Cerpen Tiga Paragraf (Pentigraf) (57) ‘Hati Seorang Sahabat’

oleh -1.091 views

KEDATANGAN Mat Kilau bersama Sonya ke rumah Putri Sri Kumala yang semula menghunjam sembilu ke hulu hati Sri Kumala. Dia merasa dibakar perasaan padahal sebelumnya dia begitu cuek jika ketemu dengan Mat Kilau. Dia tak menyadari cinta bisa mekar di tanah gersang. Cinta bisa terbit dari sinar kebencian. “Jangan-jangan Mat Kilau menyembur ilmu petunang di lahan keacuhanku”, Sri Kumala bergumam.
Saat kedatangan itu rasanya Sri Kumala hendak menyiramkan air raksa ke muka Sonya. Dengan istigfar dia mampu meredam marahnya. Dan ketika Sonya menjelaskan kedatangannya bersama Mat Kilau semata-mata menemani Mat Kilau menemui Sri Kumala, Kumala meragukan apa yang dikatakan sahabatnya itu. Akhirnya yang semula dia membenci kedatangan Sonya tersebut berubah menjadi bunga api yang indah di keremangan malam.

Tiba-tiba Sri Kumala diganggu lagi pikiran yang buruk. Dia menduga kedatangan Sonya adalah kedatangan seorang mata-mata di dalam negeri hati yang damai. Dari gerak bibir dan pandangan mata Sonya yang dingin seakan membisikan pada Sri Kumala bahwa kedatangan Sonya dan Mat Kilau adalah untuk mengetahui reaksi Sri Kumala
Malam bersama Sonya dalam satu ranjang, Sri Kumala bermimpi buruk, Sonya mencabik-cabik mukanya dengan silet. Sri Kumala menjerit-jerit hingga terdengar oleh ayahnya Tengku Usman Pelor. Ayahnya menggedor-gefor pintu kamar Sri Kumala. Sonya terbangun membuka pintu. “Ada apa Sonya, ayah dengar ada suara jeritan?”, tanya Tengku Usman Pelor. Sonya merasa heran atas pertanyaan tersebut karena dia tak mendengar apa-apa. Sri Kumala terbangun menceritakan pada ayahnya apa yang terjadi dalam tidurnya. Si Ayah memegang kedua telinga putrinya dan mulutnya berkomat kamit. Kemudian Sri Kumala tertidur pulas. Sonya merasakan kebencian Sri Kumala pada dirinya. Pertanyaan Sonya tentang mimpi Sri Kumala dijawab dengan membuang mukanya. Tidur dengan memunggungi Sonya. Pagi harinya Sri Kumala tak mau bangun ketika Sonya pamit.

Seminggu kemudian Sri Kumala menderita sakit aneh, menjerit-jerit, berlari ke sana kemari dengan rambut yang kusut, pakaian acak-acakan. Memanjat pohon-pohon dan bernyanyi tak karuan. Kampung Simpang Kramat tempat Sri Kumala berdomisili menjadi gempar, cerita dari mulut ke mulut menyebut Sri Kumala terkena polong, penyakit saraf yang disebabkan guna-guna. Berita itu sampai ke telinga Mat Kilau. Dia menjenguk tunangannya dengan penuh iba. Matanya sembab karena sedih yang mendalam. Dipeluknya erat Sri Kumala, membaca mantra leluhurnya.
Dia membisik pada calon mertuanya, “segera kita panggil datuk panglima hitam. Restui pernikahan kami dalam waktu dekat”, kata Mat Kilau. Tengku Usman Pelor mengangguk.
Mat Kilau memacu kenderaannya menjemput Datuk Panglima Hitam untuk mengobati calon istrinya tersebut.
Tiba-tiba Sri Kumala menyelap, lari ke jalan besar. Sebuah mobil melaju kencang menggilas tubuh Sri Kemala. Nyawanya tak tertolong.
Mat Kilau tak mampu menahan kesedihannya, dia bersumpah membalas orang yang mengguna-gunai Sri Kumala. Dibopongnya tubuh Sri Kumala yang berlumuran darah.
Rumah duka penuh sesak mengutuk pelaku guna-guna tersebut. Langit menangis mengusung kerenda cinta kasih yang karam saat laut tenang. (***)


Bandung, 230720
Tsi Taura.