Cerpen Tiga Paragraf (Pentigraf) (60) ‘Kembali Ke Jakarta’

oleh -1.243 views

BUMI Ternate sunyi sepi. Sesekali terdengar suara letupan. Orang-orang berlari. Terkejut seperti letusan gunung Gamalama di Maluku Utara.
Suara gaduh, suara teriakan yang tak dimengerti Mat Kilau. Dia pun keluar rumah, nalurinya kerusuhan bersaudara berkecamuk lagi.
Dia meminta saran pada sahabatnya Tora, yang juga Penuntut Umum saat itu bertugas di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau.
Tora menyarankan melaporkan keadaan pada pucuk pimpinan pusat di Blok M. Kebetulan Mat Kilau pernah menjadi anak Pimpinan tersebut, sehingga Mat Kilau tak cuak menghubungi langsung melalui ajudannya. Mat Kilau melapor rinci situasi keamanan di Provinsi pemekaran itu. Sembilan rekannya yang dimutasikan ke daerah konflik itu masih bertahan di Manado. Hanya Mat Kilau bersama calon stafnya yang pertama kali mencecah tanah Ternate. Pimpinan Blok M memerintahkan Mat Kilau segera meninggalkan daerah tersebut sampai keadaan benar-benar aman dan terkendali. Mat Kilau meneruskan informasi tersebut kepada rekan-rekan sejawatnya yang masih menunggu di Manado.

Terkejut Mat Kilau ketika memasuki pesawat Bali Air dari Bandara Sultan Babullah, di deretan sheatnya telah duduk dengan muka cemas Lydia.
Lydia tak menandainya karena Mat Kilau memakai Wig dan kacamata gelap. Mat Kilau mendapat sheat di dekat jendela dan Lydia di tengah. Sebelum pesawat mundur dan mengarah ke landas pacu, Lydia membaca koran media Indonesia yang sudah difotocopy. Mat Kilau mengeluarkan buku agenda kecil dan menarik pulpen yang melekat di jaketnya. Dan dia menulis sebaris, dicorengnya, ditulisnya lagi, dicoreng lagi, dan akhirnya dia dengan tenang menulis ketika pesawat tinggal landas. Dan tertulis judul sajak “Perempuan Di Kota Seribu Benteng”. Lydia melayang bayangan, tiba-tiba dia teringat Mat Kilau. Dia menyesal tak memberitahu si Penuntut Umum itu bahwa dia dan berapa temannya diperintahkan pulang ke kota asalnya, sampai waktu yang tak dapat diprediksi.
Dia sangat terkesan atas sikap Mat Kilau yang masih menjaga etika ketimuran. Kearifan lokal yang kental masih dimilikinya, padahal siapa yang tahu kalau mereka tidur sekamar dalam hotel yang jauh dari kampung halaman. Dia menjaga marwahnya. “Aku jadi malu sendiri?”, Lydia bicara pada dirinya sendiri. Sedangkan Mat Kilau masih merasakan duka yang dalam karena kematian Sri Kumala. Dia seakan menutup pintu untuk semua perempuan yang menggodanya. “Aku tak tahu sampai kapan aku hidup sendiri, sementara ayahku semakin ringkih di makan usia”, Mat Kilau bergumam. Bayangan Lydia sedikitpun tak terlintas dibenaknya, malah lamunan mengembara ke raga Sonya. Tak terasa pesawatpun mendarat di Bandara Samratulangi, Manado. Dia membiarkan Lydia turun duluan, beberapa saat kemudian barulah dia berdiri melangkah menuju tangga penurunan penumpang.

Mat Kilau bergegas ke Toilet. Perutnya tiba-tiba mulas. Di toilet dia membuka wig-nya. Mengganti pakaian dengan celana jeans, kaos ketat merah hati. Jaket dan wig-nya dimasukkan ke kopor kecil. Dia agak terhuyung ketika keluar dari toilet, keringat dingin, perutnya memulas. Dia ke kantin memesan teh manis dan nasi kuning khas Manado yang lezat. Makanan itu tak habis, hanya beberapa suap yang memasuki perutnya. Dia menunduk di meja setelah menggosok perutnya dengan minyak kayu putih.
Tertidur beberapa menit kemudian dia terbangun ketika sayup-sayup dia mendengar namanya disebut. Seorang temannya Jaksa di sampingnya, “kenapa abang?Sakit?”, tanya Paulina Jaksa yang bertugas di Manado. Paulina seangkatan dengan Mat Kilau. “Hey, gadis manis, patut aku terbangun rupanya si jelita di dekatku”, kata Mat Kilau. Paulina tersenyum, abang sakit?”, tanya Paulina lagi. Mat Kilau menjelaskan keadaannya. Paulina bertindak cepat membawa ke klinik Bandara. Setelah terasa enak perutnya, Mat Kilau pamit berangkat ke Jakarta. Paulina tergelak, “tak usah pamit bang, aku juga mau ke Jakarta mengikuti pendidikan teroris di Badan Diklat Ragunan. Rupanya mereka satu pesawat. Paulina dan Mat Kilau sangat akrab ketika mereka sama-sama mengikuti pendidikan Jaksa.
Mereka seperti dua sejoli yang selalu dekat terutama hari libur. Cintapun bersemi tanpa terucapkan.
Hidup ini kumpulan kebetulan-kebetulan belaka. Sungguh tak pernah diduga oleh Mat Kilau bertemu Sonya dalam pesawat yang dia tumpangi. Sonya kembali menjadi pramugari yang luwes, ramah dan bersahaja. Mereka berpandangan sekilas, ada isyarat yang dipahami oleh Mat Kilau. Dia pun pura-pura ke toilet, kesempatan itulah Sonya memberi sehelai surat tanpa amplop pada Mat Kilau. Sonya melempar senyum, Mat Kilau memasukan surat itu ke kantong celananya. Seperti tak terjadi keadaan apa-apa, Mat Kilau berbalik menuju sheatnya di samping Paulina. (***)


Binjai, 290720
Tsi taura