Onang Onang

  • Whatsapp
Foto: Onang-Onang (repro.rizaldi siagian)

Catatan. Rizaldi Siagian

ONANG-onang, maronang ile baya onang“. Seperti inilah kalimat akhir yang terdengar setiap bait-bait lagu–yang isinya kaya dengan kabar, cerita, sejarah, marga-marga, struktur sosial dan sistem kekerabatan–dalam tradisi musik vokal yang menjadi perangkat adat penting dalam upacara adat, terutama upacara ‘horja godang’ (pesta besar) perkawinan orang Angkola/Mandailing.

Muat Lebih

Melodi yang terus diulang-ulang ini dibangun diatas empat buah nada utama (sol, fa, mi, re (dan do yang tampak lebih berfungsi sebagai nada hias)) dengan ciri-ciri susunan nada menurun diawali nada sol dan berakhir pada nada re.

Keindahan yang diungkapkan di dalam struktur melodi yang, istilah teknisnya, disebut ‘strophic’ (berbait) ini bukan terletak pada susunan bunyi melodius yang diekspresikan berbalas-balasan antara vokal dan suling, tetapi isi dan makna yang terdapat didalam teks yang dinyanyikan.

Isi teks lagu inilah yang membuat audiens bisa merasa asyik dan meresponsnya dengan rasa sedih dan haru, senang, tertawa, dan berbagai ekspresi responsif lainnya.

Dalam etnomusikologi ciri-ciri musik vokal jenis ini disebut ‘logogenic’, yaitu ciri-ciri musik yang mengutamakan dan mengedepankan sistem logika didalam teks yang dinyanyikan.

Konsep yang berseberangan dengan ciri-ciri ini dimana susunan bunyi-bunyian horizontal (melodi) maupun vertikal (harmoni) lebih diutamakan disebut ‘melogenic’.

Musik vokal Onang-Onang yang diiringi sebuah ensembel yang disebut ‘Gondang Boru’.

‘Onang-onang ini direkam dalam horja godang, upacara adat perkawinan putra kerabat, Darwin Siregar dengan Vivi Visia Rosa Lubis di Jakarta, kemarin, Senin (22/7/2019). (***)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *