Cerpen Tiga Paragraf (Pentigraf) (52) ‘Seribu Tanya Tak Berkawab’

oleh -1.061 views

SETELAH tiga kali dua puluh jam, Haji Ulok dan Tan Tualang menunggu kedatangan Chadijah, menjelang magrib, gadis manis, tinggi semampai, berambut sebahu mengetuk pintu rumah Haji Ulok. Saat itu mereka sedang berada di langgar menunaikan shalat magrib berjemaah. Istri Haji Ulok menyuruh Chadijah untuk duduk dulu di rumahnya. Selanjutnya istri Haji Ulok bergegas ke langgar untuk memberitahukan pada suaminya. Shalat belum dimulai, dia memanggil suaminya menginformasikan Chadijah sudah di rumah. Haji Ulok menyuruh istrinya agar Chadijah menunggunya. Jangan sampai dia jenuh dan pergi, harapan Haji Ulok pada istrinya, Saniyem. Secepatnya Saniyem berbalik langkah melaksanakan perintah suaminya.

Haji Ulok membisikkan pada Tualang, “target sudah masuk jeratan”. Tualang mengangguk, dia keluar sekejap menghubungi salah satu anggotanya, Datuk Tunggal, perompak laut yang sangat ganas. Tualang memerintahkan Datuk Tunggal yang rumahnya tidak jauh dari rumah Chadijah. “Bawa mobilmu, amankan anak Andi Bone, Chadijah yang menculik puteriku Sri Kemala. Kerja yang rapi, bawa ke gunung hijau, aku menyusul”, kata Tan Tualang. Tanpa tanya lagi, Datuk Tunggal bergerak cepat. Dia menuju rumah Haji Ulok bersama seorang anggota ‘singa lapar’ lainnya bernama Lucut Raga. Saat mereka masuk ke rumah Haji Ulok, Chadijah sedang menikmati rokok putih. Lucut Raga segera membekap mulut Chadijah. Chadijah kaget dan terkulai, Lucut Raga mendorong tubuh Chadijah masuk ke jok belakang mobil mereka. Saniyem, istri Haji Ulok tenang saja karena sudah diberitahu suaminya. Gang kecil itu sunyi karena masyarakatnya sedang memenuhi langgar untuk shalat magrib berjemaah,

Seusai shalat magrib, Tualang pamit pada Haji Ulok dan berjanji segera kembali menemui Haji Ulok, mantan preman yang sangat disegani di Kemang dan seputarnya. Tualang dengan taksi online melaju ke arah Purwakarta, tepatnya tak jauh dari lokasi gunung hijau yang angker dan penuh misteri.
Di dalam sebuah rumah tua di hamparan depan padi membisu. Tualang dengan memakai sebo hitam. Chadijah begitu tenang menghadapi kemarahan mantan anak buah ayahnya, Andi Bone. “Kembalikan anakku sebelum kesabaranku habis”, kata Tualang dengan suara menggegar. Mendesing kuping Chadijah, dan berkata, “Kembalikan nyawa ayahku, akan kukembalikan putrimu.” Beruntun pertanyaan Tualang, Chadijah tersenyum. Tidak semua pertanyaan mesti dijawab bang Tualang. Emosi Tualang tak terbendung, dia mengantukan kepala Chadijah ke dinding berkali-kali hingga berdarah. Tualang kemudian mengeluarkan koran lusuh yang memberitakan bahwa Andi Bone tewas diberondong peluru oleh petugas pengamanan laut. Teman-teman Andi Bone melompat ke laut menuju pinggiran hutan, gagal dibekuk petugas.
Seusai membaca koran itu, Chadijah berdiri memeluk Tualang, menangis kesal memohon maaf. Tualang segera mengobati luka di kepala Chadijah. Datuk Tunggal membaca mantra mengembus ubun-ubun Chadijah.
Malam itu juga mereka menuju Bandung. Tualang membiarkan kepala Chadijah rebah di pangkuannya. Pada Haji Ulok Tualang menulis:
Seribu tanya membisu
Pada dinding dia bercakap
Menutur sesal dalam
Esok kami ke sini
Melepas terima kasih (***)


Binjai, Juni 2020
Tsi Taura