Cerpen Tiga Paragraf (Pentigraf) (36) ‘Tangis Di Rumah Suci’

oleh -1.425 views

Matahari masih berselubung kabut. Jalan menuju Bandara Soekarno Hatta masih sepi. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sebagai salah satu cara pemutus mata rantai penyebaran Covid-19 baru beberapa hari diberlakukan. Farouk Rimba berencana menemui Kemala pemilik panti asuhan di tempat kelahirannya. 17 tahun yang lalu dia pernah menitipkan seorang bayi perempuan yang ditemukannya di teras mesjid. Tiba di kampung halaman Farouk Rimba dirundung malang. Kemala baru seminggu yang lalu meninggal dunia terserang Covid-19. Dia sempatkan ziarah ke makam Kemala. Seusai Ziarah dia pergi ke mesjid untuk shalat ashar. Ingatannya menjalar ke masa lalu. Di mesjid itu dia menemukan seorang bayi yang masih merah, menangis panjang memilu sukma. Lewat tengah malam bayi itu dia titipkan pada Kemala. Kemala pernah menjadi kekasihnya tapi jodoh tak membawa mereka ke pelaminan.
“Kemala, mungkin ini jalan terbaik buat kita. Aku tak ingin kau menjadi anak durhaka”, kata Farouk. Lamunannya terputus, azan magrib berkumandang.

Seusai shalat magrib, Farouk bergegas keluar. Dia telah ditunggu ibunya makan malam. Ketika dia hendak melangkah ke mobil, langkahnya terhenti. Seorang perempuan hendak memasuki mesjid. Mereka beradu pandang. Perempuan itu tersenyum dan melangkah ke dalam mesjid. “Rasanya aku pernah jumpa perempuan itu tapi di mana ya?”, Farouk bergumam. Dia menelpon ibunya memohon maaf tak bisa makan malam bersama, ada urusan mendadak yang harus diselesaikannya. Ibunya maklum.
Farouk menunggu perempuan itu keluar dari mesjid. “Jika berkenan bisa ketemu di resto TipTop Kesawan?”, Farouk menawarkan untuk ngobrol. Perempuan itu mengangguk. Masing-masing berkenderaan mobil menuju tempat yang ditawarkan Farouk. Sepanjang jalan perempuan itu tertanya-tanya, siapa lelaki lelaki tersebut? Apa yang hendak dikatakannya padaku? Tahukah dia siapa aku?.

Di resto Tiptop, Farouk membuka pembicaraan setelah mereka saling mengenalkan diri.
“Lidya, masih bekerja di travel udara di blok M?” Lidya terkejut, kenapa Farouk tahu dia bekerja di travel blok M. Dia mengangguk sambil matanya menatap tajam Farouk. Lidya mengaku 17 tahun yang lalu dia meletakkan bayi perempuan diteras mesjid tadi. Tapi Lidya membantah dia adalah ibu si bayi. Bayi itu dia temukan di depan rumahnya. Lalu dipungut tetapi suaminya tak setuju. Hubungan mereka lagi rumit saat itu. Dengan terpaksa bayi tersebut diletakkannya di depan mesjid. Kini Lidya merasa bersalah, mestinya dia titipkan ke panti asuhan.
Farouk tertunduk, meleleh air matanya.
“Aku akan mencari ibu dari bayi itu. Ibu dari Zahra Sofia”, Farouk bicara pada dirinya sendiri.
Lamunannya tersentak ketika Lidya mengajak bubar.
Farouk mengangguk. Saat akan berpisah Farouk berkata, “aku siap membantumu mencari si bayi dan bantu aku mencari ibunya. Kita turut bermain di dalam takdir ini, sudah saatnya kita hentikan.”
Lidya mengangguk pelan dan hilang dalam senyapnya malam di atas kota Medan.

Bdg, 160520
Tsi taura