Cerpen Tiga Paragraf (Pentigraf) (17) ‘Amanah’

oleh -769 views
tsi taura

Lelaki itu selalu mangkal di seputar Asia Afrika dan Braga, mencintai seni sejak Sekolah Menengah Pertama, terutama seni sastra. Beberapa antologi puisi telah menetas dari imajinasinya. Buku-buku tersebut dijualnya dengan harga seikhlas hati peminatnya. Ada saja yang membantunya untuk mencetak dan menerbitkan buku-buku itu. Namanya Tan Husein, konon itu nama raja kecil yang mendirikan kejuruan Baharok di Kabupaten Langkat. Untuk mengenang pendiri kejuruan(Raja Kecil) itu, ayahnya memberikan nama Tan Husein untuk putera keduanya.
Biasanya tiap bulan minimal dua kali dia pulang ke tanah kelahirannya, simpang keramat, Tanah Seribu kota madya Binjai. Tapi sejak covid-19 mewabah dia tak kelihatan lagi berkeliaran di kota Bandung dan tak pulang-pulang ke kampung halamannya. Dia memilih mematuhi ajakan pemerintah untuk tak keluar rumah.

Lewat Televisi hatinya tergerak untuk membantu tetangga, teman-teman seniman sekampungnya yang terdampak ekonominya karena ganasnya covid-19. Dia hubungi salah satu Ketua komunitas sastra untuk mendata siapa saja yang menjadi skala prioritas tahap pertama yang memerlukan uluran tangan dari komunitas yang dipimpinnya. Tercatat lebih kurang tiga puluh orang. Salah seorang penerima diinformasikan pada Tan Husein seorang mahasiswi, kuliah sambil bekerja di rumah makan kecil sebagai pencuci piring. Kuliahnya tersendat-sendat, rumah tangganya hancur. Terenyuh Tan Huseein mendengar informasi tersebut. Dia berniat membantu sepanjang amanah dijaga. “Katakan padanya ada seseorang yang ingin membantu perkuliahnya, dengan syarat benar-benar kuliah dan menjalankan ibadah”, kata Tan Husein pada dosen yang dekat dengannya.

Celaka tigabelas. Mahasiswi itu menghubungi Tan Husein menyatakan kemarin dia ke kampus, uang kuliah segera dibayar lewat transfer bank yang ditunjuk. “Janji adalah hutang”, Tan Husein membatin. Segera dia kirim dengan tulus. Esoknya si pemberi bantuan mengabarkan, Kampus tutup, uang kuliah dibayar habis lebaran. Dan mengabarkan pula, dia telah berhenti kerja di rumah makan tersebut karena kelebihan pegawai.
Tan Husein tersenyum getir, menyerapah lagi “seperti menolong anjing terjepit, lepas dari jepitan awak digonggongnya.”
Emosi Tan Husein nyaris pecah, sahabatnya Tora Idris menyabarinya dengan kalimat:”Belum teruji kesabaran seseorang jika dalam hidupnya dia belum pernah ditipu oleh orang yang dipercayainya.”
Tan Husein mengangguk, mereka berpelukan dan tertawa di pinggir selokan yang kering.

Bdg, 260420
Tsi taura