Bambang Oeban ‘Seniman Non Parpol’

  • Whatsapp
Foto: Bambang Oeban dalam ekspresi. (ist)

Oleh. Bambang Oeban

GUBRAAAK! 
Otakku seakan mau meledak!
Sejak aku punya hak suara dalam pemilihan pemimpin, dari tingkat RT sampai PRESIDEN, aku tak pernah ikut PARPOL, bukan suka atau tak suka, tapi kuanggap sudah KODRAT TUHAN, sebab menghayal jadi pejabatpun, tak pernah singgah di otakku …


Ketambahan pula BAHASA SILET kakekku SALIKIN MARDI HARDJO sang politikus hebat, berjuang mati-matian buat Indonesia, mengecam perlakuan PENJAJAH BELANDA di Suriname, tandas ia berpesan, aku tak perlu terlibat PARPOL dan lebih PAS, dimantapkan saja sebagai SENIMAN PATRIOTIK, berkarya buat bangsa – agama dan negara, RELA JADI BABU TUHAN di bumi!
PARPOL menurutku, alat menuju kekuasaan atas manusia, mengatur wilayah, menata kehidupan untuk mencapai kemakmuran semesta …
Dan aku diberi kesempatan hidup di negara ini yang GEMA RIPAH LOH JINAWI – TATA TENTRAM KERTARAHAJA, dari masa PRESIDEN PERTAMA sampai PRESIDEN HARI INI, namun TANGIS MELARAT masih berpuluh juta jumlahnya …
Sejak 17 Agustus 1945 INDONESIA dinyatakan MERDEKA, seharusnya tak cuma merdeka dari tangan penjajah, tak juga merdeka berbuat suka-suka, merampas hak negara buat kepentingan rakyat. Memang, tak semua pemimpin buruk, sebagian terpidana atau terbebas, bisa leha-leha atasnama TEPO SELIRO dan dunia melihat, matinya disiksa penyakit betapa sengsara, bukti TUHAN TIDAK BUTA!
Apakah aku termasuk orang baik? Cuma Tuhan yang Maha Tahu, sebagai seniman tugasku melahirkan kata-kata, bersaksi sebagai MESIN KONTROL JAMAN, tanpa terikat oleh kepentingan kehendak kekuasaan, dan aku hanya berpihak pada KEBENARAN, pantang jadi ANTEK PEMBENARAN! 
Siapa yang paling berkuasa urusan tata kelola negara atasnama kepercayaan rakyat? Jelas PARPOL! Dari negara ini merdeka, seluruh instansi pemerintah ketitipan KAUM PARPOL, otomatis perekonomian menjadi ladang utama! Dan pada kenyataannya, berapa banyak KAUM PARPOL dari masa ke masa, jadi pecundang, menjadi biang kerugian negara, rakyat jadi tumbal sekarat? 
Kalau saja hakikat AMANAT RAKYAT tertancap hebat pada setiap jiwa para pemimpin, sudah tentu negeri yang kaya akan sumber daya alam, sejak lama terlepas dari RINTIH LUKA KEMISKINAN … 

Oh, negeriku …
sarat para pemimpin hebat,
sarat para ilmuwan mencuat,
sarat para perumus dahsyat,
sarat para pengusaha sehat,
sarat para politikus cermat,
sarat para ulama ma’ rifat,
aku berpikir semua demi 
kepentingan nasib rakyat?
Apakah cuma berpikir 
tanpa tindakan nyata?
Teori dan praktik kerap tak sama!
Membela rakyat dan kaum melarat,
hanya kata-kata, namun bila diberi kesempatan, jumpalitan lupa diri,
hidup dikuasai nafsu duniawi,
mumpung diberi hidup,
surga cuma di dunia,
sedang neraka buat 
nasibnya melarat

Siapapun pemimpin 
dan manusianya, semua 
berangkat dari rakyat!
Kapan negeri tercatat, 
tanpa rakyat melarat?
Untuk mencapai Keadilan Sosial 
Bagi Seluruh Rakyat, seharusnya telah memenuhi standart 
kelayakan, lengkap!
Kehidupan berbangsa dan bernegara
sudah diperketat UUD 1945, sanksi hukum bagi pelaku dalam segala kejahatan, bahkan PANCASILA menjadi DOKTRIN setiap hati segenap anak bangsa …
Apa yang membuat tidak lengkap dalam berbangsa membangun negara agar KEMAKMURAN LAHIR BATIN tercapai?
Bagaimana negara bisa terhormat dan bermartabat di alam jagad raya, apabila dalam menyikapi hidup, kehilangan KEHARMONIAN RASA WELAS ASIH-WELAS ASAH-WELAS ASUH! Yang timbul hanya soal memperjuangkan demi menyelamatkan hidup masing-masing, sibuk menumpuk kekayaan dengan jurus ASAL MAIN EMBAT, HALAL-HARAM-HANTAM! Tak peduli bejad di mata Tuhan, yang pentingharga diri melambung melampaui gunung! 
Lagi-lagi, 
apakah aku menyalahkan, 
ekonomi negara rusak 
oleh sebab PARPOL, 
tidak juga! 
Aku mesti bijak berpendapat …
PARPOL hanya sebuah nama 
lembaga swadaya masyarakat, 
dengan visi misi yang luar biasa, memajukan bangsa dan negara, 
semua serba bertujuan mulia
atasnama Tuhan Yang Esa …
Yang membuat rusak negara, 
MENTALITAS manusianya!
Secara FISIK negara MERDEKA
secara MENTAL, belum merata,
masih terdapat BANGSA tega
memakan BANGSA …

Tak ada kata lain kecuali
perjuangkan mati-matian
HARMONI BERBANGSA
HARMONI BERNEGARA
HARMONI PANCASILA
menjadi KEHARMONIAN
kehidupan di dunia 
dan akhirat …

Semoga sependapat 
dimulai dari hati kita 

SALAM MENTAL MERDEKA!

Bambang Oeban
Desa Singasari, Bogor
Kamis, 18 Juli 2019

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *