Cerpen Mini (Cermin) (63) ‘Pengantin Tak Berdermaga’

oleh -1.569 views
tsi taura

TUJUH hari kematian Tengku Tualang Gayo, Mat Kilau meninggalkan kampung leluhurnya, kembali ke Ternate menjalani tugas barunya. Situasi sudah aman dan terkendali. Sementara istrinya, Sonya sehari setelah pemakaman mertuanya kembali ke Jakarta, mengurus pemberhentiannya sebagai Pramugari. Dia ingin menjadi ibu rumah tangga yang murni.

Tak ada malam pengantin saat itu, Mat Kilau ingin bercakap-cakap bersama Datuk Panglima Hitam dan Tengku Husein Petir, atok Mat Kilau.
Semula yang berbincang di ruang tamu hanya Datuk Panglima Hitam dengan Tengku Husein Petir. Hampir tengah malam, Mat Kilau pulang dari rumah Tora, langsung nyelonong nimbrung gabung dengan lelaki sepuh yang sangat menyayanginya sejak dia masih kanak-kanak.

Kedua sepuh itu menyuruh Mat Kilau istirahat, “temui istrimu, tadi dia bilang besok pagi-pagi ke Jakarta. Mungkin ada yang hendak dibicarakannya padamu”, kata atoknya Tengku Husein Petir.
“Untuk saat ini saya tak ingin mendengar apapun darinya”, tok.
Datok Panglima Hitam turut bicara, “Kilau, pernahkah kau mengalami kekecewaan terhadap seseorang yang menolak keinginanmu yang luhur.”
Mat Kilau hanya tersenyum, seakan tak mendengar ucapan kedua sepuhnya itu.

Bayangan Sri Kumala tak terhalau, seakan wajah itu menunjukkan kesedihan yang dalam. Seakan tak merestui Mat Kilau menikah dengan Sonya. Jiwa Mat Kilau terguncang, tiba-tiba dia berteriak memanggil nama Sri Kumala. Datuk Panglima Hitam menyembur dengan air putih ke muka Mat Kilau. Dia tersadar, matanya merah memandang tajam Sonya yang ada di sampingnya. Sonya tertunduk, Mat Kilau bangkit dan duduk berhadapan dengan istrinya. Sonya tertunduk kikuk. “Aku tak ingin melihat kau di sini, pergi kau !!!”, bentak Mat Kilau.

Tengku Husein Petir marah, “Kilau, kau jangan kasar begitu, kau dididik dengan kelembutan bukan dengan cara begini. Coba kau bayangkan kalau ibumu mengalami apa yang dialami Sonya, bagaimana perasaanmu !!! Istigfar kau !!!”. Terkejut Mat Kilau, itulah marah pertama Tengku Husein Petir pada dirinya. Suara atoknya itu menggelegar seperti petir menghantam pohon kelapa. Seisi rumah terbangun. Datok Panglima Hitam segera menyambar Sonya, melindunginya.
Mat Kilau memeluk atoknya. Si atok menepis tubuh Mat Kilau. Dia paling tak suka melihat lelaki berbuat kasar pada perempuan. Dia bangkit, keluar dari rumah hilang dari kegelapan malam.

Sonya dibopong Datuk Panglima Hitam ke rumahnya, tepian sungai berbukit. Teriakan Tengku Husein Petir memarahi Mat Kilau membuat Sonya pingsan. Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu meredam teriakan tersebut. Kata makcik Mat Kilau, Umi Kalsum yang juga handal ilmu kebatinannya, teriakan itu disebut sergah petir.
Hampir satu jam Datuk Panglima Hitam membaca mantra barulah Sonya sadar.

“Kenapa aku di sini tok?”, tanya Sonya.
“Ambillah wuduk, shalat tahajud ya, nak”, kata Datuk Panglima Hitam dengan penuh kasih sayang.
“Kemana aku berwuduk, tok, ke sungai itukah? Aku takut tok”, kata Sonya. Datuk Hitam menunjuk ke arah dapur, “di tempayan itu ada air bersih, berwuduklah di situ.” Selesai berwuduk Datuk Hitam menyerahkan telekung peninggalan istrinya.

Umi Kalsum, membujuk ponakannya, “untuk mengobati kemarahan atokmu, pergi kau jemput Sonya di rumah Datuk Panglima Hitam. Sonya itu takdirmu, jangan kau permainkan takdir. Kau bisa patah atau jingkat. Pergilah nak sebelum semuanya terlambat.” Hati Mat Kilau melunak, dengan galau dia menembus malam. Dia khawatir telah terjadi sesuatu yang tak diharapkannya.

Hampir setengah jam Mat Kilau menelusuri jalan-jalan tikus, pinggiran sungai, semak belukar, baru dia tiba di rumah Datuk Panglima Hitam. Disambut dengan wajah dingin, Mat Kilau seperti pesakitan yang sedang menunggu putusan pengadil. “Kenapa kau kemari Kilau”, kata Datuk Panglima.
“Maafkan saya tok, ijinkan saya membawa Sonya.”
“Ini sudah larut malam, aku tak ijinkan. Sonya sudah tidur. Kau temani dia, di kamar tengah itu.” Datuk hitam berpetuah lagi, “sampan pun punya tangkahan untuk ditambat, konon lagi pengantin, dia harus punya dermaga. Kau renungkan itu Kilah!!!.
Besok kau antar dia ke Polonia.”

Mat Kilau tak membantah sepatahpun. Dia menuju kamar Sonya, membalut tubuh Sonya dengan jaketnya di atas katil tua.
Lalu dia berbaring di lantai papan. Matanya tak bisa terpicing, dia sangat takut atoknya marah berkepanjangan. Ditambah pula sikap dingin Datuk Panglima Hitam.
Dia baru tertidur menjelang subuh.

Bukan main terkejutnya Sonya saat dia terbangun melihat suaminya tertidur pulas di lantai. Cepat dia ke dapur menjerang air, membuat teh manis dan kopi. Setelah itu dia mendekati suaminya, “bang…bang, bangun shalat subuh, Sonya mau berangkat pagi ini.”
Mat Kilau terbangun, dipandangnya wajah Sonya, ibanya mengalir, dia segera pergi ke sungai mencebur, membersihkan diri.

Datuk Hitam turut mengantar Sonya ke Polonia. Bukan main senang hatinya, “cinta pengantin itu mulai bertunas”, dia bergumam.

Sebelum boarding, dengan kesadaran yang penuh, Mat Kilau memohon maaf pada Sonya atas kejadian malam itu.
Sonya hanya mengangguk, dia memahami guncangan jiwa suaminya.

“Berangkatlah, doaku bersamamu. Semoga kita bisa berbahagia dalam satu dermaga”, kata Mat Kilau sambil mencium pipi istrinya.
Berdesir darah Sonya menikmati ciuman pertama itu. Dia pun melangkah gontai menuju tangga pesawat. Membalik tubuh sekejap melambaikan tangannya. (***)

Binjai, 020820
Tsi Taura