Cerpen Tiga Paragraf (Pentigraf) (37) ‘Pertemuan Di Kedai Kopi’

oleh -2.082 views

Pertemuan Harun dengan Ningrum di pasar kaget kota rambutan membawa titik terang bagi Ningrum. Di esok harinya Ningrum mencari keberadaan Harun. Dia yakin Harun masih di Binjai, kota rambutan itu. Ningrum berharap Harun belum pindah dari kampung Limau Sundai. Dugaannya meleset. Rumah kayu bertangga tempat tinggal Harun telah berganti gedung. Tak ada yang tahu dia pindah kemana. Ningrum tak berputus asa, dia bertanya pada keluarga Harun yang tersisa di kampung tersebut. Dia kecewa, mereka tutup mulut bercerita tentang Harun. Sore mulai luruh, udara sejuk tiupan angin baharok melintas raga. Ningrum memarkir mobilnya di depan kedai kopi jalan Sudirman. “Pertemuan apapun situasinya bukanlah suatu hal yang kebetulan. Setiap pertemuan tentu karena ijin Allah SWT”, Ningrum berbicara pada dirinya sendiri. Dia naik ke lantai atas kedai kopi tersebut. Jantungnya berdegup, Harun bersama seorang perempuan cantik, rambut sebahu, minum di sudut dinding. Hatinya ragu untuk menyapa Harun, takut mengganggu kemesraan mereka.
Dia memilih duduk di belakang meja Harun, menunggu saat yang tepat untuk bergabung semeja dengan mereka.

Test DNA yang diniatkan Harun pada Ningsih, perempuan yang diselamatkannya di perkebunan tembakau jadi juga dilakukannya. Test DNA menunjukkan bukti, Ningsih darah dagingnya. Mereka lalu ke Bandung bersama ibu angkat Ningsih. Mereka pun menetap di sana. Sebelum larangan mudik diberlakukan sebagai upaya pemutus mata rantai penyebaran Covid-19, Harun membawa Ningsih ke Binjai, ziarah makam ayahnya seminggu sebelum ramadan. Lamunan Harun terhenti ketika Ningrum berdiri di sampingnya. “Boleh aku gabung”, tanya Ningrum. Harun memandang Ningsih, seakan meminta persetujuan. Ningsih mengangguk. Ningrum duduk berdampingan dengan Ningrum. Ningrum bergumam, “perempuan ini mirip denganku.”
Harun mengenalkan Ningsih sebagai mutiara hatinya pada Ningrum. Mereka berpelukan erat. Ningrum seakan tak ingin melepaskan pelukannya. Bibir Ningrum terasa terkunci, keringat di keningnya menetes ke gaunnya. Harun membaca gestur tubuh Ningrum. Dia tersenyum kecut.

“Aku sangat berbahagia malam ini. Melihat kebahagiaan yang terpancar di mukamu, Run. Tidak sepertiku, gumpalan duka kehilangan bayi yang kubuang di sebuah rumah. Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna. Entah siapa yang menyelamatkannya”, kata Ningrum bercucur air mata. Harun membisu, tak mau lagi mendengar masa lalu yang getir.
Ningrum pamit dan berharap Harun bersedia bertemu kembali.
Harun menutur, “Tuhanlah yang membolak-balik hati manusia. Silaturahim itu memanjangkan usia.”
Ningrum menuruni anak tangga kedai kopi itu. Kembali menata reruntuhan rumah cinta masa lalu. “Tak ada gunanya air mata kucurahkan untuk menghancur kebahagiaan seseorang”, Ningrum bergumam menembus malam sunyi.

Bdg, 170520
Tsi Taura