Indonesia Kini Punya Obat Sembuhkan Covid-19

oleh -235 views
Kasad saat terima obat untuk Covid-19

JAKARTA – Akhirnya, Indonesia kini memiliki obat penawar Covid-19 untuk pertama kalinya di dunia, setelah Universitas Airlangga selesai melakukan uji klinis tahap ketiga.

Hal ini dikatakan Kasad Jenderal TNI Andika Perkasa saat menerima hasil uji klinis tahap ketiga dari Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PCPEN).

Hasil uji klinis diberikan langsung oleh rektor Unair Mohammad Nasih kepada Kepala Satuan Angkatan Darat (KASAD) yang juga Wakil Ketua I PCPEN Andika Perkasa. Dengan telah selesainya uji klinis tahap tiga ini dalam waktu dekat segera diproduksi sekla besar.

BACA JUGA BOS:   Kemenag Alokasikan 5,7 Triliun Bantuan Pemulihan Ekonomi untuk Pendidikan Agama

“Semakin cepat semakin bagus untuk produksi obat ini. Rencana kami akan eksekusi walaupun kita akan mengajukan permohonan untuk izin” katanya di Mabesad TNI, Jakarta Pusat, Sabtu (15/8/2020).

Dia mengatakan, upaya percepatan dalam melakukan produksi dalam waktu dekat akan mendatangi Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Langkah itu harus ditempuh untuk memastikan izin produksi dapat segera dilakukan.

BACA JUGA BOS:   Sultan B. Najamudin: Pelaksanaan Protokol Kesehatan Pada Pilkada Serentak 2020 Tidak Bisa Ditawar

“Kita sudah punya jadwal dalam rangka untuk mempercepat izin edar BPOM RI,” katanya.

Langkah lain yakni memperinci anggaran yang dibutuhkan dalam produksi. Dia menjelaskan, dalam proses produksi akan dilaksanakan oleh perusahaan obat terbesar yakni Kimia Farma.

“Kimia Farma yang akan produksi tergantung ketersediaan anggaran pemerintah,” ucapnya.

BACA JUGA BOS:   Sembilan PTN Peroleh Anugerah Keterbukaan Informasi Publik 2020 Kategori Informatif

Sementara itu, Nasih menyebut obat kombinasi tersebut telah melalui uji klinis yang dilakukan sejak Maret sebelum diberikan kepada PCPEN.

Unair telah menguji coba lima kombinasi obat penawar covid-19 kepada 700 pasien, sementara BPOM hanya memberi persyaratan uji klinis diuji coba kepada 600 pasien.

“Jadi membutuhkan waktu 5 bulan untuk sampai hari ini,” ujar Nasih. (dfj)