(76) Cerpen Mini (Cermin) ‘Warisan Putri Melayu’

oleh -2.794 views

TUJUH hari kematian Ulung Alas pelayat-pelayat masih ada yang bertahan di rumah duka. Tanah pemakaman masih basah. Mereka yang belum beranjak pulang, Datuk Panglima Hitam, Tengku Husein Petir, Mat Litak, Tan Tualang si mata Elang, Tengku Tora dan Raka Perdana. Sedangkan Marissa, Tan Bima dan Mat Kilau seusai pemakaman kembali ke tempat semula mereka datang. Setelah kenduri hari ketujuh, mereka yang bertahan berhajat pulang.
Datuk Panglima membuka pembicaraan seusai kenduri.
“Kita harus memikirkan nasib Tengku Sita Maharani. Sampai hatikah kita meninggalkan ia sebatang kara di lembah sungai wampu ini?”

Tengku Sita menunduk haru, air matanya tumpah di lantai beralas tikar pandan yang usang. Raka, salah seorang termuda di pertemuan tersebut menyimak ucapan Datuk Panglima Hitam. Ia ingin bicara, kerongkongannya terasa tercekik. Ia ingin membawa Sita ke Batavia.

Tengku Husein petir angkat bicara, “ijinkan saya membawanya.”
Tora memotong, “biarlah Sita ikut patik”. Mendengar tawaran tersebut, Sita mengangkat kepalanya beringsut ke sisi Tora. “Pakcik, Sita sangat senang ikut dengan pakcik tapi Sita ingin lebih dulu memecah teka-teki kalung yang saya pakai dan Raka memiliki kalung yang sama pula”, ujar Sita sembari meletakkan kalung yang dipakainya ke atas tikar.

Raka kaget, dia sama sekali tak tahu, kalung yang dipakainya persis sama dengan yang dipakai Sita. Dia pun meletakkan kalungnya bergandeng dengan kepunyaan Sita. Semua yang hadir terkejut, saling berpandangan. Hanya Datuk Panglima Hitam yang bersikap tenang. Di raihnya kedua kalung tersebut. Mata batinnya menembus misteri yang terselubung.

“Sahabat-sahabatku yang aku sayangi, teristimewa ananda Sita dan Raka. Tak ada yang boleh membuka rahasia kalung ini kecuali, ayah Raka dan Ayah Sita. Ayah kalian berseteru sejak lama, dalam suatu pertarungan tujuh hari tujuh malam, di bukit silau, ayah Sita mengalah. Saat itu sebenarnya dengan sekali pukul lagi, ayah Raka rubuh. Dia memilih dirinya rubuh dan menyetujui permintaan ayah Raka. Sejak itu Ulung Alas berhenti menjadi pendekar, beralih fungsi menjadi tabib dan guru kebatinan kanuragan.
Itu yang bisa atok ceritakan. Jika atok ceritakan selengkapnya, saya takut keturunan kita kelak kena puaka.

Semua terdiam, mendengar dengan dalam makna penuturan Datuk Panglima Hitam. “Rahasia itu tidak akan pernah menguap jejak lagi karena ayah Raka dan Sita telah meninggal dunia”, Tengku Husein Petir bicara pada dirinya sendiri.”

Panglima hitam melanjut tutur, “nasihat atok hanya satu, Sita, Raka, kalian tak boleh bersama, dua api yang mudah menyala.” Bagi Raka ucapan itu bersayap, dia menuruti nasihat tetua. Sita memeluk Tora, ratapnya tak tertahan.
Tiba-tiba muncul seorang wanita setengah baya bersama suaminya, tanpa basa-basi bicara ketus, “Sita, kau segera hambus dari sini, almarhum semasa hidupnya telah menghibahkan rumah dan tanah ini pada uwak.”

Sita langsung berdiri, “ambillah semua milik ayahku, semoga uwak bahagia dunia dan akhirat.”
Sita langsung turun tangga dan berlari di kegelapan malam.
Datuk Panglima Hitam mengejar Sita. Tora dan lainnya turut mencari Sita. Ia seperti ditelan malam, hilang tak berjejak.
Datuk Panglima Hitam mengeluarkan kemampuan pamungkasnya.
Ia bersama Tengku Husein Petir saling bahu membahu menemukan jejak Sita.
Hingga azan subuh berkumandang, Sita belum ditemukan. (***)

Medan, 230820
Tsi Taura