Cerpen Mini (Cermin) (64) ‘Hati Si Putri Melayu’

oleh -1.523 views
tsi taura

HAMPIR setahun Mat Kilau bertugas di negeri seribu benteng, Ternate, selama itu pula, Mat Kilau tak mencecahkan kaki ke kampung halamannya. Sejak dia kembali ke Ternate setelah ayahnya meninggal dunia, dia tak bertemu Sonya. Telephone Sonya sekalipun tak diangkatnya. Istrinya khawatir karena tempat tugas suaminya bergejolak perang saudara. Kerusuhan tiba-tiba saja bisa meledak dan tak sedikit makan korban. Sonya menghubungi Tengku Tora memohon bantuan untuk mencari tahu keadaan suaminya.

“Ngulah lagi si Kilau ini, dia seperti kena guna-guna”, kata Tora pada Sonya.
“Kurasakan pun begitu bang karena saat dia mengantarku ke Polonia setahun yang lalu, dia begitu menyesal bersikap kurang baik padaku. Dia berdoa untuk keselamatanku di jalan, berharap kami membangun rumah tangga yang harmonis. Tapi sejak itu pula dia tak bisa dihubungi bang”, kata Sonya lewat telephone pada Tora.

Atok Mat Kilau, semakin membenci cucunya itu. Dia berharap Sonya tinggal bersama makcik Kilau, Umi Kalsum di rumah peninggalan ayah Kilau. Sonya menuruti anjuran Tengku Husein Petir. Dia merawat rumah itu seperti rumahnya sendiri. Rumah itu menjadi berseri, taman terawat rapi. Kembang-kembang bermekaran. Ruang perpustakaan ditata. Rumah itu cukup besar. Dan atas persetujuan Atok Kilau, aula besar di samping rumah induk dijadikan studio sastra. Dia membuat komunitas bernama “Alam Terkembang”, dia bekerja sama dengan Tengku Tora yang mempunyai hobby yang sama, “cinta sastra”. Dua minggu sekali mereka melakukan giat sastra berupa pembacaan puisi, cerpen dan monolog. Umi Kalsum sangat senang, rumah sunyi, kini sepi terhalau.

Kegigihan Tengku Tora dan Sonya memajukan sastra di kampungnya, nama komunitas mereka “Alam Terkembang” cepat dikenal orang hingga ke pulau Jawa bahkan negeri jiran. Sonya sering diundang komunitas lain yang ada di Sumatera Utara untuk membaca puisi, peluncuran buku dan diskusi sastra. Sonya juga ringan tangan membantu para seniman yang melakukan giat sastra. Menerbitkan buku-buku Antologi bersama, Puisi dan Cerpen dan antologi tunggal membuat nama Sonya berkibar. Dan Sonya piawai memasarkan karya-karya sastra yang mereka terbitkan.

Sonya dan Tora semakin bergairah menekuni dunia sastra. Bahagia sekali atok Mat Kilau dengan kegiatan tersebut. Dia bersama Datuk Panglima Hitam turut pula membaca puisi jika kegiatan dilakukan di kampungnya. Rupanya, dua sepuh itu sejak remaja sudah menekuni sastra, sastra tulis maupun lisan. Keduanya sangat mempesona bersenandung. Memukul gendang, berpiul (menggesek biola).

Penyair-penyair handal kota Medan cepat akrab dengan Sonya, penyair melayu yang jelita. Tora sebagai motor penggeraknya.
Kabar tentang giat sastra yang dilakukan Tora dan Sonya sampai juga ke telinga Mat Kilau. Tapi hatinya seperti tertutup pada Sonya.

Sonya tak memperdulikan Mat Kilau lagi, dia menganggap, Mat Kilau hanyalah masa lalu, aku hidup di masa kini”, itu yang selalu dilontarkannya jika ada yang bertanya tentang Mat Kilau.

Rumah yang didiami Sonya bersama makciknya Tora adalah milik atok Mat Kilau, bukan milik ayahnya, almarhum Tengku Tualang Gayo. “Rumah ini kuhibahkan padamu Sonya, besok kita ke Notaris”, kata atok Kilau suatu ketika.
Dengan tersenyum dan mengucapkan terima kasih, Sonya menanggapinya, “maaf tok, saya tak bisa menerima hal itu, sebaiknya serahkanlah pada makcik Umi Kalsum. Dia perempuan surga tok.”

Atok Kilau terpana, merenung, “kenapa aku melupakan Kalsum, ipar anakku, adik istri ayah Mat Kilau? Puluhan tahun ikut kakak iparnya? Membantu merawat Kilau, mengajari kilau pelajaran sekolah?”, atok Kilau bergumam.

Saat mereka bertiga berkumpul, Sonya, Umi Kalsum, tok kilau beramanah menyerahkan rumah itu pada Umi Kalsum. Dengan ucapan yang lembut penuh kesantunan, Umi Kalsum pun bersikap sama dengan Sonya, “Saya tak sanggup menerima amanah ayah, Kilaulah yang paling cocok menerimanya.

Mendengar ucapan Kalsum tersebut, spontan Tengku Husein Petir menjawab ketus, “daripada kuserahkan padanya lebih baik kubakar rumah ini. Dia itu kini bukan manusia tapi jembalang.”
Emosi Tengku Husein Petir seperti lalang kering dibakar di musim kemarau.
Dalam hatinya berkata, “aku buat saja surat hibah untuk Sonya.”

Umi Kalsum, perempuan cantik yang tak berjodoh. Kata atok Kilau, dia terkena guna-guna yang disebut “santau pelalau”, awak hendak, orang tak hendak, orang hendak, awak tak hendak. (***)

Medan, 040820
Tsi Taura