Cerita Mini (Cermin) (69) ‘Angan Terhalang Takdir’

oleh -1.160 views

SEORANG lelaki dan perempuan berlari-lari kecil menuju gate 5 Bandara Soekarno Hatta. Pesawat telah boarding, mereka telat dihadang macat di pintu tol menuju Bandara. Mereka tak saling mengenal, hanya tujuan sama, Bandara Kualanamu. Napas terengah-engah, tiba juga mereka di pintu masuk pesawat. Perjalanan hidup itu gumpalan kebetulan-kebetulan. Begitu pula yang dialami dua anak manusia tersebut , sheat mereka berdampingan di bisnis kelas pesawat garuda. Lelaki itu di dekat jendela, siperempuan di lorong jalan. AC pesawat mengeringkan peluh mereka yang masih tersisa diburu waktu.

Lelaki itu seperti dilanda gelisah, siperempuan melirik ke kiri, memperhatikan gestur penumpang di sampingnya, “wah, dia sepertinya stres berat”, siperempuan bergumam. Dia mengeluarksn dari dalam tasnya sebuah buku berjudul “menuliskan isi hati bisa mengatasi stress”, dan diserahkanya pada lelaki itu, “semoga buku ini bermanfaat, bang”, katanya. Si lelaki kaget, menebak siapa perempuan ini, “psikolog kah?”. Dia terima buku itu dengan ucapan terima kasih.

Pesawat bergerak mundur dan pelan-pelan menuju landasan pacu. Dan melesat cepat ke udara membelah kabut putih yang mengumpal.
Lelaki itu tak membalik selembar halaman pun buku mengatasi stress tersebut. Dia simpan dalam tas sandangnya.

“Oh, ya kita belum kenalan”, kata lelaki itu menjulurkan tangannya mengarah ke raga wanita tersebut. Perempuan itu membalas sambil melempar senyum penuh pesona.
Silelaki mengenalkan dirinya, “Raka Perdana”, dan siperempuan mengenalkan dirinya pula, “Ningrum.” Mereka bertatapan, mengalir rasa dan getar jiwa.
Dialog-dialog kecil pun mengalir, mereka bertujuan sama, mengunjungi orang tua yang sudah sepuh dan ringkih di kampung yang rimbun pohon-pohon tua, di pinggiran sungai, di pedalaman kota rambutan, Binjai.

Dua sejoli itu pulang dengan konflik pribadi yang tajam. Ningrum mampu menutupi luka hatinya. Raka hadir apa adanya, menabur butiran kekecewaan pada sunyi angan yang kandas.
Waktu begitu terasa singkat bagi dua sejoli itu, dialog di udara. Mereka turun bareng dari tangga pesawat, cepat mereka beradaptasi, tak seperti orang asing dalam kereta senja yang jauh.

Raka dijemput driver ayahnya, Umbul Buras. Ningrum bermaksud memesan taksi online. Raka mebawarkan pulang bareng bersamanya. Dengan malu-malu kucing, Ningrum mengangguk, memancar senyum menggetarkan jiwa Raka. Mereka duduk di jok belakang. Keduanya hanyut dalam khayalan yang rujam. Dan lagu perantau-nya Panbers, vocal Benny Panjaitan semakin membawa mereka mengembara asmara. (***)

Binjai, 120720
Tsi Taura