Cerpen Mini (Cermin), (90) ‘Asmara Tanah Melayu – 4’

oleh -3.034 views

RAKA PERDANA mengikuti laju sepeda motor Tan Tualang menuju arah kota rambutan Binjai. Ia juga mengenderai sepeda motor. Ia menaruh curiga, lelaki itu menyimpan banyak rahasia tentang Tengku Sita, anak perempuan alm Tengku Ulung Alas.
Hingga kini Raka kehilangan jejak keberadaan Sita. Ia ingat betul, malam hilangnya Sita, Tualang juga menghilang. “Jangan-jangan pelarian Sita ia yang mendalangi, hingga misteri Kalung tersebut tetap menjadi misteri hingga akhir zaman”, Raka bicara pada dirinya sendiri.

Raka salah perhitungan, dia pikir Tan Tualang tak tahu diikutinya. Raka yakin Tualang juga tahu tentang keberadaan Ningrum anak Dul Lebah yang hilang dalam amuk banjir bandang. Dan sangat tahu tentang Tengku Sita Maharani, putri sulung alm Ulung Alas. Ia akan memaksa Tualang untuk bercerita hal yang sebenarnya tentang Sita dan Ningrum.

Sebelum Kuala, daerah sunyi hujan merintik, Raka menyalib sepeda motor Tualang. Tualang nyaris jatuh, Raka menghentikan kenderaan Tualang. Emosi Tualang meluap ketika dia tahu akan dicelakakan Raka Perdana.

Dia cagakkan sepeda motornya lalu membogem mentah muka, tubuh Raka. Raka terkejut serangan mendadak Tualang. Dia tersungkur, kepalanya dipijak Tualang. Ia ingin menghabisi pemuda itu tapi ia teringat dalam proses pertaubatan. Ia lalu bicara bagai petir menyalak, “mulai besok jangan kulihat lagi kau di tanah melayu ini, hambus kau ke Batavia. Kau tak percaya omonganku dan Tengku Husein Petir, juga Datuk Panglima Hitam.”

“Ampun kanda, ampun jangan habisiku di sini”, Raka bermohon.
Mendengar hal tersebut, Tualang menghidupkan sepeda motornya, melaju di kegelapan malam. Purnama tertutup kabut.

Calon istri Tualang menunggu di kursi teras. Ia gelisah kenapa sudah lewat tengah malam begini, Tualang belum pulang. Bukankah esok pagi ia dan Tualang ke Tanah Pasundan, rumah Tengku Tora. Gelisahnya tak berumur panjang, Tualang muncul di halaman rumah tak berpagar.

Perempuan itu bangkit dari tempat duduknya menyongsong Tualang dengan senyum lesung pipit yang mempesona.
Ingin Tualang mencium keningnya tapi ia tahan karena itu tabu bagi anak melayu. Sebuah kesalahan adat dan agama. Mereka pun masuk ke rumah, sepeda motor didorong Tualang menuju dapur.

Hidangan di meja sudah pada dingin tapi Tualang tak ingin mengecewakan calon istrinya. Ia makan dengan lahap. Ayah dan emak Tualang menyusul duduk di kursi makan.
“Ngapa engkau lama kali balik Tualang”, tanya emaknya.
Si ayah mendehem, isyarat jangan mengadili anak di meja makan.

Seusai makan, Tualang tidak langsung ke peraduan. Ia menghabiskan bebepa batang rokok hingga asbak penuh berserakan. Ayah dan emaknya sudah tertidur lelap di katil besi peninggalan zaman Belanda.

“Tidurlah dinda duluan biarkan kanda di sini dulu hingga kantuk meraja mata”, kata Tualang memandang wajah lelah calon istrinya itu.
Perempuan itu tersenyum dan bertutur manja, “kanda, sudah tujuh purnama dinda tak mendengar namaku kanda sebut bahkan pada calon mertua dinda harus berbohong demi mematuhi amanah kekasihku, kanda Tan Tualang.”

“Pernahkah dinda merasa kesepian”, tanya Tan Tualang.
Perempuan itu menatap tajam, Tualang merasakan sesuatu getar yang kuat di dadanya.”
Lalu ia menjawab pertanyaan Tualang dengan sangat tenang, “apakah dengan menyebut nama dinda yang sebenarnya, kanda khawatir kehilanganku? Merasakan kesepian yang menyiksa batin. Dinda berharap esok namaku terluncur di bibirmu. Dan katakan yang sebenarnya siapa diriku ini.”
Tualang terhenyak dalam. Dia juga terkesima memandang bola mata calonnya istrinya itu.

Tualang menggeser tempat duduknya berdekatan dengan perempuan itu.
Dipegangnya dua tangan perempuan yang diselamatkannya ketika para tetua sibuk mencarinya. Hilang di malam purnama.
Dan dengan keputusan yang bulat ia akan menyebut sebuah nama yang hilang.
Perempuan itu menunggu dengan harap-harap cemas apa reaksi Tualang selanjutnya. (***)

Medan, 070920,

tsi taura.