Pesan dari ‘Bohorok Art Festival 2019’

  • Whatsapp

Oleh. Tatan Daniel

DI NEGERI yang berpuluh tahun dikelola secara totaliter, tidak mudah menghidupkan partisipasi masyarakat. Apalagi bila mereka disifatkan hanya sebagai penonton belaka. Penonton kelas kambing, yang disuguhi sajian yang berselera dagang murahan ala kapitalis semu, yang selalu niradab. Yang sekali digelar, sudah itu pantas dilupakan.

Muat Lebih

Semakin musykil pula jika kepedulian terhadap kebudayaan dan kesenian diharapkan tumbuh segar, lantaran tersandera gaya pikir pengambil kebijakan yang acap merendahkan, bahkan menihilkan keberadaan si pemilik kebudayaan.

Atau cara pandang banal, yang menganggap ekspresi kebudayaan, semisal kesenian tradisi, hanya komoditas belaka. Cukup dibungkus dengan pilihan kata-kata agung di panggung retorika lalu dipajang di etalase keramat berbau kemenyan. Atau dibikin sebagai sesajen klangenan yang berornamen turistik. Atau sekedar digelar sebagai pemanis upacara penyambutan Tuan Besar.

Dengan segala kenaifan dan arogansi itu, tak pelak akhirnya partisipasi atau peran serta masyarakat menjadi barang mewah. Menjadi teori yang tak pernah membumi. Istilah ‘gotong-royong’ pun menjadi terasa bagai jisim keramat para dukun. Dipahami makna harfiahnya, tapi terasa aneh, rumit, dan ‘ribet’. Urusan kerja bersama untuk kemaslahatan bersama pun, lantas disikapi sebagai proyek, dengan kalkulasi untung rugi yang ‘saklek’.

Perhelatan Bohorok Art Festival, yang diselenggarakan di Desa Empus beberapa hari lalu, tak urung mengikis beberapa ikhwal remang-remang, yang ‘ngeri-ngeri sedap’. Bahwa ikhtiar mengangkat beberapa kesenian tradisi Melayu setempat, warisan yang sudah tertimbun debu waktu itu, kegiatan yang digerakkan secara swadaya murni oleh seorang muda, Khairul Anwar, Ade Fauzi, Ei Keiza, dan segenap masyarakat desa Empus itu, dikuatirkan tak bertaut dengan ‘selera pasar’. Selera yang hak pengurusannya dianggap selalu di tangan pembuat dan pemangku kebijakan.

Menjadi peristiwa budaya yang mengharukan, tatkala yang terjadi adalah luapan rasa sukacita dan kerinduan yang hangat dari masyarakat di tepi belantara Taman Nasional Gunung Leuser itu. Inisiatif yang muncul dari jantung dan denyut darah mereka menjadi pemantik bagi menyalanya semangat untuk membuat perhelatan menjadi terhormat dan bermartabat. Bukan sekedar kegiatan ‘kaleng-kaleng’, ‘abal-abal’, atau cuma menjalankan kewajiban rutinitas.

Saya menjadi penyaksi spontanitas yang bergulir, harapan yang hidup, dan keriangan yang sungguh-sungguh. Orang-orang yang berdandan di rumah-rumah mereka, lalu berbondong datang dengan teluk belanga, kain songket membalut pinggang, dan peci di kepala. Ibu-ibu berbusana baru, yang berjalan kaki berkilometer jauhnya, anak-beranak, dan khusuk menghitung tempo dan lenggang penari. Dan mengapresiasi dengan tepuk tangan meriah, untuk setiap penampilan yang menarik. Persis seperti hari raya bagi mereka.

Pun begitu pula mereka, warga sukarela ‘penyedia home stay’ dadakan yang dengan keramahan keluarga Melayu, menyambut utusan kesenian dari berbagai kota di Sumatera Utara: Stabat, Binjai, Medan, Batangkuis, Tanjung Morawa, Kisaran, Aek Kanopan.. Para ‘liaison officer’, anak-anak muda Bohorok yang santun dan cekatan, menyambut dan melayani para tamu budaya dengan kesiapan tempat tidur dan masakan. Para pemuda berteluk belanga yang bekerja setiap waktu memastikan kebersihan, kenyamanan, dan keamanan terjaga, tidak hanya di medan rumput perhelatan, tapi juga di seantero kampung.

Saya menjadi penyaksi kemeriahan yang jujur. Ibu-ibu yang menghidangkan makanan khas seperti Nasi Lada, kue-kue asli tempatan, penjual jagung bakar, kacang rebus, dan aneka buah, yang bahagia.

Menjadi saksi dengan mata berkaca melihat Pak Ishak dan rombongannya, para tetua penabuh dan pelantun seni Bordah yang setia, yang datang dari sudut kota Stabat, lalu hadir di panggung terhormat, melantunkan salawat dan bebunyian yang sudah lama sekali tak berdentung di atmosfir Bohorok. Para pemusik seni tradisi Eskongkong, yang cuma ada di Bohorok, yang riang bersemangat mengiringi anak-anak mereka menari. Pembawa acara yang andal, Afit dan Eva, yang tak henti menyemangati dan berseru tentang kedakhsyatan acara. Para seniman ronggeng yang bergabung di Kumpulan Pak Pong Medan, yang dengan tulus ikut merayakan dua hari perhelatan. Dengan bulat hati, dengan ekspresi tak terperi, Iwan Amry, Mak Yal, Roy Irawan, dan rombongan memberi jaminan dukungan terbaik dan penuh!

Menjadi pemandangan yang menggetarkan, ketika tari Serampang Duabelas, yang pernah dicanangkan Presiden Sukarno sebagai tari nasional itu, tampil dengan pesonanya. Tari yang tahun 1950-an dulu, dengan rombongan yang dipimpin oleh Sauti, dihantarkan oleh Bung Karno ke berbagai kota dunia, tampil sebagai duta diplomasi budaya dari sebuah negara yang baru sepuluh tahun merdeka: Indonesia!

Tari yang telah ditetapkan oleh negara sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia itu pun mengisi atmosfir negeri Bohorok, mengisi ruang di pekarangan depan hutan belantara Taman Nasional Gunung Leuser, di poros pegunungan Bukit Barisan. Ia seperti mayang pulang ke tampuk, pulang kembali ke hati masyarakat yang nyaris melupakannya. Ia tampak agung dengan latar pohon, lanskap hijau, semangat himpunan manusia yang tak hendak kalah dari kota-kota lain.

Tiba-tiba terasa, seakan Bohorok muncul menjadi kota budaya baru yang menawarkan harapan. Yang tak ingin dipandang sebelah mata. Yang tak ingin dianggap terbelakang dan ketinggalan. Yang tak ingin mengecewakan dunia. Kendati, tentu saja, tetap ada hal-hal yang harus disempurnakan.

Tidak mudah membuat orang rela berpartisipasi, kecuali karena kesadaran bahwa ‘hari raya kampung’ itu adalah milik mereka. Jika pun tak ada pemangku budaya atau instansi formal yang dengan rendah hati bersedia hadir (setelah dengan segala hormat diundang karena ‘ex officio’), taklah mengapa. Taklah menjadi persoalan penting juga. Kendati ketidakhadiran itu dirasakan oleh kalangan tokoh di sana sebagai semacam peremehan. Seakan, ikhtiar warga yang dengan besar hati dan tungkus-lumus bekerja merawat budaya itu, sesuatu yang merendahkan gengsi jika dihadiri.

Inisiatif dan gerakan murni dari masyarakat, yang sesungguhnya amat ‘mahal’, baik dari sudut hitungan moral, sosial, budaya, dan ekonomi itu, haruslah terus dirawat oleh masyarakat setempat. Ia tak boleh padam atau dipadamkan.

Bohorok bukan negeri yang baru tiba-tiba muncul dari perut bumi. Ia adalah kota tua, yang ratusan tahun lalu menjadi sebuah Kejuruan dari sebuah kerajaan Melayu besar yang berdaulat. Kini pun ia tercatat di kitab UNESCO sebagai salah satu destinasi wisata dan lebensraum yang penting, baik sebagai bagian dari penjaga paru-paru dunia, tapi juga sebagai habitat banyak satwa langka, yang tak ditemukan di belahan bumi mana pun.

Khairul Anwar sang pencetus ‘Bohorok Art Festival’ (Tatan Daniel)

Dan sepatutnya, peran pemerintah lokal sampai pusat di Jakarta adalah mencermati gairah yang muncul di sana. Memfasilitasi berbagai kebutuhan mereka. Jalan raya yang mulus, pasar kampung yang pantas, ruang ekspresi budaya, sanggar kerajinan, dapur-dapur kuliner khas, dan sebagainya. Kawasan Bukit Lawang yang kumuh, jorok, semrawut, acak-acakan, tumbuh sesuka hati, bagai bertahun-tahun tak pernah tersentuh aturan, harus segera dibenahi.

Saya tak terlalu suka menghubungkan urusan kebudayaan dengan soal-soal kepariwisataan. Karena seringkali, kebudayaan dianggap pelengkap, tempelan, komoditas dari selera rendah penanganan urusan kepariwisataan. Ia kerap dianggap sebagai ‘benda’ turistik belaka. Sama dengan nilai sepotong souvenir, atau sekerat makanan, atau bahkan sekedar sebagai tissue toilet belaka.

Tapi faktual, Bohorok adalah sebuah tempat yang ramai dikunjungi oleh orang-orang dari Eropa dan Australia. Meski dengan promo asal-asalan, yang tak pernah serius.

Maka menjadi penting, menghidupkan kebudayaan, dan semangat masyarakat setempat untuk mengisi keseharian mereka dengan pelbagai perangkat dan elemen kebudayaannya, merasa berguna dan bermarwah, agar Bohorok sebagai rumah wisata menjadi indah, sentosa, permai, dan mengilhami.

Kebudayaan tidak sekedar menjadi renda-renda. Ia harus inheren dengan denyut prikehidupan sehari-hari masyarakat setempat. Sehingga jika bertamasya di sana, menjadi benar-benar terasa bermakna. Tidak kering dan kosong nilai. Harus sama maknanya seperti jika kita berkunjung ke Milan, Istambul, Barcelona, Praha, Osaka, Katmandu, atau kota-kota eksotis dunia lainnya! (***)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *