Cerpen Tiga Paragraf (Pentigraf) (59) ‘Bunga Di Taman Lain’

oleh -1.389 views
tsi taura

CUTI tahunan Mat Kilau berakhir di tujuh hari kematian Sri Kemala. Dia segera kembali bertugas di daerah gambut Tanjung Jabung Barat, yang lebih dikenal dengan sebutan Kuala Tunggal. Tiga bulan kemudian seusai dia menyidangkan perkara pembunuhan satu keluarga yang dilakukan seorang buruh kebun, Mat Kilau dimutasikan ke daerah komplik, perang saudara, di Ternate. Dalam perjalanan Jakarta – Ternate dengan pesawat udara, di dalam pesawat dia berkenalan dengan seorang dokter perempuan, Lidya Ningrum, juga di tempatkan bertugas pertama kali di Ternate. Perkenalan yang sekilas, karena berdekatan sheat dalam pesawat Mandala Air Line dengan route penerbang Jakarta- Surabaya – Ujung Pandang dan Manado. Mereka hanya bicara seperlunya saja, menutup pintu kejenuhan dalam penerbangan yang melelahkan. Tiba di Manado, senja telah tertinggal jauh. Mereka menginap di hotel yang sama, tak jauh dari Bandara Sam Ratulangi, hotel Novetel, berlokasi di jalan A.A. Maramis Manado. Sepertinya Lydia tak ingin berpisah dengan Mat Kilau. Mat Kilau mengatakan tak elok sekamar di negeri yang jauh ini. Lydia akhirnya memahami.

Jam 08.00 pagi waktu Manado, Mat Kilau dan Lydia terbang dengan pesawat merpati yang penumpangnya hanya 7 orang. Terbang rendah, laut dan pohon-pohon kelihatan jelas. Berdegub kencang juga jantung mereka terbang dengan pesawat kecil itu. Tanpa pramugari, pilotnya asyik baca koran menambah cuak nyali dua orang anak Sumatera itu. Ldya tanpa sungkan memegang tangan Mat Kilau. Keringatnya mencucur dingin. “Berdoalah semoga kita mendarat mulus di Ternate.
Penerbangan yang diperhitungkan satu jam terasa begitu lama. Pesawat seperti bergoyang ke kiri dan kanan dihantam angin yang mendesau keras. Mat Kilau mengisap rokok untuk menghalau stressnya.
“Jera saya naik pesawat ini lagi, nanti jika kita ketemu lagi pulang atau pergi bareng, naik kapal laut sajalah”, kata Lidya. Mat Kilau seperti tak mendengar ucapan Lydia, lamunan mengembara ke Sri Kumala. Dia baru tersentak ketika Lydia mencubit pahanya. Dia tergagap, Lydia tergelak.
Tiba-tiba pesawat seperti terhempas keras saat mendarat di Bandara kecil Sultan Babullah.

Kiri kanan keluar Bandara berjejer pohon-pohon kelapa. Seperti kampung di pesisir. Di pintu keluar mereka berpisah, Lydia melambaikan tangannya. Dengan tangan yang berat, Mat Kilau membalas lambaian itu. dr Lydia dijemput rekannya sesama dokter. Mat Kilau dengan mobil rental menuju kantornya. Kantor tua yang dekil. Kosong, seperti libur panjang. Dia tersenyum dengan perut keroncongan. Dia mengeliling kota Ternate sambil mencari-cari restoran. Si Driver menginfokan tak ada restoran di sini, dulu ada restoran padang, rubuh tak berbekas dilantak kerusuhan bersaudara. Si driver membawa Mat Kilau ke sebuah warung menjual menu Soto Makasar. Di situ dia bertemu lagi dengan Lydia. Mereka makan bersama. Mata Lydia liar menusuk lembut wajah Mat Kilau. Lydia perempuan yang lincah, berlesung pipit, rambut sebahu, sungguh mempesona bila dia tersenyum.
Mat Kilau pamit duluan mencari penginapan di hotel melati seperti rumah kos-kosan.
“Inilah kehidupan, sesuatu yang tak pernah hadir dalam mimpi, singgah dalam dunia nyata”, Mat Kilau bicara pada dirinya sendiri (***)

Bandung, 250720
Tsi Taura.