Peluncuran Novel ‘Senja di Langit Ceko’ Yang Nasionalis dan Romantis

  • Whatsapp
Foto: Kirana Kejora dengan novel Senja di Langit Ceko. (ist)

Oleh Zulvia Farhana

Pada hari Selasa, 17 Mei 2016, penulis yang merupakan lulusan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Brawijaya, Kirana Kejora, sukses menggelar peluncuran dan bedah novel Senja di Langit Ceko. Didukung oleh Perpustakaan Nasional RI, Penerbit Dua Media, Pilar Artha Nugraha dan Mega Trans Jaya, Kirana mengajak para pembaca setia untuk memeriahkan acara.

Muat Lebih

Foto: Kirana Kejora dengan novel Senja di Langit Ceko. (ist)
Foto: Kirana Kejora dengan novel Senja di Langit Ceko. (ist)

Berbarengan dengan Hari Buku Nasional dan Hari Ulang Tahun Perpustakaan Nasional RI (PNRI), acara itu berlangsung di panggung utama Perpusnas Expo 2016. Dibuka dengan gesekan biola dari Denmayyoury yang memainkan lagu Canon Classic (Canon in D Mayor – Johann Pachelbel), lalu moderator, Liya WD, dan pembedah, Uki Bayu Sedjati, mengupas tuntas kepingan-kepingan penting dalam novel Senja di Langit Ceko.

“Novel yang memakan waktu 10 tahun untuk penyelesaiannya ini bernuansa nasionalis, romantis, drama humanis dan realis,” tutur Kirana ketika ditanya tentang novel ke-14 tersebut.

Kemudian beberapa pembaca setia yang disebut dengan Kejora, tampil mempersembahkan karya yang didedikasikan khusus untuk Kirana. Kejora Eidelweis yang terdiri dari Ega, Riri, Risma dan Khania membacakan puisi Senja di Langit Ceko. Kejora Gunadarma yang terdiri dari Eva dan Eka membacakan petikan novel. Kejora Elang yang terdiri dari Delisa Novarina, Jariyah E. Ramura, Lissyaa D Maryani dan Santi Tiany membacakan puisi berjudul Perempuan di Halaman Terakhir. Juga Ade Firman Hakim, seorang Aktor Indonesia dari Teater Koma, tampil membawakan monolog Bumi Saujana (salah satu tokoh utama dalam novel Senja di Langit Ceko).

“Penulis tanpa pembaca, ia bukan siapa-siapa,” ungkap Kirana yang dua novelnya telah sukses menjadi best seller nasional dan telah diangkat ke layar lebar, yaitu Air Mata Terakhir Bunda dan Ayah Menyayangi Tanpa Akhir. Baginya, pembaca adalah Kejora, bintang yang memberi pijar karya-karyanya selama ini.

“Novel ini menyuarakan luka anak bangsa yang tak pernah didengar, dilihat, dan dirasa para penguasa negeri, juga tak pernah diberi ruang untuk mengabdikan ilmu dan menyajikan karya di buminya sendiri.”

“Novel nasionalis, begitu lembut, yang dibungkus keromantisan Senja Rinjani, Bumi Saujana, dan Garuda Samudera. Novel cerdas, rasional, dan bikin terbawa perasaan. Bisa dinikmati kami, para remaja,” kata Delisa, salah satu pembaca setia karya Kirana Kejora.

Acara siang itu, menjadi kebahagiaan tersendiri bagi yang hadir. Kirana memberi ruang kepada para pembaca setia yang telah mengawal karya-karyanya selama ini untuk turut berperan mengisi acara dan menjadi saksi kelahiran novel yang ditulis berdasarkan kisah nyata tersebut. Senja di Langit Ceko, kini sudah edar di seluruh toko buku di Indonesia. (zulfa/gr)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *