Cerpen Tiga Paragraf (Pentigraf) (29) ‘Seribu Retak Tangan’

oleh -1.104 views
tsi taura

Sebelum larangan mudik salah satu cara memutus mata rantai penyebaran virus covid-19, Tina putri melayu yang merantau ke Jakarta menyempatkan diri pulang kampung. Ziarah ke makam tak bernisan. Ibunya memberitahu ayahnya dimakamkan di Kampung Hulu. Ayah Tina meninggal dunia ketika usianya dua bulan. Tina menyasar makam kampung hulu yang diceritakan ibunya, bahkan semua makam yang ada di kampung hulu, Tina tak menemukan makam Zulfikar, ayahnya itu. Belasan tahun dia mencari makam ayahnya, tak ada titik terang. Tina tak berputus asa, setiap pulang dari rantau dia tetap mencari tahu makam ayahnya. Seorang teman ayahnya, Rudolf menceritakan pernah melihat Zulfikar di Pelabuhan Belawan, 10 tahun yang lalu.

Mudik kali ini tanpa sengaja Tina menemukan buku harian ibunya di sudut pintu kamar, yang penuh tumpukan buku-buku agama milik ibunya. Tina membaca lembaran buku harian yang sudah kumal, penuh debu. Dari situ dia tahu ada rahasia yang ditutupi sang ibu padanya. Ayahnya tidak meninggal dunia saat usia Tuti dua bulan. Zulfikar menghilang tak mengakui Tina darah dagingnya. Zulfikar seorang pelaut, tiga hari setelah menikahi ibunya, Zulfikar berlayar ke luar negeri. Ketika usia Tina dua bulan, Zulfikar kembali. Dia kaget, istrinya menyusui bayi. Zulfikar panik, emosinya meluap, esoknya dia menghilang hingga kini.

Maimunah, ibu Tina bersumpah, Tina adalah kandung Zulfikar. “Nak, rahasia kehidupan itu seperti seribu retak di tangan, tak terbaca oleh ahli nujum sekalipun. Sang ibulah yang paling tahu siapa ayah anak yang dikandungnya”, kata Ibu Tina meyakinkan putri tunggalnya itu. Tina terdiam, dalam hati dia bertekad mencari tahu keberadaan ayahnya. Dia ahli komputer, satunya jalan yang dilakukannya membrowsing dunia maya. Terlacak, Zulfikar salah seorang penumpang pesawat Boeing 737-200 Mandala Airlines penerbangan R191 gagal takeoff dari Bandara Polonia Medan. Pesawat jatuh tak jauh dari area Bandara. Napas Tina terhenti sejenak. Dia kuatkan semangatnya, ternyata Zulfikar termasuk penumpang yang selamat. Tina menutup komputernya, melacak kembali keberadaan ayahnya. Ibunya melarang, dia tak peduli, “aku tak butuh pengakuannya, aku hanya ingin melihat wajahnya di usia senja”, Tina bergumam.

Bdg, 090520
Tsi taura