Cerpen Tiga Paragraf (Pentigraf) (56) ‘Putri Melayu Di Tanah Seberang

oleh -1.094 views

TAMAT SMA Putri Sri Kumala dan Sonya menyeberang ke Batavia. Keduanya ingin jadi pramugari. Hal tersebut mereka mimpikan karena adanya anggapan pramugari gajinya besar. Bisa mencecah kaki ke berbagai negara. Dalam hal ini tentu dua puteri melayu tersebut harus memilih tempat pendidikan pramugari. Untuk menjadi pramugari tidak hanya dituntut berpenampilan menarik tetapi dia harus mampu memberikan pelayanan prima pada penumpang, mahir dalam memberikan informasi pada penumpang tentang tata cara penggunaan alat-alat keselamatan dalam penerbangan. Untuk memenuhi itu semua calon pramugari harus mengikuti pelatihan di sekolah khusus pramugari.
Sonya dan Sri Kemala memiliki kecerdasan untuk menjadi pramugari.
Mereka cepat diterima di perusahaan penerbangan. Asyik mereka dengan profesinya, hingga lupa pada tanah leluhurnya dan bahkan lupa merancang masa depan dengan berkeluarga. Tapi tiada yang abadi, apa yang dilihat ini hari, besok lusa menjadi potret yang buram. Lamunan Sri Kemala tersentak saat ayahnya, Tengku Usman Pelor memanggil Sri Kemala untuk menemaninya makan malam. Sri Kemala bersungut dan tak bersemangat duduk berhadapan ayahnya di meja makan. Dia hanya melihat wajah ayahnya yang lelah dan kusut. Si ayah meminta Kemala agar menelentang piringnya yang masih telungkup. Kemala menggeleng lesu. Ayahnya berpetuah, “nak, yang bermula akan berakhir. Semuanya sudah tergaris di langit, terimalah takdirmu hari ini.”

Azan subuh menyentakkan tidur kemala yang pendek. Dia tertidur di Sofa. Ayahnya bergegas ke mesjid, Kemala membersihkan tubuhnya dengan air hangat, menghalau sejuk yang tajam. Pulang dari mesjid, tengku Usman Pelor sarapan pagi yang terhidang oleh Kemala. Pada kesempatan itu ayahnya bertanya apakah Kemala masih ingat dengan anak tengku Tualang Gayo. Berdesir darah Sri Kemala, semalam dia mengingat pertemuannya dengan Mat Kilau di kantin Bandara Kualanamu. Entah kenapa dia tiba-tiba menyenangi Mat Kilau yang dingin itu. Mereka pernah berjumpa di Jambi, Jakarta dan Palembang. Kilau hanya menyapa seulas dan diapun tak pernah tertarik pada penampilan Mat Kilau. Di Kualanamu kemarin itulah hatinya seperti singgah di hati Mat Kilau. Mat Kilau masih seperti pertama kali mereka bertemu di jambi, cuek tapi ramah. Ada yang mengusik pikiran Kemala, kenapa pada Sonya Kilau seperti ada kemesraan yang terselubung. Mereka begitu mahir memainkan peran seakan tak ada hubungan istimewa yang terjalin.
“Mala, kau dengarkah suara ayah tadi tentang Mat Kilau?”, tanya sang ayah membuyar lamunan nya.
Dengan tertunduk tersipu malu Kemala menceritakan apa adanya tentang Mat Kilau. Tengku Usman memberitahu Kemala tanpa setahunya ayah Mat Kilau telah meminang Sri Kemala untuk dipersunting menjadi istri anaknya.
Mendengar hal tersebut, Kemala menatap tajam ayahnya. Dia ingin terbang jauh mematuk-matuk adat leluhurnya itu. Tapi dia tak tega melihat sinar mata ayah, seperti lampu dinding kekurangan minyak. Dengan lembut dia bertutur, “jika ayah sudah menerima pinangan taklah elok memuntahkannya”, kata Sri Kemala. Si ayah mendekati dan memeluk putrinya penuh kasih sayang. Dia bersyukur anaknya masih patuh pada sosok tua yang renta. Sebelum matahari setinggi penggalah, tengku Usman Pelor menemui tengku Tualang Gayo, ayah Mat Kilau. Meniti rencana resepsi pernikahan putra-putri mereka.

Sore hari sehari mereka tiba dari Jakarta, Sonya nelpon Kemala, memberitahu dia mau nginap di rumah Kemala. Kemala gusar bagaimana jika Sonya tahu dia telah ditunangkan dengan Mat Kilau. Hubungan mereka bisa pecah seperti tawas dihempas ke lantai. Akhirnya Kemala mengacuhkan segala kemungkinan yang bakal terjadi. Berat memang mengingat persahabatan mereka yang sudah begitu lama terjalin. “Aku tak mau lari dari masakah karena satu ketika masalah itu muncul lagi dengan rupa yang lebih bengis”, kata Kemala pada dirinya sendiri.
Seusai maghrib sonya tiba di rumah Sri Kemala.
Bumi terasa berguncang, pandangan yang tak pernah terbayangkan oleh Kemala. Sonya datang bersama Mat Kilau yang masih menjalani cuti tahunan di kampungnya. Mereka kelihatan begitu mesra namun Sri Kemala mampu menguasai dirinya. Dia menyambut dengan senyum dan ramah kedatangan Sonya dan Mat Kilau.
Sofa yang diduduki Kemala terasa seperti menduduki ujung bayonet. Keringat dinginnya mencucur. Sonya tergelak, Mat Kilau tersenyum menyaksikan gestur Sri Kemala.
Dan tak lama kemudian, sonya berkata lembut, “Mala, aku hanya menemani abang ini kemari. Katanya kalian sudah bertunangan. Akulah yang paling bahagia mendengar ucapan itu. Aku dan abang ini sepupuan. Di sini cinta kalian berlabuh. Bicaralah, aku mau nemui ayahmu. Aku sangat rindu padanya”, kata Sonya sembari melangkah ke ruang perpustakaan tempat ayah Kemala berehat di hari tua. (***)


Kualanamu, 220720
Tsi taura.