Cerpen Mini (Cermin) ‘Putri Warisan Tanah Melayu (3)’

oleh -3.150 views

MENJELANG tengah malam di pinggiran makam alm Tengku Ulung Alas sangat terasa suasana mistis. Aroma setanggi menyucuk hidung. Udara begitu sejuk, desiran angin menyelusup raga Tora, Tualang dan Panglima Hitam. Suasana mencekam diserak suara burung gagak hitam. Dari kejauhan singgah suara senandung menyayat kalbu. Konon itu suara bunian di tengah hutan.
Bagi yang tak biasa mendengarnya akan lari tunggang langgang, menjauhkan telinga.

Panglima Hitam mengajak Tora dan Tualang meninggalkan pusara alm Ulung Alas menuju rumah almarhum. Rumah itu bercahaya seperti segerombolan kunang-kunang senja. Panglima Hitam membuka pintu rumah panggung itu. Cahaya lampu dinding mulai malap kehabisan minyak.

“Tualang, duduk di depan atok. Biar dibuang sebagian ilmu-mu.”
Tiba-tiba Tualang menjerit panjang. Tora terkejut. Di luar terdengar suara lolongan Anjing.
Tualang pingsan.
“Tora, tolong kau ambil segayung air di tempayan di sudut dapur itu.”
Tora dengan langkah cepat memenuhi permintaan Panglima Hitam.
Ia membaca mantra yang panjang lalu mengguyur wajah Tualang. Tualang siuman, tubuhnya lemas dan ia tertidur pulas hingga subuh tiba.

Saat Tualang tertidur, Panglima Hitam bercerita pada Tora. “Ilmunya banyak yang membelakangi kiblat. Syukurlah dia cepat bertaubat.”
“Tok, dia berguru hingga ke Siam dan Maghribi,”
“Tak semua ilmunya bisa atok buang, di antaranya ilmu Kijang putih. Ilmu berlari bagai kilat. Hanya ia dan Tengku Sita Maharani yang diturunkan Tengku Ulung Alas”, Panglima Hitam membuka rahasia.

“Hambe curiga malam hilangnya Tengku Sita, Tualang pun menghilang.”
“Buanglah kecurigaanmu itu. Ia tak ingin Sita celaka. Ia pemegang teguh amanah. Penjaga rahasia biar seribu peluru mengancamnya. Tora menyimak serius penuturan Panglima Hitam.

“Firasat hamba, Sita tak hilang, tok.”
“Tora, ada hal yang kita duga kebenarannya kuat, tapi tabu untuk diungkapkan. Biarlah waktu yang kelak menyingkapnya”, Panglima Hitam berpetuah.

Jelang tengah hari mereka meninggalkan rumah almarhum Ulung Alas. Tora ke Batavia, Tualang menetap di Limau Sundai. Panglima Hitam semakin renta dan ringkih (***)

Banten, 020920,

tsi taura.