Cerpen Mini (Cermin) (71) ‘Angan Terhalang Takdir (3)’

oleh -2.063 views

LEWAT TENGAH MALAM pulangnya Raka dan Ningrum, hujan turun sangat lebat, angin bahorok mengamuk. Rumah -rumah di pinggiran sungai kupak-kapik, petir memekik-mekik membuat warga panik. Kentongan di surau bertalu-talu, bahaya mengancam.
Air bah menggeliat, banjir bandang melaju tanpa rem, teriakan takbir Allahu Akbar menyayat kalbu. Menggulung, sekejap saja kampung itu tenggelam.

Raka menyelamatkan diri memanjat pohon kelapa. Ningrum terbawa arus bersama Dul Lebah. Lebai Harun, ayah Raka memanjat pohon tualang. Dihantam petir, rebah dan hangus. Semua warga berhamburan, menyelamatkan diri masing-masing.

Tepat jam tujuh pagi bencana usai, kampung sebelah tempat Raka bernaung dan kampung bukit rumah Ningrum hilang bentuk.
Bantuan pencarian korban muncul cepat.
Raka, Sri Bulan adik Senjata Tarigan termasuk yang selamat. Raungan ratap tangis berhamburan pilu.

Ibu-ibu bersama bayi-bayi semuanya selamat. Mereka harus menerima kenyataan tak satupun ayah mereka yang selamat.
Senjata Tarigan tewas di tumpukan kandang ayam, babah Asiong tewas dengan belati yang menancap di dadanya.
Raka dan Sri Bulan ikut melakukan pencarian. Raka mencari ayahnya dan Ningrum. Sri Bulan mencari ibu dan abangnya Senjata Ketaren.
Hanya Ningrum yang tak diketemukan, apakah masih hidup atau tewas dalam amuk air bah tersebut.

Raka tegar, Sri Bulan berkali-kali pingsan. Raka membopong Sri Bulan, membawanya ke mobil ambulans. Melaju ke rumah sakit Bangkatan. Suasana begitu menyayat kalbu. Mayat-mayat dalam kantongan plastik satu persatu dibuka, para keluarga korban meneliti, mencari keluarganya yang hilang
Raka turut mencari keluarganya. Hanya mayat ayahnya yang dia temukan.
Selesai pemakaman, Raka terus mencari keberadaan Ningrum.
Tak satu petunjuk pun yang diperolehnya tentang nasib sahabatnya itu.

Raka mencari Ningrum hingga ke sungai Wampu. Segala pawang dikerahkan. Tak jua tercium jejaknya. Dia tak berputus asa, menyelusuri tepian sungai Wampu ke semua pelosok Baharok dan Suka Raja.
Letihnya menggugat, dia tersungkur di depan rumah tua bertangga kayu. Seorang perempuan yang baru pulang mencuci pakaian di sungai, dengan kain sepinggang lutut berteriak, “toloooong… tooolong,,,”, Ayahnya melompat dari katil menuju suara yang amat dikenalnya, Tengku Sita Maharani, satu-satunya putrinya. Cantik jelita, kulitnya mulus seperti telur rebus dikupas. Matanya bak bintang timur. Si ayah, Tengku Ulung Alas, melompat dari rumahnya. Membopong Raka ke dalam rumahnya.
Air putih bermantra disemburkannya ke mata Raka. Raka terjaga dari tidur yang panjang.

Pelan-pelan Raka menggeliat, membuka matanya. Samar-samar dia melihat wajah putri melayu itu. Dia berusaha bangkit, tapi dilarang oleh ayah Sita Maharani.
“Goleklah dulu, tenagamu terkuras. Kejap pakcik buatkan ramuan biar tubuhmu kembali segar. “

Sita menatap haru pemuda tampan itu. Tatapan itu membangkitkan ingatan Raka pada Ningrum. Dia seperti melihat Ningrum merentangkan tangan, ingin didekap. Raka mencoba bangkit, Sita Maharani membantunya. Raka berbisik, “Ningrum….”.
“Iya, aku Ningrum”, kata Sita membantu alam sadar Raka. Raka hendak mendekap dengan penuh kasih sayang di bawah alam sadarnya. Ningrum yang sesungguhnya Sita, berbisik, “jangan dulu ya, nanti dilihat ayah…”.
Raka kembali terjerembab, tenaganya belum pulih sama sekali. Sita menangis, tak tahan melihat penderitaan Raka. Diluruskannya tubuh Raka. Raka kembali tak sadar. (***)

Binjai, 150820, tsi taura.

.