Cerpen Mini (Cermin), (93) ‘Tarombo Yang Hilang’

oleh -3.029 views

SEBELUM waktu Ashar tiba, Tora dan Tengku Sita tiba di depan pagar rumahnya, Perumahan Tanjung Sari Indah. Asisten rumah tangga mereka lari tergopoh-gopoh mendengar bel rumah berbunyi.
Dengan cekatan ia membuka pintu pagar. Selanjutnya setelah pintu pagar terkuak ia balik kanan berlari menyiapkan teh manis tuannya dan Sita.

Mata Sita kelayapan ke sana kemari. Ia kagum dekor rumah Tora, bernuansa melayu yang kental. Di ruang tamu, di dinding tergantung biola dan gendang aroma melayu.

Di ruang tengah, ruang keluarga, di lemari jati tersimpan rapi organ gantung (akordeon), suling buluh yang mengkilap. Dan organ diam membisu ditutup kain satin (sutera) yang mengkilap. Tersedia ruang shalat dindingnya penuh kaligrafi yang indah.

“Ini rumah minimalis yang sungguh memanjakan mata.
Sita tertanya-tanya di mana Marissa. Ia ke dapur menyapa asisten rumah tangga Tora, “teteh, kak Marissa sakitkah? Koq dari tadi tak kelihatan?.”
“Ayahnya sakit di Tanjung Pinang. Tadi pagi buru-buru berangkat, maklum dia anak tertua dalam keluarganya”, kata si teteh.
Sementara Tora tak keluar-keluar dari kamar.

“Teh, temani saya ke lantai atas ya?”
Si teteh mengangguk dan langsung menuntun Sita menaiki anak tangga.
“Wah, ruang perpustakaan yang bersih, lemari-lemari buku yang artistik berdiri anggun. Buku-buku hukum mendominasi perpustakaannya”, Sita bergumam. Di susul buku sastra dan terpampang pula di dinding tarombo keluarga Bohorok.
Ruang baca disuguhi meja dan kursi serta alat tulis.

Si teteh menjadi pemandu, menjelaskan segala sesuatu yang ia tahu tentang apa-apa yang dilihat Sita.
“Sudah lama teteh bekerja di sini?”, tanya Sita.
“Hampir 15 tahun, neng”, jawab si Teteh.
Tiba-tiba muncul Tora mendekati Sita”, dinda di rumah dulu ya, kanda segera ke Jakarta dan jika pesawat masih ada, kanda langsung ke Tanjung Pinang.
“Iya kanda, salam kak Marissa ya..kanda.”

“Iya, dinda jangan pergi-pergi dengan Tualang. Ingat kalian belum menikah, jaga marwah alm Tengku Ulung Alas.
Dan Tora pun hilang.
Sita terpelongo, harapannya bisa berbincang dengan Marissa menguak tirai gelap keberadaan saudara kembarnya buyar.

Dia teringat belum shalat ashar, segera dia menuruni anak tangga, membersihkan diri menemui sang khalik.
Seusai shalat ia kembali ke lantai ataa, dia teringat tarombo Bohorok. Dia amati dengan hati-hati dari atas hingga pecahan garis keturunan.

Di lain tempat, Tualang berduka, gurunya di Rangkasbitung meninggal dunia seminggu yang lalu.
Seusai ziarah makam gurunya, Tualang menuju Bandung.

Sita masih mengamati tarombo Bohorok. Tiba-tiba matanya tertuju pada garis Tengku Ulung Alas, dua kotak, yang pertama bertuliskan tanda tanya, dan satu kotak lagi tertera nama Tengku Sita Maharani.

Hatinya tertanya-tanya, kenapa kotak pertama dari silsilah ayahnya hanya tertera tanda tanya. Hilangkah dia? Tak terlacak bang Tora keberadaannya? Sita terduduk di ruang baca.
“Misteri itu harus terkuak”, Sita bergumam (***)

Binjai, 110920,

tsi taura.