Cerita Mini (Cermin), (14) ‘Eksekutor Dari Tanah Melayu’

oleh -2.700 views

TIRTA Utomo suatu malam mengajak atasannya Tora makan malam. Ajakan tersebut dengan senang hati disetujui Tora, seperti orang mengantuk disorongkan bantal.

Mereka menuju kuliner yang berlokasi di Jalan Potong Lembu. Tempat itu dikenal dengan sebutan “akau”. Tempat makan beratap langit, gerimis kalang-kabut. Makanan full seafood. Pengunjungnya ramai terutama rekan-rekan bermata sipit, berbahasa melayu, tak kedengaran “cingcong-cingcong.” Beda dengan di Medan, orang melayu bangga berbahasa mandarin.

Mereka mengambil posisi di sudut dinding dengan jalan yang tak beraspal.
Cahaya bulan turun di jalan yang berlubang-lubang. Dan ketika Tora dan stafnya asyik melahap menu yang terhidang, Tirta Utomo menyapa seorang perempuan yang matanya mencari-cari meja kosong.
“Hey, mari sini gabung”, kata Tirta Utomo.
“Boleh gabung nich”, perempuan tersebut merespon sapaan Tirta Utomo.

Tanpa seijin Tora, Tirta Utomo berkata, “ayo duduk di dekat saya. Mau makan apa?”
“Sama sajalah dengan yang terhidang ini”, kata perempuan itu dan meminta sebuah piring pada pelayan Akau.

“Maaf pak, mbak ini dari RRI”, kata Tirta Utomo memperkenalkan wanita yang duduk di sampingnya pada Tora.
Dengan senyum tipis, Tora berkata, “saya kenal adik ini, Nartikan?”
Tirta Utomo dan stafnya Sulis kaget, dalam hati seakan mereka bertanya sama, “kapan kenalnya, kenal di mana?”

Mereka saling berpandangan. Tora tergelak, “berapa luaslah kota Tanjung Pinang ini?”‘, kata Tora membungkam keheranan stafnya dan angksawati itu. Mereka pun tergelak ramai.
“Tirta, apa dinda ini juga agen rahasia seperti Halim Fauzan, si Taliban tengik itu?”, kata Tora setengah berbisik, setengah bergurau.

“Dijamin 100 persen tidak pak”, kata Tirta. Narti tersenyum kecut dan memandang tajam ke arah Tora.
Matanya itu, lesung pipitnya, leher yang jenjang, rambut yang diikat membuat Tora tertegun.

“Narti, Nadya Akira di mana sekarang?”, tanya Tora dengan suara lembut, seakan sedang menggali ingatan Narti padanya. Seperti Narti lupa pada Tora yang belasan tahun tak ketemu.
Pada pertanyaan tersebut naluri pemahaman privacy Narti dan Tora terbaca Tirta Halim. Ia mengajak Sulis pura-pura membeli rokok, untuk memberikan kesempatan pada Tora dan Narti menikmati kenangan masa lalu mereka.

“Nadya Akira yang mana bang?”, tanya Narti mulai curiga bahwa Tora banyak tahu tentang dirinya.
“Jangan-jangan ini bang Tora seniman jalanan itu saat ia bertemu pertama kali dengannya.
“Tora mantan kekasih kakaknya”, Narti bergumam.

“Nadya Akira, si putri melayu, gadis manis anaknya datuk Hasan Hitam? Dindakan adiknya? Atau saya salah menduga?”, kata Tora.
Luar biasa kagetnya Narti. Ia mencoba membohong tapi hatinya berontak, jujur adalah sikap tak terpuji dari seseorang yang beriman”, kata Narti pada dirinya sendiri.

“Abang ini siapa ya?”, tanya Narti lagi untuk meyakinkan dugaannya bahwa lelaki berkumis tebal itu mantan pacar kakaknya.
“Sudah gaharu cendana pula dinda ini, lupa ya pertemuan kita pertama kali di tepian Danau Toba?.”

Mendengar penjelasan tersebut, Narti menatap sayu Tora. Dulu, ketika Narti pertama bertemu dengan Tora, tampilan Tora tidak seperti yang di lihatnya saat ini. Saat itu Tora berambut gondrong, tinggi kurus dan urakan. Wajar saja ia tak menandai lagi kini Tora hadir di hadapannya dengan tampilan beda, tampilan pejabat muda yang berwibawa.

“Koq melamun?”, Tora menyentakkan lamunan Narti mengimbah masa lalu yang telah lama terkubur.
Narti tersipu dan menutur, “Nadya di Bandung bang. Jadi dosen di sana”, kata Narti.
“Nadya sering kemari?”, tanya Tora.
“Sejak suaminya meninggal akibat kecelakaan di tol Cipularang, jarang dia kemari. Paling setahun sekali ziarah orang tua.

“Suami dinda kerja di mana”, tanya Tora.
“Semua tinggal kenangan pahit. Dia menikah lagi lalu kami bercerai.
Tora terharu pilu mendengar kisah hidup Narti dan Nindya.

“Seperti abang dan Nindya, ayahmu tak merestui hubungan kami karena saya waktu itu hanyalah seniman jalanan, yang kata ayahmu tak punya masa depan yang cerah. Pengkhayal butut.

“Ketika abang pergi, Nadya nyaris bunuh diri. Dia tetap mencintai abang, di dinding kamarnya penuh bergantungan sajak-sajak abang. Rapi berbingkai seni.

Oh, hidup, kumpulan kebetulan yang tak terhindarkan bila tiba waktunya.
Malam semakin menjulang, udara mulai sejuk menyucuk tulang dan angin laut bertiup kencang.
Dan mereka pun bubar dari Akau yang mencatat kenangan yang lalu. (***)

Binjai, 201020,

tsi taura.