Cerpen Tiga Paragraf (Pentigraf) (12) ‘Merahnya Secangkir Kopi Malam’

oleh -661 views

Oleh. tsi taura

Malam cerah, bulan tersenyum di atas pohon mahoni, angin bertiup lembut, Mira diajak keluar malam bersama suaminya, napi yang baru dibebaskan akibat dampak Covid-19, melalui proses asimilasi dan integrasi. Mira, untuk menopang ekonomi yang kritis selama suaminya mendekam di penjara, menjadi penyanyi dadakan, di pesta-pesta perkawinan dan ulang tahun. Berwajah ayu, rambut modis, bersuara lumayan buat ukuran kota kelahirannya. Semula dia menolak ajakan suaminya tersebut, penolakan itu membuat suaminya emosi. Mira mengalah padahal dia kurang sehat diserang flu. Dia kuatkan semangatnya.

Mereka memasuki rumah mewah yang sunyi, sipenghuni menghidang kopi panas. Saat itu si suami permisi keluar dengan alasan membeli rokok. Kopi sudah habis diteguk Mira, tapi suaminya tak muncul juga. Kepalanya terasa pusing dan ia merasakan rangsangan yang luar biasa. Dia masih mampu bertahan ketika si penghuni rumah, lelaki berusia sekitar lima puluhan membopongnya ke satu ruangan. Kekuatannya masih tersisa, ada beberapa botol kosong di atas meja makan diraihnya, dihantamkannya ke kepala lelaki itu, dia terus menghantam kepala lelaki teman suami itu dengan botol-botol yang lain, hingga berlumuran darah, terkulai di lantai.
Mira berlari dari pintu depan, memanjat pagar yang terkunci. Dengan sekuat tenaga yang tersisa, dia menembus jalan raya yang sunyi. Dia nyaris kehilangan tenaga, saat sebuah mobil sedan mendekatinya, pengemudi seorang perempuan membuka kaca mobilnya. Dia menyeru agar Mira masuk ke mobilnya. Dengan terhuyung, Mira melangkah memenuhi saran pengemudi mobil. Perempuan itu, Kemala, psikolog ternama. Dia melajukan mobilnya ke arah rumah sakit swasta di daerah Ciampelas, ibunya diopname karena serangan jantung. “Neng, di sini dulu sebentar, jangan keluar dari mobil, tunggu saya datang. Mira mengangguk lemah. Saat Kemala hilang dari pandangan, sebuah ambulans meraung memasuki halaman depan rumah sakit. Mira kaget, dia melihat suaminya keluar dari mobil tersebut. Dia berjongkok menyembunyikan diri.

Rumah Sakit itu telah sepi, SatPam pun tertidur pulas di pos penjagaan. Kios-kios di depan rumah sakit sudah tutup. Sunyi, seperti kuburan tak berjuru-kunci. Tak sampai sepuluh menit, Kemala selesai membezoek ibunya yang sudah tertidur, kondisinya membaik. Mobilnya bergerak ke arah Bandung Barat, sebelum tiba di tol Purbaleunyi, Kemala menawarkan rehat dulu di rumahnya. Mira seperti kerbau dicucuk hidung, dia menyerahkan nasibnya pada psikiater itu. Sebelum Kemala bertanya tentang kejadian yang menimpa Mira, dalam perjalanan ke perumahan Padalarang, Mira mencurahkan kejadian yang dialaminya pada Kemala, dia yakin, suaminya menjual kehormatannya. Kemala mengamati gesturnya, tak terbersit sedikitpun kebohongan.
Dan di ujung kalimatnya dia berkata, “aku menentukan pikiranku tapi ditentukan oleh orang lain.” (***)

Bdg, 210420
Tsi taura