilantak kemarau panjang.
“Sial, sekali ke Bandung disuguhi pemandangan yang memedaskan mata”, Sita bergumam kesal.

Memasuki tol Cipularang Tora terbangun.
Ia membuka kaca sebelah kiri. Diambilnya rokok di kantong, baru seisap dinikmatinya, sang driver mengingatkannya, “maaf bang, dilarang merokok bang !!!”.
“Berhenti, kau melanggar azasiku”, suara Tora melengking. Driver jadi cuak, “Merokoklah bang.”
“Gitulah”, kata Tora menghabiskan beberapa batang rokok. Sita tersenyum, “bang, merokok itu tak baik buat kesehatan”, kata Sita dengan lembut.
“Hahaha, kau ini seperti juru bicara WHO saja”, kata Tora.

Memasuki pasteur, Sita mencoba mengungkit batang terendam. Dengan hati-hati ia bercakap, “tahukah kanda keberadaan abang kembarku?”.

Tora yang duduk berdampingan dengan Sita menatap lembut putri gurunya, Ulung Alas.
“Nanti kakakmu, Marissa menjelaskan pada dinda tentang hal tersebut secara detail. Sabarlah, seperti bulan menunggu malam.
Dalam hati Sita bersorak-sorai, “semoga kak Marissa banyak tahu tentang abang kembarnya.” (**)

Binjai, 100920,

tsi taura.