Cerpen Tiga Paragraf (Pentigraf) (44) ‘Sirih Naik Junjungan Patah’

oleh -995 views

TIGA bulan setelah Tora menjalani pensiun dini di salah satu instansi penegak hukum, dia memutuskan menambah penghasilan sebagai driver taksi online di Jakarta. Penghasilan pensiun sama sekali tak mencukupi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Hari pertama dia menyelusuri Jakarta, nihil penumpang. Dia pun mangkal di samping Warung Tegal (Warteg) di seputar Kemang, tak jauh dari gubuknya. Dia seorang optimis, tak miris sedikit pun. Minggu-minggu berikutnya, rejekinya mulai mengalir. Di waktu rehat seperti kebiasaannya, dia mengirim WA kepada-kawannya, mantan staf, pimpinan dan teman-teman di kampung kelahirannya. Biasanya puluhan temannya merespon, tapi setelah pensiun, hanya bebera orang saja yang membalas WA-nya. Dia tak kecewa. Yang mengusik pemikirannya berita tentang profesi barunya menjadi viral di instagram, “Mantan Pejabat Tinggi mengais rejeki di taksi online.” Entah siapa yang mempostingnya pertama kali. Hang Kilau menyabarkannya, “Siapa yang berkuasa ini hari, esok lusa dia mungkin menjadi orang biasa-biasa saja, yang biasa-biasa saja ini hari, mungkin esok lusa menjadi orang yang berkuasa. Kau tak perlu sakit hati, inilah dunia. Jika engkau ingin melihat kawan-kawanmu yang sesungguhnya, inilah saatnya waktu yang paling jujur kau mengetahuinya”, kata Hang Kilau.

Ucapan sejuk Hang Kilau membangkitkan semangat Tora. Semakin hari, semakin banyak yang menggunakan jasanya. Marissa, istrinya dan anak-anak tak henti berdoa di sujud sunyi, agar Tora selamat di jalan dan murah rejeki. Banyak penumpang yang dikenalnya, ini membawa keberuntungan pula, mereka memberikan tip yang lumayan besar. Tabungan mulai terisi kembali. Dia tak melupakan shalat dan berinfak, membantu teman-temannya yang minim penumpang, walau sekedar membayar makanan di Warteg. Tak ada manusia yang beriman yang tidak diberi cobaan oleh Allah SWT. Satu ketika Tora memarkirkan mobilnya di luar pagar mesjid untuk menunaikan shalat Ashar. “Malang tak dapat diraih, mujur tak dapat ditolak”, Tora bicara pada dirinya sendiri. Siap Shalat, dia menuju ke mobilnya, Toyota Innova tahun terbaru berwarna silver lenyap. Lututnya lemas, pandangannya nanar. “Sirih naik junjungan patah”, Tora bergumam. Setelah pikirannya tenang, dia menghubungi Hang Kilau dan Mat Litak, mengabarkan kenderaannya hilang di depan rumah suci. Hang Kilau dan Mat Litak cepat bergerak. Mereka menguasai daerah-daerah penadah mobil di Jakarta. Tora pun kembali pulang ke rumahnya.

Seusai shalat Magrib, rumah Tora diketuk Hang Kilau, mengabarkan Mobil sudah di grasi. Tora seperti tak percaya, dengan ditemani Hang Kilau menuju grasi. Tora memeluk sahabatnya itu. Tak lama kemudian muncul Mat Litak membawa makanan malam.
Di meja makan sambil ngobrol ketiga sahabat itu bercanda. “Tora, pelakunya sudah penyok dihajar Hang Kilau, apa kau ingin menambahnya lagi. Tora tergelak, “sudahlah Mat”, kata Tora.
Ketika akan pamit dua sahabatnya itu, handphone Tora berdering. Dia tak mengenal nomornya, diangkatnya saja. Ternyata telepon dari Kepala Personalia Perusahan Minyak. Tora diterima sebagai Lawyer di Perusahaan tersebut. Hang Kilau dan Mat Litak tak diijinkan Tora pulang. Malam itu juga mereka ke Bandung, mengabari Marissa. Kepala Personalia itu memberi waktu tiga hari agar Tora segera melapor. Dan dia juga berpesan jika ada yang dikenal baik perangainya, berpostur tinggi, Perusahaan menbutuhkan dua orang tenaga SatPam. Hal itu ditawarkan Tora pada dua sahabatnya. Alhamdulillah Hang Kilau dan Mat Litak menyambut gembira.
“Busyet, pesawat Batik Air mendarat mulus di Bandara Kualanamu. Mimpi dalam amukan covid-19. Tora tersenyum. Hang Kilau dan Mat Litak sudah menunggu di ruangan kedatangan, menyambut Tora, Marissa dan anak-anaknya. (***).


Jkt, Juni 2020
Tsi taura