Cerpen Tiga Paragraf (Pentigraf) (39) ‘Perempuan Penjaja Lukisan”

oleh -857 views

MATAHARI baru saja terbit di belahan timur, berkabut, angin berembus dingin. Tora bersiap-siap hendak berangkat ke Jakarta dalam suasana Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Semakin hari yang terpapar covid-19 grafik tak melandai. Tiba-tiba pintu pagar terkuak, seorang lelaki mengaku bernama Abeng, teman Ahiyong yang kemarin singgah ke rumah Tora tapi tak sempat masuk karena bajunya basah dilantak hujan. Dia mengabarkan Ahiyong terkapar di rumah sakit Advent, Bandung karena ditikam perampok saat Ahiyong melawan. Dia membutuhkan transfusi darah golongan A+, golongan darah yang agak langka. Pihak rumah sakit sudah menghubungi beberapa tempat, stok darah tersebut Nihil. Abeng memohon bantuan Tora untuk mencarikan orang yang mau mendonorkan darahnya. Tora mengajak Abeng ke rumah sakit sambil berpikir siapa temannya yang bergolongan darah tersebut.

Abeng menyetir menyusuri jalan terusan Jakarta. Hujan turun dengan sangat lebat. Pohon-pohon tumbang dihantam angin yang deras. Suasana itu, membuka pikiran Tora. Dia teringat Rosa, perempuan penjaja lukisan di Braga. Tora pernah menolongnya.” Dia mencoba menghubungi Rosa lewat handphone. “Apes, handphonenya tak aktif”, Tora bergumam. Tora tak berputus asa. Dia seorang optimis dalam kesehariannya. Tak ada kata menyerah dalam hidupnya. Dia perintahkan Abeng menuju arah Cicendo, rumah Rosa. “Apes juga”, dia bicara pada dirinya sendiri. Rumah Rosa terkunci, tetangganya tak ada yang tahu ke mana dia pergi. Tora akhirnya mengirim WA, berharap handphone Rosa cepat aktif dan membaca pesan yang disampaikannya.

“Alhamdulillah”, Tora mendesis. Ketika mereka tiba di pelataran parkir, Rosa menghubunginya. Mereka saling bertanya kabar. Keduanya sehat-sehat. Ternyata Rosa bergolongan darah + dan bersedia membantu Tora. Rosa segera menuju tempat yang ditunjuk Tora. Transfusi berlangsung cepat. Seusai transfusi Tora mengajak Rosa makan di kantin. Rosa begitu lahap tak perduli Tora meledeknya. Usai makan mereka ke ruangan rawat inap Ahiyong untuk pamit. Abeng bergegas mengambil sebuah amplop tebal yang akan diberikan pada Rosa.
“Maaf bang, aku tidak menjual darah, semua ini kulakukan dengan ikhlas. Bang Tora ini banyak membantuku. Tak etislah kalau aku menerima amplop tersebut karena aku mendonorkan darahku. Setahuku tak seorangpun pendonor dibayar”, kata Rosa pada Abeng. Tora hanya meminta Abeng mengantar dia pulang bersama Rosa. Di toko buah, Abeng turun, memborong aneka buah dengan alasan mengembalikan stamina Rosa. Tora memberi isyarat jangan menolak. Rosa mengangguk.
“Betullah kata emak dulu, ada ubi ada talas, ada budi ada balas”, Rosa bicara pada dirinya sendiri.
Tiba di rumah Rosa, hujanpun sidang. Abeng dan Tora meninggalkan rumah Rosa, dengan kepuasan batin yang tak terukur. Rosa membalas lambaian Tora dengan melempar senyuman yang teduh. (***)

Tsi Taura
Bdg, Juni 2020