Cerpen Tiga Paragraf (Pentigraf) (26) ‘Surat Undangan’

oleh -1.126 views
tsi taura

Matahari belum begitu tinggi, tapi panas mulai menyengat. Dermaga pelabuhan kapal kayu antar pulau belum ada yang sandar. Angin mati arah, Tengku Tualang, duduk melamun di sebuah kedai kopi tak jauh dari dermaga. Dia mau ke Pulau Burung. Tiba-tiba dia dikejutkan Mira Delima, temannya puteri toke getah. Dia juga hendak ke pulau yang sama searah Tengku Tualang. Duduk berhadapan, memesan kopi susu. Dan seporsi lontong telor. Dia begitu lahap, seperti lapar berat. Tualang mengamati perempuan itu, gelisah, mukanya kusut, matanya liar namun aura kecantikannya tak pudar. “Ngapain ke pulau burung”, tanya Tualang. Dia kelihatan gugup, bibirnya digigitnya, seperti menahan sesuatu. Dia hendak menjumpai sahabatnya, seorang guru, di pulau burung. Firasat Tualang Mira berbohong. Kapal kayu mulai merapat, sejam kemudian berbalik arah menuju pulau burung. Angin bertiup kencang, ombak bergemuruh, kapal kayu itu terombang-ambing.

Kampung getah, tempat tinggal Mira Delima heboh. Datuk Hitam kehilangan putrinya yang akan menikah dengan saudagar muda tanah Pasundan. Surat undangan telah disebarkan, persiapan resepsi pernikahan telah rampung. Semua jago-jago kampung getah dikerahkan untuk mencari Mira. Dukun-dukun handal pun turun tangan, hasilnya gelap. Mereka meneror lelaki pacar Mira. Dipukuli babak-belur, Lukman sang lelaki malang itu tak mampu melakukan perlawanan. Datuk Hitam terkenal garang dan ganas. Lukman membantah tak tahu keberadaan Mira. Untuk menghindari teror kelompok Mira berikutnya, Lukman menghilang.

Tiga tahun kemudian, orang-orang kampung getah telah melupakan Mira. Datuk Hitam terserang stroke, hilang galaknya. Dia tetap mengharapkan Mira, anak satu-satunya pulang, tak memaksa menikah dengan pilihannya.
Covid-19 pun mulai menebar wabah, warga disuruh bekerja di rumah. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan. Sebelum larangan mudik diterapkan, tiba-tiba Mira pulang dengan menggendong seorang bayi, bersama Romi, lelaki yang menjadi suaminya, Pilot penerbangan swasta. Tiba di depan rumah, orang sudah ramai di halaman rumahnya, berpeci, berkerudung menyambut kedatangannya. Datuk Hitam yang sudah sembuh sakitnya, menyambut si anak hilang. Memeluk erat, air mata keduanya tak terbendung. “Sebuas-buas Harimau tak makan anak”, Mira bergumam. Kenduri syukuranpun dimulai dengan berjaga jarak.

Bandung, 060520
Tsi taura