Perahu dan Sutardji

  • Whatsapp
‘perahu Nabi Nuh’. Bangunan unik itu, ‘terdampar’ di bantaran sungai Bohorok. (tatan daniel)

Oleh. Tatan Daniel

KETIKA blusukan ke Bukit Lawang, saya menemukan ‘perahu Nabi Nuh’. Bangunan unik itu, ‘terdampar’ di bantaran sungai Bohorok. Sepelemparan batu dari rimba Taman Nasional Gunung Leuser.

Nyaris seluruhnya terbuat dari bambu, bambu betung gigantik, dan berjenis bambu lainnya, yang disusun seksama dan artistik. Atapnya terbuat dari sirap, yang sebagian sudah ditumbuhi jamur hutan.

Sudah belasan tahun ia tegak di situ. Bahkan sebelum banjir bandang menerjang Bukit Lawang. Di musim liburan (peak season) Juni-Juli ini, tempat yang dikelola oleh ‘EcoLodge’ ini, penuh dihuni oleh wisatawan dari Eropa dengan bermacam profesi: peneliti, aktivis lingkungan, penulis, jurnalis, terutama mereka yang berkepentingan terhadap hutan dan fauna langka.

Berdiri di geladak perahu Nuh ini, saya membayangkan seratus penyair se-Asia Tenggara, membacakan sajak-sajak mereka di tengah kehijauan bentangan alam, diantara deru sungai dan angin Bohorok, serta derai hujan deras yang menerpa dedaunan hijau.

‘Bohorok Poetry Festival’ semakin menderu pula dalam benak saya. Pertemuan para penyair hebat yang berbicara tentang rimba, ranting patah, auman harimau, tangisan orangutan, dan masa depan bumi.

Dan seorang Sutardji Calzoum Bachri dengan takzim membacakan sajaknya dengan gemeremang suara. (***)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *