Cerita Mini (Cermin), (15) ‘Eksekutor Dari Tanah Melayu’

oleh -2.595 views

SIANG ini udara menyengat raga, tak terasa angin berembus.
Di halaman tempat sidang datuk Kelana berjubel manusia pendukungnya.
Tora menyelinap di kerumunan tersebut.
Hari ini sidang dengan agenda pembacaan putusan majelis Hakim.
Tora berkaos hitam, bertopi dan berkaca-mata gelap.

Keamanan sidang dilakukan secara ketat.
Tora memberi arahan pada stafnya, “tenang dan jangan terpancing dengan orasi massa pendukung terdakwa.

Halim Fauzan, kaki busuk terdakwa terlihat dalam kumpulan massa pendukung terdakwa.
Ruang sidang penuh sesak.
Hakim ketua majelis berkali-kali mengingatkan agar pengunjung tertib.
Terdakwa datuk Kelana kelihatan loyo, tak ada senyum yang ditebarkannya. Lain dari biasanya, gagah dan ramah ketika memasuki ruang sidang.

Hampir 2 jam majelis Hakim secara bergantian membaca putusannya, yang pada kesimpulannya terdakwa datuk Kelana terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan Tindak Pidana Korupsi.
Menghukum terdakwa dengan pidana penjara selama 2 tahun, dan memerintahkan Jaksa / Penuntut Umum agar terdakwa ditahan di Rutan Tanjung Pinang.

Para pendukung terdakwa mendengar putusan tersebut bagai cina karam. Riuh, recok dan emosional. Tapi petugas keamanan sudah mengantisipasinya.

Petugas keaman segera membawa terdakwa datuk Kelana ke Rutan.
Suara gaduhpun kembali bergemuruh.
Penasihat hukum terdakwa mencak-mencak tak karuan.
Ia menelpon salah seorang petinggi di
Kejaksaan Agung, memohon terdakwa tidak ditahan.
Terdengar suara di handphone-nya, petinggi itu mengatakan, “itu putusan pengadilan, Jaksa wajib melaksanakannya. Jika anda keberatan, ada upaya hukumkan?”
Penasihat hukum tersebut tertunduk lesu.

Di halaman tempat persidangan itu suara teriakan seakan tiada henti, “mana Kajarinya…!!!”
Tora senyum-senyum saja. Mereka seakan tak melihat Tora padahal Tora dalam kerumuman pendukung terdakwa. Seakan-akan Tora memiliki ilmu kelimun.

Kapolres mendekati Tora agar naik ke mobilnya demi keamanan.
Dengan halus Tora menolak dan ia menyarankan agar Jaksanya, Tirta Utomo naik ke mobil Kapolres. Sementara dua Jaksa lagi, satu tim dengan Tirta Utomo tak kelihatan batang hidungnya.

Tora naik ke mobil dinasnya, mengajak Jaksa-Jaksa lain makan siang di restoran Minang, ‘mamak den’, di jalan Bakaran Batu.
Di restoran itu Tora menyempatkan diri melapor pada Jaksa Agung, Kapuspenkum dan Kejati Riau.
Selesai makan, Tora dan Jaksa-Jaksa kembali ke kantor. Ia tertidur pulas, berkali-kali Tirta Utomo datang ingin bertemu dengannya.
Menjelang senja ia terbangun, Tirta menerobos masuk dan menginfokan bahwa nanti malam pendukung terdakwa akan datang ke rumah dinas. Tirta Utomo mengatakan bahwa petugas keamanan siap. Dan ia mengabarkan juga bahwa salah seorang tim Jaksa terlibat menerima suap yang harus dikembalikan malam ini juga, jika tidak Jaksa tersebut dalam keadaan bahaya.”
“Pantau terus dan buat laporannya, sejak dini saya curiga padanya. Dan jaga keselamatanmu, situasi masih panas.”
“Siap pak”, kata Tirta Utomo.

Seusai shalat magrib, halaman rumah dinas Tora telah ramai. Pengunjuk rasa sekitar 15 orang berteriak memanggil Tora.
Tora berkemas dan membuka pintu depan. Ia berdiri menatap satu persatu pengunjuk rasa. Ia melihat Halim Fauzan, Kadis perhubungan itu ada di antara pengunjuk rasa.
Mereka mendesak Tora untuk mengeluarkan Datuk Kelana.
Dengan tenang Tora menanggapi desakan itu.
“Sdr Halim Fauzan anda dengar tadi putusan pengadilan, Hakim memerintahkan Jaksa untuk melakukan penahanan terhadap terdakwa.
Dan ingat sdr adalah pegawai negeri memimpin unjuk rasa. Saudara-saudara telah mengganggu privacy saya.
Saya minta sdr Halim Fauzan membubarkan unjuk rasa ini. Jika tidak terdakwa besok saya pindahkan tahanan tersebut ke Pekanbaru.
Dan supaya anda tahu, saya ini seperti kalian juga, anak melayu, berpantang surut jika langkah sudah dibuka. Anda sdr Halim Fauzan akan saya laporkan ke pihak yang berwajib.
Saat Tora bicara, suasana begitu hening, seakan para pendukung terdakwa itu kena sirep.
Seusai Tora bicara, Halim Fauzan mengajak teman-temannya bubar.

(*)

Binjai, 211020,

tsi taura.