Cerpen Mini (Cermin) (89) ‘Asmara Tanah Melayu (3)’

oleh -3.048 views

(89) Cerpen Mini (Cermin)
‘Asmara Tanah Melayu (3)’

SENJA baru saja berlalu saat Tualang mengetuk pintu rumah Sri Maharani. Langit cerah, angin bohorok berembus lembut. Emak Sri menguak pintu sebatas seorang masuk ke dalam rumahnya.
Ia melihat dengan jelas pemuda tampan berdiri di mukanya. Lelaki itu memberi salam dan disaut dengan senyuman oleh mak Sri.

“Mau ketemu siapa ya?”, mak Sri berbasa-basi. Padahal ia tahu Tualang ingin ketemu putrinya.
“Sri makcik, adakah ia di dalam.”
“Ada, sebentar ya makcik panggilkan”, si Ibu bergegas ke lantai dua.

Tualang terpelongo ditinggalkan sendiri dengan pintu ternganga.
“Sri, ada yang carimu nak, temuilah, kelihatan ada hal penting yang hendak disampaikannya”, kata emak pada Sri.
“Emak kenal dengannya?.”
“Kalau kenal pasti sudah emak bawa dia ke sini”, kata emak Sri berdusta.

Sri menuruni anak tangga dengan lebih dahulu mohon ijin pada Tengku Tora.
Ia terkejut saat dia tahu Tualang yang datang. Keningnya basah, ia ingin melindungi Tora supaya tak ada yang tahu berada di rumahnya. Gestur tubuhnya kelihatan gugup. Dia berusaha tenang, menunggu cakap Tan Tualang.

“Maafkan saya, Tora tak berkabar kenapa ia tak datang. Saya buru-buru ini, esok pagi ke Batavia. Nanti kalau saya dapat kabar tentang Tora, saya infokan ya Sri. Sri mengangguk, dalam hati ia hendak tergelak panjang. Tora memang dari dulu penampilannya selalu mengundang misteri.
Ia seorang yang sukar ditebak sepak terjang langkahnya.

Di lantai atas, waktu yang sedikit terluang, Tora dan Balqis, emak Sri bercakap masa lalu, melepas rindu dibelenggu adat. Tualang pun berlalu menuju kota rambutan, Binjai.
Sri menutup pintu dan dengan langkah berjingkat-jingkat naik ke lantai atas.

Tora mencium langkah itu tapi tidak emak Sri memagut rindu tak ingin melepas masa lalunya lagi.
Tora berbisik, “putrimu menguping percakapan kita.”
Balqis melepas angan dalam sangkarnya. Duduk berhadapan dengan pandangan menghitung retak lantai.

Sri bukan main kagetnya ketika suara Tora menggema, “Sri jangan lama kali kau menjadi patung pintar di situ. Naiklah….”.

Dengan tersipu Sri Maharani naik ke atas, duduk berdampingan Tora. Balqis menatap tajam putrinya. Sri meledek emaknya, “cemburu nich ye?”, ia semakin merapatkan tubuhnya ke Tora hingga tak berspasi lagi.

Balqis walaupun sudah setengah tua, kecantikannya belum pudar. Bibirnya masih sensual. Rambutnya hitam melegam. Alisnya seperti semut beriring. Beda penampilannya saat melayani pembeli di kedai, dan malam itu ia bergaun tidur yang pas dengan posturnya. Aroma parfum Agner menyentuh lembut orang yang di dekatnya.

“Tora, kenapa kau tak tak jadi menikah dengan gadis melayu yang kaya raya itu, di kepulauan riau? Bukankah surat undangan telah beredar ke lubang semut pun”, tanya Balqis setelah sekian belasan tahun mereka tak ketemu.

“Sudahlah Balqis, usah diingat lagi hal tersebut. Kini aku bahagia bersama Marissa.”
Balqis terdiam, ia teringat Marissa perempuan tanah melayu yang santun. Bersuara merdu berwajah Pakistan. Perempuan pilihan Tora tak ikut campur tangan orangtua, adat kolot yang pernah membuat Balqis tersiksa.

Malam semakin tinggi, purnama penuh menyerak cahaya. Sri sudah berkali-kali menguap menahan kantuk. Balqis makin bercahaya tapi ia tak mampu menaklukkan kesetiaan Tora malam itu.

“Apa yang hendak kau sampaikan pada Sri lewat sobatmu Tan Tualang? Sri berseri-seri saat dibisikannya sesuatu ke Sri.”
Tora tergelak, Sri tersenyum. Balqis menunggu tak sabar jawaban Tora.

“Tanyalah pada putrimu. Dia lebih tahu dari purnama kenapa pungguk merindukannya”, kata Tora dan berdiri pamit.
Balqis kecewa, Sri Maharani menemani Tora menuruni anak tangga rumahnya.
Di depan pintu, Tora berpesan, “saya tunggu lusa di Jakarta. Semoga kau amanah, ananda. Sri mengangguk, melambai tangan mengembus ciuman lewat jemarinya. (***)

Medan, 060920,

tsi taura.